Dulunya Jual Es Lilin dan Sahur Hanya Air Putih, Sekarang Pemuda Gorontalo Ini Jadi Pengusaha Properti Termuda

Siapa sangka si penjual es lilin bisa menjadi pengusaha dan mengajak ayahnya menonton piala dunia

oleh Faradina
12:00 PM on May 27, 2017

Memang tidak ada yang tahu bagaimana jalan nasib seseorang. Yang namanya takdir atau nasib memang sih konon sudah dituliskan oleh Tuhan, namun barang siapa mau berusaha tidak menutup kemungkinan kesuksesan akan mengikuti. Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah mengenai para pengusaha sukses yang ternyata mempunyai masa lalu cukup sulit. Dan orang yang seperti itu tidak hanya ada satu di Indonesia melainkan sudah banyak contohnya, termasuk salah satunya sosok Rahmat Latief Bialangi.

Nama Rahmat mungkin masih terdengar asing di telinga beberapa dari kalian. Namun bila kalian membahasnya dalam sebuah forum pengusaha properti, pria asal Gorontalo ini sudah sangat dikenal. Dan siapa sangka sang pengusaha properti muda ini dulunya melalui jalan hidup yang cukup sulit, bahkan mungkin lebih miris daripada versimu.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Berjualan kue dan es sejak kecil

Tidak ada kesuksesan yang bisa kita peroleh secara instan, kecuali bila kalian lahir di keluarga kaya tujuh turunan. Semua sukses tentu harus melewati perjalanan serta perjuangan cukup panjang. Rahmat Latief Bialangi, yang sekarang dikenal sebagai pengusaha saja sejak kecil sudah terbiasa keliling kampung untuk menjajakan es lilin dan juga kue. Bisa dilihat bahwa Rahmat kecil memang sudah bersahabat baik dengan yang namanya kerja keras. Tanpa malu atau ragu dia ikut membantu orang tua dengan cara berjualan.

Rahmat Latief [image source]
Sejak kecil, pria kelahiran tahun 1989 itu memang sudah menyadari bahwa orang tuanya tidak memiliki penghasilan yang banyak. Namun meski demikian orang tua Rahmat begitu semangat ingin melihat anak-anaknya menempuh pendidikan dan sukses. Meski demikian, saat Rahmat mengungkapkan keinginannya untuk berkuliah di Makassar sang ayah sangat menentang karena terbatasnya biaya. Ayah Rahmat khawatir kalau-kalau dia tidak dapat membiayai kuliah Rahmat hingga tamat. Selain itu ayah Rahmat juga khawatir jika adik-adiknya ingin sekolah tinggi di luar kota mengikuti jejak Rahmat. Namun entah ada angin apa kemudian ayah Rahmat mengijinkannya melanjutkan kuliah.

Kehidupan kuliah yang penuh keterbatasan

Lampu hijau dari sang ayah tentu tidak serta merta membuat sosok Rahmat lupa diri dan hidup bersenang-senang di kota besar. Si sulung dari empat bersaudara ini bercerita bahwa saat menjadi mahasiswa, dia hanya memiliki empat kemeja yang dikenakan bergantian untuk ke kampus. Rahmat juga tidak dibekali kendaraan untuk kuliah, dia harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju kampus dari rumah kosnya. Jauh berbeda dengan kebanyakan anak sekarang yang malah berlomba-lomba menjadi populer di kampusnya.

Kuliah dengan keterbatasan [image source]
Untuk menghemat biaya, tak jarang laki-laki ini merelakan tidak makan pagi. Satu momen yang paling tidak terlupakan bagi Rahmat adalah ketika Ramadan tiba di perantauan. Saat itu dia kehabisan uang dan belum ada kiriman dari orang tuanya di rumah. Jadi kala itu Rahmat hanya sahur dengan air putih. Namun Rahmat mengaku menjalani itu semua dengan hati yang ikhlas karena cita-citanya hanya satu yaitu untuk membanggakan kedua orang tuanya. Syukurlah di semester kedua Rahmat kemudian mendapat beasiswa dan memutuskan mencari kerja sambilan. Meski banyak kawan meragukannya, namun Rahmat bisa bergabung menjadi wartawan di media lokal ternama. Pekerjaan tersebut kemudian mengantarkan pria ini bertemu banyak sosok inspiratif di hidupnya.

Mencoba peruntungan membuka jasa biro perjalanan

Menyenangkan memang ketika bisa membagi waktu untuk kuliah sambil bekerja. Namun lagi-lagi Rahmat teringat pesan orang tua untuk mendahulukan urusan kuliah di atas yang lain. Luar biasanya Rahmat, dia bisa lulus dalam waktu 3 tahun 4 bulan dan memperoleh gelar sarjana dari jurusan sastra inggris. Setelah itu Rahmat juga memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan. Tak lama kemudian, Rahmat bekerja sebagai karyawan bank di daerah Kabupaten Pinrang. Tapi karena merasa jenuh akhirnya dia nekad keluar dari pekerjaan meski belum mendapatkan penggantinya.

Mengajak ayah nonton piala dunia [image source]
Saat itulah kemudian anak pertama dari empat bersaudara ini teringat akan cita-citanya menjadi seorang pengusaha. Mulailah dia kemudian mencoba peruntungan untuk membuka sebuah biro perjalanan yang menawarkan jasa ke sekolah-sekolah. Hebatnya, biro perjalanan yang diberi nama Andrasta Tour & Travel itu dapat menangani tujuh study tour sampai Singapura dan Kuala Lumpur di satu tahun perjalanan. Dari situlah kemudian Rahmat memiliki tabungan yang mengantarkannya umrah ke Tanah Suci.

Rahmat sekarang bisa menjadi pengusaha properti termuda

Bisa dibilang bahwa usaha biro perjalanan Rahmat mendulang untung cukup besar. Tidak hanya digunakan untuk pergi umrah sendiri, Rahmat juga berhasil membahagiakan orang tua dan keluarganya. Mulai dari memberangkatkan haji sang ibu, mengajak ayah menonton piala dunia. Menghadiahkan adik bulan madu ke Singapura dan Kuala Lumpur, membeli mobil, dan juga tanah. Tak hanya itu Rahmat kemudian menggunakan uang tersebut untuk melangkah ke bisnis developer atau bidang pengembang perumahan di wilayah Gorontalo.

Developer muda [image source]
Awalnya Rahmat bergabung dalam salah satu organisasi developer untuk belajar tentang lika-liku bisnis, dan sekarang dia diberi tanggung jawab menjadi pengurus inti. Rahmat bercerita bahwa dirinya menjadi wakil bendahara dan sudah termasuk sebagai developer paling muda untuk wilayah Indonesia Timur. Dia jadi yang termuda dalam mendirikan usaha properti benar-benar dari 0 dan bukan warisan dari keluarganya.

Memang nasib seseorang itu merupakan sebuah kejutan. Siapa sangka si penjual es lilin yang biasa keliling kampung sekarang menjadi seorang pengusaha muda di Sulawesi. Rahmat yang dulunya untuk sahur saja hanya mengandalkan air putih, ternyata pada prosesnya berhasil memberangkatkan ibu ke Tanah Suci dan membawa ayah merasakan gempita piala dunia. Tentu sukses tersebut tidak akan diperoleh jika dia hanya berdiam diri dan takut menjajal hal baru. Kalau saat ini kalian merasa masih belum berhasil menjadi ‘seseorang’, yakinlah suatu hari nanti semua usaha yang telah dilakukan akan berbuah manis.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA