5 Tempat Ini Dipercaya Sebagai Pusat Pesugihan!

oleh Admin
11:10 AM on Nov 30, 2014

Semua orang pasti ingin menjadi sugih (Kaya), memiliki banyak uang agar semua kebutuhan hidup diri dan keluarganya tercukupi, baik sandang, pangan maupun papan. Demi mendapatkan itu semua, ada yang dengan bersungguh-sungguh bekerja dan berusaha. Ada yang cukup puas dengan seberapapun hasil yang didapat, namun ada pula yang masih selalu merasa kurang.

Nah, untuk yang selalu merasa kurang ini umumnya kemudian memilih jalan pintas. Ada yang memilih korupsi dan ada pula yang memilih menggunakan kekuatan mistis untuk mencapai tujuannya. Ternyata, di negara kita ada beberapa daerah yang konon terkenal sebagai tempat mencari pesugihan. Banyak peziarah yang datang dan bersedia melakukan ritual tertentu agar keinginannya tercapai. Inilah diantaranya:

Baca Juga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia

1. Gunung Kawi di Malang – Terkenal Sampai Asia Tenggara

Bisa dibilang, Gunung Kawi merupakan tempat yang paling terkenal untuk mencari pesugihan. Bukan hanya di Indonesia, namun sampai di Asia Tenggara. Konon, siapapun yang datang kesini dan mendapatkan berkah maka usahanya akan maju dengan pesat dan meraih keuntungan yang berlipat. Yang paling menarik adalah hampir tiap tahun pesarehan ini penuh sesak dengan peziarah.

Gunung Kawi
Gunung Kawi

Kebanyakkan mereka adalah orang-orang yang pernah datang kesini sebelumnya, dan kembali lagi karena telah mendapatkan ’pesugihan’. Agar pesugihannya tetap langgeng mereka harus datang lagi sesering mungkin. Begitu menginjak kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Ada dua makam yang dikeramatkan di tempat ini, yaitu makam RM Imam Soedjono (Mbah Sujo) dan makam Kanjeng Zakaria II (Mbah Jugo).

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para pezirah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Sementara di luar makam, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan, yaitu pohon dewandaru, pohon kesabaran.

Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Mereka harus menunggu selama berjam-jam, berhari-hari dan bahkan berbulan-bulan.

2. Gunung Kemukus – Ritualnya Sampai Disorot Media Australia

Gunung Kemukus terletak di kota Sragen, Jawa Tengah. Tempat mencari pesugihan ini sangat menarik karena ritual yang harus dilakukan di tempat ini sangat berbeda dengan tempat lain. Setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon.

Gunung Kemukus
Gunung Kemukus

 

Setelah itu mereka harus melakukan ritual seks dengan wanita bukan pasangan resmi mereka selama tujuh kali. Namun jika ingin membawa pasangan sendiri, juga diperbolehkan Pesta seks ini dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan pesugihan yang diinginkan. Salah satu syarat dalam berhubungan seks di tempat ini adalah dilakukan di tempat terbuka di wilayah Gunung Kemukus.

3. Parangtritis – Nyi Blorong Dipercaya Bisa Memberi Kekayaan

Parang Tritis dianggap sebagai pusat kerajaan siluman Laut Selatan. Ada 2 sosok gaib yang sering dimintai pesugihan, yaitu Nyai Blorong dan Kanjeng Ratu Kidul. Nyi Blorong adalah sosok siluman berkepala manusia namun berbadan ular raksasa. Konon, Nyi Blorong mampu mewujudkan permintaan manusia dengan jalan bersekutu dengannya. Yang harus dilakukan pertama kali adalah melakukan ritual ‘mbucal badan’ (berpuasa dan bersemedi) di wilayah pantai laut selatan selama 7 hari 7 malam.

Parangtritis
Parangtritis

Ritual selanjutnya adalah larung sesaji. Sesaji pokok yang harus dilarung, biasanya berupa dua sisir pisang raja temen, kinang ayu, sekar setaman, jajan pasar lengkap 7 rupa,buah-buahan 7 rupa dan menyan madu. Ritual larung sesaji ini tidak hanya dilakukan sekali, tapi harus dilaksanakan secara rutin setiap tahun pada tanggal dan waktu yang sama dengan ritual larungan yang pertama kali diadakan.

Selain ritual yang diatas, Nyi Blorong juga menerapkan syarat yang sangat berat bagi orang yang menjalin persekutuan gaib dengannya, yaitu berupa tumbal nyawa. Sedangkan Kanjeng Ratu Kidul konon tidak meminta tumbal nyawa. Namun hasil yang didapat dari Kanjeng Ratu Kidul tidak sebanyak yang diberikan Nyi Blorong.

4. Munding Seuri, Gunung Gede – Sampai Harus Mengorbankan Anak!

Di tempat ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Raden Surya Kencana, pendiri kota Cianjur yang beristrikan mahkluk halus. Tempat itulah yang disebut sebagai Padepokan Seuri yang menjadi tempat mencari pesugihan. Berbeda dengan di tempat lain, tumbal untuk pesugihan di tempat ini adalah anak. Si pencari pesugihan harus rela jika salah satu anaknya akan memiliki wajah cacat atau tidak normal.

Munding Seuri
Munding Seuri

Ritual di sini konon hanya bisa dilakukan saat bulan purnama. Ritual dimulai pada saat matahari terbenam, dengan cara bertelanjang bulat dan kemudian berendam di sebuah kubangan lumpur. Sebelumnya, mereka harus menaburkan kembang setaman dan kemenyan di Padepokan Seuri sebagai syarat sesaji. Setelah fajar tiba barulah ritual tersebut boleh dihentikan dan para lelaku bisa membersihkan diri dengan berguling-guling di rerumputan. Setelah selesai mereka kembali ke padepokan untuk menjalani ritual selanjutnya, yaitu memilih salah satu anak untuk ‘dikorbankan’ dengan menjadi cacat seumur hidup.

5. Gunung Bugel, Rembang – Akan Ada Gagak Pembawa Rejeki

Konon, ritual mencari pesugihan di tempat ini tidak meminta tumbal apa-apa. Hanya dibutuhkan pelaku pencari pesugihan untuk berjualan sate gagak hitam kepada para arwah gentayangan. Pada tengah malam yang telah ditentukan, burung gagak hitam yang hendak disate harus dibawa ke makam yang akan dijadikan lahan berdagang. Sesampainya di tempat yang dituju, baca doa-doa khusus untuk membuka alam gaib, sambil membakar kemenyan. Tunggu sampai gagak yang dibawa berkoak-koak.

Gunung Bugel
Gunung Bugel

Pada saat gagak berkoak, pertanda waktunya penyembelihan. Cabut bulu-bulu gagak hitam tersebut dan olesi dengan minyak Arrahman. Kemudian potong daging burung sesuai degan ukuran yang dikehendaki. Setelah itu bakarlah daging itu layaknya sate biasa.

Pada saat bersamaan, para pembeli sate akan berdatangan. Mereka adalah arwah gentayangan dengan wujud yang beraneka rupa dan sangat menyeramkan. Mereka berdatangan untuk merebut sate gagak yang dijual. Berapa pun harganya, mereka akan membeli sate yang dijual itu. Dan hasil penjualan itulah yang merupakan hasil laku pesugihannya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
error put content