7 Penulis Legendaris Dunia yang Mati Karena Bunuh Diri

oleh Adi Nugroho
15:00 PM on Oct 12, 2015

Salah satu penyebab seseorang melakukan bunuh diri adalah adanya tekanan pada dirinya. Entah itu berupa depresi, trauma, atau memang karena memiliki gangguan mental atau mental illness. Gangguan ini menyebabkan beberapa individu menjadi terus menderita. Ia tak tahan dengan hidupnya hingga kerap mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat keji. Menghabisi dirinya sendiri agar terbebas dari luka.

Di dunia ini, ternyata banyak sekali orang yang mengalami gangguan mental. Siapa saja, tak terkecuali seorang pelukis atau bahkan penulis. Disadari atau tidak sebenarnya kita memiliki penulis-penulis legendaris yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Meski meninggal dengan cara yang tak benar, karya mereka justru kian melegenda. Bahkan setelah puluhan tahun kemudian.

Baca Juga
Inilah 6 Bahaya Terselubung yang Jarang Disadari Para Pengguna Kuis Lucu di Facebook, Berhati-Hatilah!
Merasakan Sensasi Jaringan 4G Ngebut Ala Smartfren Lewat Serunya Acara #Amazingfren

Siapa sajakah penulis hebat yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak masuk akal itu? Mari kita simak sama-sama!

1. Ernest Hemingway (1899-1961)

Ernest Hemingway adalah sebuah legenda dalam dunia fiksi, dan jurnalis di dunia. Kepiawainnya dalam merangkai kata tak bisa diragukan lagi. Beberapa karya novelnya bahkan menyabet banyak sekali penghargaan. Seperti novel berjudul The Old Man and the Sea. Satu kelebihan Hemingway yang banyak ditiru orang adalah kesederhanaannya dalam menyampaikan makna dari sebuah cerita.

Ernest Hemingway (1899-1961) [image source]
Ernest Hemingway (1899-1961) [image source]
Pada tahun 1960, Mary, istri dari Hemingway membawanya ke klinik karena suaminya kerap mengurung diri. Ia mendapat beberapa terapi untuk menyembuhkan mentalnya. Namun apa yang dilakukan istrinya gagal. Pada tahun 1961, Hemingway menembakkan peluru ke tubuhnya. Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh Ayah, saudara perempuan, dan saudara laki-laki Hemingway. Seperti ada gen untuk melakukan bunuh diri.

2. Sylvia Plath (1932-1963)

Sylvia Plath adalah salah satu penulis yang namanya cukup diperhitungkan di dunia. Meski hanya menyelesaikan satu novel otobiografi sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya. Plath mengalami depresi sekitar tahun 1950 saat mulai masuk ke Smith College. Ia terus bertahan hingga pada tahun 1953, melakukan percobaan bunuh diri yang gagal. Pada tahun 1955 ia lulus secara cum laude dan mendapatkan beasiswa Fullbright.

Sylvia Plath (1932-1963) [image source]
Sylvia Plath (1932-1963) [image source]
Pada tahun 1963, saat Plath sudah memiliki anak, ia melakukan bunuh diri lagi. Ia memasukkan kepalanya ke dalam oven saat sang anak sedang tidur. Pengasuh anak menemukannya telah tiada beberapa saat kemudian saat membuka dapur.

3. Virgina Woolf (1882-1941)

Virginia Woolf terkenal dengan novel berjudul Mrs Dalloway, dan To the Lighthouse. Selain itu dia juga dikenal sangat pandai dengan esai, salah satu esai yang membuatnya semakin ternama berjudul A Room of One’s Own. Woolf mengalami serangan mental yang sangat akut ketika Ibunya meninggal di tahun 1895, setelah itu pada tahun 1904 sang ibu juga tiada.

Virgina Woolf (1882-1941) [image source]
Virgina Woolf (1882-1941) [image source]
Keadaan ini membuat Woolf mengalami bipolar disorder. Untuk mengatasi gangguan mentalnya, Woolf telah menyewa beberapa dokter untuk merawatnya. Ia bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke dalam sungai. Woolf berjalan menuju sungai Ouse dengan mengisikan batu ke kantong di tubuhnya. Dengan begitu dia akan langsung tenggelam.

4. Anne Sexton (1928-1974)

Anne Sexton adalah salah satu peraih penghargaan Putlizer Prize tahun 1967. Salah satu karyanya yang berjudul Live or Die benar-benar memukau banyak orang di dunia ini. Namun sayang, Sexton harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mengurung dirinya di dalam garasi hingga mengalami keracunan karbon monoksida dari kendaraan.

Anne Sexton (1928-1974) [image source]
Anne Sexton (1928-1974) [image source]
Sexton melakukan bunuh diri karena dirinya mengalami depresi yang cukup akut. Ia mendapatkan gangguan itu ketika melahirkan anaknya di tahun 1955. Setelah itu ia terus melakukan perawatan hingga memutuskan mengakhiri hidupnya.

5. Yukio Mishima (1925-1970)

Yukio Mishima adalah seorang yang sangat penting dalam dunia kepenulisan di Jepang. Pria yang lahir pada tahun 1925 ini mendapatkan nominasi Nobel Prize sebanyak 3 kali dalam hidupnya. Salah satu karya paling legendaris dari Yukio adalah The Sea of Fertility. Karya ini berjumlah 4 volume dan sampai saat ini belum ada yang mampu mengalahkannya.

Yukio Mishima (1925-1970) [image source]
Yukio Mishima (1925-1970) [image source]
Yukio mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dia melakukan seppuku di depan 1.000 orang yang mendengarkannya pidato. Yukio menusukkan pedang langsung ke dalam tubuhnya dan membuatnya langsung tak bernyawa.

6. Sarah Kane (1971-1999)

Sarah Kane adalah seorang yang sangat genius dalam menulis sebuah drama. Apa saja yang ia tulis selalu berhubungan dengan cinta, penyiksaan, seks, dan kematian. Keempat hal itu digabung menjadi satu hingga pertunjukannya kerap di-banned oleh beberapa panggung. Meski demikian, penggemar Sarah tak pernah sedikit.

Sarah Kane (1971-1999) [image source]
Sarah Kane (1971-1999) [image source]
Salah satu dram paling mengerikan yang pernah Sarah buat adalah tentang penganiayaan, mutilasi, hingga kanibalisme. Pada tahun 1999, karena tekanan yang berat pada dirinya, Sarah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia menelan 200 pil obat.

7. Hunter S. Thompson (1937-2005)

Hunter S. Thompson adalah seorang jurnalis yang memiliki obsesi besar. Itulah mengapa karyanya yang berjudul “Hell’s Angel: The Strange and Terrible of Outlaw Motorcycle Gangs” menjadi sangat fenomenal di kalangan jurnalis di negara barat.

Hunter S. Thompson (1937-2005) [image source]
Hunter S. Thompson (1937-2005) [image source]
Thompson dibesarkan di keluarga yang sangat miskin. Ia bahkan pernah mencuri dan dipenjara selama beberapa tahun. Terlepas dari penjara ia memutuskan masuk ke militer dan mulai menulis di sana. Gayung pun bersambut, karier menulisnya melesat dengan cepat meski harus dibarengi dengan depresi. Setelah bertahan selama bertahun-tahun, Thompson memutuskan untuk menembak dirinya sendiri.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari pada penulis hebat di atas. Hidup itu selalu susah entah kita mau jadi orang sehebat apa. Untuk itu kita harus menyayangi hidup kita sendiri, seberat apa pun itu. Karena hidup tak bisa digantikan oleh apa pun. Bahkan sebanyak uang yang ada di dunia ini.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
BERITA LAINNYA
BERITA PILIHAN
BERITA TERKAIT
BACA JUGA