5 Kisah Pengusiran Etnis Paling Miris yang Tidak Banyak Diketahui

oleh Tetalogi
19:07 PM on Dec 20, 2015

Setiap kisah tentang pengusiran etnis adalah hal yang menyedihkan dan membuat miris. Tidak hanya membuat korbannya kehilangan tempat tinggal, beberapa di antaranya bahkan sampai ada juga yang meninggal dunia.

Meski banyak terjadi di masa lalu, ada beberapa kisah miris pengusiran etnis yang ternyata juga jarang didengar. Berikut ini beberapa di antaranya.

Baca Juga
5 Jasa Chairul Huda Semasa Hidup yang Membuat Dirinya Jadi Sosok Tak Tergantikan
Misnadi Abdullah, Ketua Aliran Baru Penyembah Matahari yang Bikin Netizen Geram

1. Pengusiran Muslim dari Spanyol

Selama berabad-abad, Spanyol dan semenanjung Iberia sebenarnya kaya akan sejarah Islam. Hanya saja pada abad ke-15, warga non-Kristen yang tinggal di Spanyol mengalami masalah besar. Raja Ferdinand dan Ratu Isabella yang berkuasa di Spanyol berusaha menyingkirkan Islam dari tanah mereka dengan menawarkan kekayaan dan tanah bagi mereka yang mau berganti menganut Kristen.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabel [Image Source]
Raja Ferdinand dan Ratu Isabel [Image Source]
Rencana tersebut ternyata tidak berhasil, sehingga ia kemudian memerintahkan untuk membakar apapun yang ditulis dalam tulisan Arab dan menyita barang-barang milik warga muslim. Warga muslim di Spanyol diberi tiga pilihan, pindah agama, pergi, atau mati.

Dengan keputusan itu, maka terjadilah pemberontakan yang meluas di seluruh negeri terutama di wilayah selatan. Banyak yang pura-pura pindah agama, namun sebenarnya masih menjaga dan menganut agama Islam secara rahasia. Di akhir tahun 1610an, 90 persen Muslim sekitar 243 ribu orang yang tinggal di Spanyol telah berhasil dipaksa keluar dari negara tersebut.

2. Navajo

Tahun 1863, Kit Carson mendirikan perkemahan di dekat wilayah suku Navajo. Di bawah perintah militer, mereka kemudian melakukan agresi terhadap suku Navajo yang sebenarnya adalah suku asli wilayah tersebut. Agresi dilakukan dengan membakar tanaman, membunuh ternak, serta menghancurkan persediaan makanan. Suku Navajo akhirnya menyerah dan pasrah dengan nasib seperti apa yang mungkin mereka terima dari pemerintah saat itu.

Suku Navajo dalam perjalanan ke tempat baru [Image Source]
Suku Navajo dalam perjalanan ke tempat baru [Image Source]
Ketika antara 9 ribu hingga 10 ribu suku Navajo terkumpul, mereka dipaksa melakukan perjalanan panjang dan berat pergi dari tanah air mereka sendiri untuk ditempatkan di New Mexico. Dari 11.470 orang suku Navajo yang berangkat, ribuan orang meninggal dalam perjalanan 500km dengan jalan kaki itu. Bahkan ada juga yang ditembak mati karena mereka terlalu lelah dan tidak bisa lagi mengikuti kelompok yang sedang berjalan.

Ketika sampai di Bosque Redondo, mereka hanya menemukan rumah-rumah yang dibangun dari cabang pohon dan sisa-sisa tenda kanvas. Air minum yang terkontaminasi, makanan yang dirusak hama dan penyakit yang mulai menjangkiti mereka sejak berangkat akhirnya berlanjut menjadi wabah di tempat tinggal mereka yang baru. Banyak suku Navajo dan Apache yang juga dipaksa tinggal di sana akhirnya meninggal dunia.

3. Chagossian

Warga Chagossian adalah keturunan bangsa Afrika, India dan Melayu yang tinggal di kepulauan Chagos terutama pulau Diego Garcia, Peros Banhos, dan kepulauan Salomon serta beberapa pulau-pulau kecil lainnnya. Selama beberapa generasi, mereka menjalani hidup dengan damai dan bergantung pada perikanan. Namun sejak tahun 1970an, warga Chagossian terusir dari tempat tinggalnya sendiri.

Protes warga Chagossian [Image Source]
Protes warga Chagossian [Image Source]
Pada saat itu, pemerintah Inggris memutuskan untuk menyewakan kepulauan tersebut ke Amerika sebagai pangkalan militer. Masyarakat Chaggosian dipaksa naik perahu dan dikirim ke pulau lainnya sejauh 1.600 km dari rumah mereka dan harus tinggal dalam kemiskinan. Saat ini mereka yang selamat tinggal di Mauritius, namun mereka juga tidak berhenti berjuang agar bisa kembali tinggal di pulau mereka dulu.

Pesan yang terbongkar dari tahun 1960an membuka persetujuan antara Amerika dan UK yang menyebutkan bahwa mereka akan membuat pulau-pulau tersebut tidak dihuni kecuali oleh burung camar. Alasannya adalah karena milter Amerika tidak mau ada penduduk yang tinggal di dekat pangkalan militer mereka.

4. Peraturan Italianisasi

Ketika Mussolini meraih kekuasaan pada tahun 1922, ia mulai menjalankan kebijakan Italianisasi. Kebijakan ini dilakukan dengan membersihkan Italia dari mereka yang dianggap orang asing, termasuk wilayah Tyrol Selatan yang banyak dihuni oleh penduduk Jerman.

Mussolini [Image Source]
Mussolini [Image Source]
Bahasa Italia hanyalah satu-satunya bahasa yang boleh diajarkan atau digunakan. Pelayan ataupun pegawai tentara yang bicara dalam bahasa Jerman akan dipecat. Bahkan nama tempat atau jalan yang punya akar bahasa lain juga diubah menjadi bahasa Italia, termasuk nisan juga menghapus tulisan dalam bahasa Jerman.

Buku teks ditulis ulang untuk menghilangkan pengaruh dan budaya Jerman. Hitler dan Mussolini kemudian membuat perjanjian dengan mempersilahkan masyarakat untuk memiih tetap tinggal di Italia dan menghapus semua warisan dan budaya Jerman, atau pergi Jerman dan bergabung dengan partai Nazi. Sebanyak 86 persen atau sekitar 75 ribu penduduk memilih meninggalkan Italia.

5. Kanada Mengusir Penduduk Jepang

Ketika Kanada mendeklarasikan perang terhadap Jepang, keluar perintah untuk mengevakuasi setiap warga Kanada Jepang untuk dipindahkan ke wilayah yang disebut “area protektif”. Ribuan orang hanya diberi waktu beberapa jam untuk membawa barang yang mereka bisa sebelum dibawa dengan kereta ke kota yang sunyi.

Warga Jepang-Kanada yang dipindahkan [Image Source]
Warga Jepang-Kanada yang dipindahkan [Image Source]
Dengan tanpa air atau listrik, kota sunyi British Columbia menjadi tempat penahanan ribuan pria, wanita dan anak-anak. Sebanyak 20.800 orang termasuk 13 ribu diantaranya adalah warga Kanada yang lahir di negara tersebut kemudian dipindahkan. Properti mereka disita dan banyak diantaranya dijual untuk membiayai pemindahan orang-orang tersebut.

Sebanyak 4 ribu orang dengan sepertiga diantaranya masih di bawah 16 tahun dan setengah dari mereka sebenarnya lahir di Kanada dibawa kembali Jepang. Negara yang runtuh dilanda perang dan belum pernah dilihat sebelumnya oleh orang-orang terusir ini.

Terkadang keinginan atas kekuasaan memang membuat seseorang tidak mau tahu terhadap nasib orang lain. Hal ini pulalah yang membuat terjadinya pengusiran etnis seperti ini. Jika dilihat dengan kaca mata modern, tentu hal ini merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Tapi toh ternyata di belahan bumi lain kisah kekejaman seperti ini ternyata masih terjadi. Bahkan yang terbaru, calon presiden Amerika Donald Trump berpidato di depan orang banyak dengan menebarkan kebencian terhadap Muslim.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis 15 Meme FTV Ini Bikin Kamu Nyadar, Bahwa Hidup Nggak Semanis Adegan Film di TV Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA