5 Perbudakan Manusia Paling Kejam yang Pernah Terjadi di Indonesia

oleh Adi Nugroho
15:00 PM on Nov 11, 2015

Budak adalah isu yang sangat sensitif di era modern seperti sekarang. Namun di masa lalu budak adalah sebuah komoditas yang memiliki pasarnya sendiri. Bahkan manusia yang dijual pun dianggap sebuah benda mati. Kasus perbudakan paling banyak terjadi di Jazirah Arab, dan juga negara-negara di Afrika dan Amerika. Biasanya orang yang dijual sebagai budak adalah orang yang berasal dari ras kulit hitam, atau masyarakat di negara jajahan.

Baca Juga : 7 Kehebatan Soeharto Ini Pernah Membawa Indonesia Pada Masa Kejayaan

Baca Juga
Ternyata Beberapa Negara Ini Benderanya Terinspirasi Dari Majapahit Loh, Mana Saja Tuh
Bikin Emosi! Rombongan Pemuda Indonesia Ini Malah Sengaja Membentangkan Bendera Secara Terbalik

Anyway, praktik perbudakan yang mengerikan ini ternyata juga terjadi di Indonesia. Dari sejak zaman penjajahan Belanda, hingga merdeka dan berkembang sampai sekarang. Perbudakan di Indonesia masih merajalela dan sepertinya susah dihapuskan. Berikut lima perbudakan manusia paling kejam yang pernah terjadi di Indonesia.

1. Jual Beli Manusia Era Penjajahan Belanda

Jual beli manusia pada zaman penjajahan Belanda sudah menjadi hal biasa di tanah air. Saat abad ke-17 banyak sekali budak didatangkan dari Asia Selatan. Mereka biasanya dibawa menggunakan kapal barang selama berminggu-minggu. Di dalam kapal mereka tidak diberi makan hingga kadang sampai Indonesia akan mati lebih dari separuh.

Pengiriman budak di Indonesia akhirnya terhenti karena India tak lagi dikuasai oleh Belanda. Akhirnya mereka menggunakan penduduk lokal Indonesia sebagai barang dagangan. Budak-budak ini dijual kepada keluarga Belanda kaya di Indonesia dengan harga 90 real. Sebagai perbandingan, harga sepikul beras hanya 2 real. Artinya nyawa manusia hanya dihargai 45 pikul beras.

Jual Beli Manusia Era Penjajahan Belanda [image source]
Jual Beli Manusia Era Penjajahan Belanda [image source]
Perbudakan di Indonesia lambat laun kian maju hingga memunculkan pasar budak atau yang sering disebut dengan slavenquartiers. Budak dipandang sebagai barang berharga yang meningkatkan status sosial sebuah keluarga. Semakin banyak budak maka semakin dihormati pula keluarga Belanda yang memilikinya.

Selain untuk simbol kekayaan. Budak juga digunakan sebagai hadiah. Banyak keluarga Belanda memberikan budak ke petinggi Cina sebagai bagian dari persahabatan. Para budak bukan lagi dianggap manusia tapi sebuah barang yang bisa dilempar sana-sini. Bahkan dibakar hidup-hidup pun mereka tidak akan melawan.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA