Beberapa Hal yang Salah dalam Film-Film Investigasi Kriminal

oleh Tetalogi
08:00 AM on Jul 30, 2015

Film-film tentang investigasi tindakan kriminal semacam CSI, NCIS, dan sejenisnya sampai sekarang masih banyak diminati. Tapi jangan salah, meski film-film investigasi tersebut memberikan cerita dan investigasi yang mendetail dengan teknologi canggih serta mampu memecahkan kasus dalam waktu sebentar, ternyata memecahkan kasus kejahatan tidak semudah itu lho.

Kali ini boombastis mengajakmu melihat persepsi salah yang sering muncul saat melihat film-film tersebut. Jadi, lain kali ada berita kasus kejahatan yang lama tidak terpecahkan, kamu tidak buru-buru menghakimi para penegak hukum dan mempertanyakan apa saja kerjaanya. Karena mengungkap kasus kejahatan tidak semudah yang ada di film.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

1. Tes DNA Ternyata Butuh Waktu Tidak Sebentar

Memeriksa DNA tidak sebentar dan bahkan terkadang makan waktu lama. Mesin analisa DNA paling canggih di Amerika memang bisa menganalisa DNA dalam waktu 90 menit. Tapi tunggu dulu, dalam satu hari akan ada kemungkinan terjadinya lebih dari satu kasus, dan dalam satu kasus bisa jadi ada lebih dari 4 DNA untuk dianalisa. Artinya, mereka harus menunggu beberapa hari untuk bisa mendapatkan laporan hasil analisa DNA.

Ilustrasi DNA [Image Source]
Ilustrasi DNA [Image Source]
Bayangkan saja, misalnya terjadi pembunuhan dan detektif berhasil mendapatkan 10 sample DNA. Dia harus menunggu terlebih dulu sebelum bisa menganalisa sample DNA miliknya. Kemudian setelah tiba gilirannya dianalisa, ia masih harus menunggu lagi sampai analisanya selesai. Jadi, tidak seperti yang ada di film-film tersebut, menganalisa DNA tidak bisa dilakukan dalam waktu semalam saja setelah sample ditemukan.

2. Sidik Jari Sebenarnya Sulit Didapatkan

Mendapatkan sidik jari tidak semudah yang ada di film-film karena sebenarnya ada banyak cara sidik jari tersebut rusak dan tidak meninggalkan jejak. Untuk bisa meninggalkan sidik jari, jari-jarimu harus menyentuh suatu permukaan dengan merata dan tidak bergerak atau bergeser. Sama seperti saat kamu melakukan cap jari.

Mencari Sidik jari [Image Source]
Mencari Sidik jari [Image Source]
Nah, kemungkinan seperti ini sangat kecil kecuali seseorang memang sengaja meninggalkan sidik jarinya di sana. Belum lagi kemungkinan sidik jari yang ditemukan tidak sengaja tertindih oleh sidik jari orang lain atau atau terhapus dan tergores karena beberapa hal.

3. Darah Tidak Berpendar

Tidak seperti di film-film, bekas darah tidak berpendar kebiruan dalam sinar ultraviolet. Cairan tubuh seperti sperma, urin, air susu atau air liur memang berpendar jika terkena sinar ultraviolet, tapi darah justru akan terlihat sangat hitam seperti cairan aspal dan biasanya sulit dilihat.

Sinar UV [Image Source]
Sinar UV [Image Source]
Kamu bisa membuat darah berpendar biru terang, tapi menggunakan cairan luminol. Tapi ini juga bukan solusi yang sempurna, karena agar kamu bisa melihat cahaya birunya, ruangan tersebut harus sangat gelap. Selain itu, cahaya pendarannya juga hanya bertahan beberapa detik saja.

4. DNA Tidak Selalu Membantu Memecahkan Kasus Kejahatan

Ada banyak cara bagaimana DNA bisa tertinggal di suatu tempat. Misalnya saja, seorang perampok toko terekam mengambil minuman dalam lemari es. Nah, apakah DNA-nya tertinggal di gagang lemari es? Ya, bisa jadi. Tapi begitu juga DNA puluhan orang lain yang membuka lemari es tersebut. Jadi mendapatkan DNA di gagang lemari es tidak akan membantu memecahkan kasus.

Salah satu adegan di laboratorium CSI [Image Source]
Salah satu adegan di laboratorium CSI [Image Source]
Skenario lain yang sering muncul: pembunuhan seorang pria dengan tersangkanya adalah teman dekat dan istri korban. Detektif mencari DNA korban di kuku teman dekat dan istri korban karena siapa tahu terjadi perlawanan saat kejadian. DNA korban ditemukan di kuku si istri tapi tidak ada di kuku teman dekat. Apakah ini artinya si pembunuh adalah istrinya sendiri? Belum tentu, karena DNA tersebut tidak membuktikan apapun. DNA korban bisa saja tertinggal di kuku istrinya saat mereka berpelukan, istri menggaruk tubuh suami, atau hal lain karena kenyataannya mereka tinggal di tempat yang sama. Justru aneh kalau tidak ditemukan jejak DNA suami pada si istri.

5. Sidik Jari Tidak Selalu Berguna

Istilah ‘partial print’ jadi sangat sering disebutkan di film. ‘Partial print’ artinya kamu tidak bisa melihat keseluruhan sidik jari dan memang sidik jari seperti itulah yang sering ditemukan oleh detektif. Biasanya kalimat itu akan diikuti dengan kalimat ‘akan butuh waktu untuk menganalisanya’. Nah, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar.

Gambaran Sidik Jari [Image Source]
Gambaran Sidik Jari [Image Source]
Sebenarnya akan butuh waktu yang lebih sedikit untuk menganalisa sidik jari seperti ini karena ada garis yang lebih sedikit untuk dianalisa. Analis mencari fitur yang bisa diidentikasi dari sidik jari yang ditemukan kemudian mencari sidik jari dengan fitur yang sama persis dengan posisi yang sama persis. Tapi meski analis bisa menemukan semua fitur yang bisa mengidentifikasi, tetap saja sidik tersebut tidak bisa dianggap cocok dengan sidik tertentu kecuali ada banyak kecocokan yang bisa didapatkan. Jadi jika sidiknya kecil, maka fitur pengidentifikasi yang didapat juga kecil sehingga hal ini tidak akan banyak membantu.

6. Hasil Analisa Sering Kali Bukan Kesimpulan Akhir

Hasil analisa DNA dan sidik jari memang sangat unik sehingga bisa dikatakan analisis ini bisa menjadi kesimpulan akhir. Jika profil dan DNA cocok dengan profil DNA seseorang, maka kemungkinan besar ialah orang yang dicari. Jika sidik jari yang ditemukan juga cocok dengan profilnya, maka kesimpulan semakin kuat mengarah ke orang tersebut. Tapi, kebanyakan analisa biasanya tidak seperti ini.

Adegan analisa forensik film CSI [Image Source]
Adegan analisa forensik film CSI [Image Source]
Kebanyakan orang dengan warna rambut dan latar belakang etnis yang sama akan punya rambut yang sejenis. Jadi hanya karena ada rambut berwarna merah ditemukan di lokasi kejadian cocok dengan rambut seorang tersangka yang berambut merah, bukan berarti dia pelakunya. Bisa saja saudaranya yang juga berambut merah, atau teman korban yang berambut merah, atau orang lewat yang juga memiliki rambut merah. Ada banyak kemungkinannya.

Kain juga sama. Misalnya kamu menemukan serat kain berwarna biru yang ternyata sama dengan serat kain warna biru dari jaket tersangka, bukan berarti ia pelakunya. Ia bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang punya jaket dengan serat berwarna biru. Analisanya memang akan membantu kasus, tapi tidak bisa membuktikan tersangka tersebut adalah pelakunya.

7. Analis Forensik Bukan Figur yang Paling Berwenang

Di film-film investigasi semacam CSI, mereka membawa pistol kemana-mana, serta membawa borgol. Tapi sebenarnya hal ini juga tidak benar-benar akurat. Seorang investigator beda dengan polisi.

Ahli Forensik dengan pistol [Image Source]
Ahli Forensik dengan pistol [Image Source]
Ahli forensik tidak membawa senjata atau borgol, karena tugas mereka adalah menginvestigasi lokasi kejahatan. Mereka tidak memiliki wewenang untuk menangkap orang seperti yang sering ditunjukkan di televisi.

8. Ahli Forensik Bukanlah Seorang yang Serba Tahu

Kamu suka melihat film Dexter? Kamu tentu tahu dengan karakter Masuka, seorang analis DNA. Nah, tidak hanya murni menganalisa DNA, dia juga sering ditunjukkan memberikan masukan tentang penyebab kematian, analisa jejak, dan banyak hal lainnya.

Karakter Masuka di Film Dexter [Image Source]
Karakter Masuka di Film Dexter [Image Source]
Sebenarnya, kebanyakan ahli analisa hanya menjadi seorang ahli dalam satu bidang saja dan akan membutuhkan para ahli lain jika bertemu dengan sesuatu di luar kemampuannya. Bukan tidak mungkin seorang analis punya pengetahuan umum lainnya, tapi akan sangat sulit kamu bisa menemukan seseorang yang punya kualifikasi untuk bisa melakukan setiap bidang analisa yang ada.

9. Investigator Akan Banyak Menghabiskan Waktu di Kantor

Di film-film, para investigator sering terlihat ada di lokasi kejahatan, bersantai di bar, atau hal-hal yang keren. Kenyataanya, kegiatan investigasi tidak sesederhana itu. Semua hal yang dilakukan di lokasi kejadian harus didokumentasikan dengan detail dan rinci. Artinya, banyak kegiatan dokumentasi ini akan dilakukan di kantor, tidak di tempat lain.

Polisi mengerjakan tugas kantor [Image Source]
Polisi mengerjakan tugas kantor [Image Source]
Foto, diagram, kumpulan barang bukti, smua harus didokumentasikan dan dikumpulkan dalam CD atau media lain. Diagram harus digambar ulang dengan sebuah software agar lebih mudah dibaca. Kemudian investigator harus menulis laporan tentang semua hal yang ia lakukan di lokasi kejahatan. Satu jam di lokasi kejahatan bisa menjadi beberapa jam pekerjaan tertulis.

Nah, itu tadi beberapa persepsi salah yang sering muncul di film-film. Memang sih seru melihat aksi para penegak keadilan untuk menangkap penjahat. Tapi ingat, dalam kisah nyata menangkap penjahat seringkali tidak semudah itu dan bukan hal yang bisa dilakukan dalam waktu semalam saja.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA