Naulu, Membedah Tradisi Penggal Kepala di Pedalaman Maluku

oleh Riris Permatasari
11:15 AM on Feb 25, 2016

Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengar berbagai cerita seram tentang suku-suku yang ada di pedalaman. Kanibalisme, ritual kejam, dan banyak kisah mengerikan kerap membuat kita berpikir panjang untuk memasuki wilayah pedalaman. Walau kerap dianggap fiktif, nyatanya kisah kejam suku pedalaman memang benar-benar nyata, bahkan terjadi di Indonesia.

Adalah suku Naulu, yang punya peradaban sangat mengerikan untuk dibahas. Masyarakat yang mendiami pedalaman Pulau Seram, Maluku ini diketahui memiliki tradisi memenggal kepala manusia untuk persembahan. Tak hanya itu, korban yang diambil kepalanya itu juga dimutilasi untuk diambil beberapa bagian tubuhnya.

Baca Juga
4 Bukti Gregetnya Orang Indonesia Kalau Ada Bahaya, Kayak Sudah Hilang Urat Takutnya
Menengok Gaji dan Tunjangan Gubernur dan Wagub DKI, Kalau Dijumlah Bisa Beli Kerupuk 3 Kontainer

1. Tentang Suku Naulu

Suku Naulu tersebar di dua wilayah Pulau Seram, yaitu Dusun Nuanea dan Dusun Sepa. Karena lokasi yang jauh dari pusat kota, masyarakat suku ini pun masih hidup dengan cara tradisional. Seperti manusia pedalaman, suku ini hidup dengan cara berladang dan berburu. Beberapa di antaranya masih nomaden (hidup berpindah-pindah).

Seseorang dari suku Naulu beristirahat di hutan [image source]
Seseorang dari suku Naulu beristirahat di hutan [image source]
Kebanyakan suku ini bahkan belum memeluk agama seperti kebanyakan masyarakat Indonesia. Mereka masih membawa kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang. Mereka percaya bahwa arwah leluhur mengawasi gerak-gerik mereka dan melakukan kontrol sepenuhnya. Menurut keyakinan mereka, siapapun yang menaati tradisi akan mengalami nasib sial, sakit, kemiskinan, bahkan kematian. Para pria dewasa di suku ini mengenakan ikat kepala merah sebagai identitas. Hal yang sama juga dilakukan oleh suku Manusela, sehingga kedua etnis ini sering dianggap sama.

2. Tradisi Penggal Kepala

Sebagaimana dijelaskan di atas, suku ini memiliki tradisi yang cukup mengerikan yaitu berburu kepala manusia sebagai persembahan untuk nenek moyang. Tradisi inilah yang membuat mereka dianggap sebagai suku primitif. Tentu saja tidak ada penjelasan logis di balik aksi penggal kepala ini, namun mereka yakin bahwa ini adalah tradisi yang mutlak harus dilakukan agar terhindar dari bahaya atau musibah. Selain itu, penggal kepala juga dianggap sebagai kebanggaan dan simbol kekuasaan.

Kepala manusia di rumah suku Naulu [image source]
Kepala manusia di rumah suku Naulu [image source]
Tradisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman dulu, ketika perang antar suku masih marak terjadi. Pihak yang menang akan berkuasa, sedangkan yang kalah harus merelakan kepala mereka dilibas oleh pemenang. Awalnya, aksi ini mungkin hanya dilakukan sebagai perayaan dan simbolisasi pihak pemenang, namun lambat laun perburuan kepala menjadi sebuah tradisi yang harus dilakukan.

3. Filosofi Sadis

Kepala manusia memang memiliki arti yang sangat penting bagi suku ini. Ada banyak momen di mana masyarakat suku ini merasa perlu berburu kepala manusia. Salah satunya adalah alasan pernikahan. Raja-raja suku Naulu zaman dulu menggunakan cara ini untuk memilih seorang menantu laki-laki. Sebagai bukti kejantanan, si pria harus membawa kepala manusia sebagai mas kawin.

Kain merah di kepala sebagai identitas suku Naulu [image source]
Kain merah di kepala sebagai identitas suku Naulu [image source]
Persembahan kepala juga dilakukan saat penduduk mengadakan ritual Pataheri, untuk meresmikan kedewasaan seorang pria. Seorang remaja baru berhak mengenakan ikat kepala merah, sebagai simbol kedewasaan, setelah berhasil memenggal kepala seseorang. Selain itu, persembahan kepala manusia juga dilakukan untuk membuat ‘pagar gaib’ agar terlindung dari berbagai marabahaya. Mereka yakin bahwa persembahan kepala akan menyenangkan leluhur sehingga mereka dapat menjaga anak cucunya dengan baik.

4. Sempat Dilarang, kemudian Kembali Terjadi

Tradisi mengerikan ini awalnya sudah dinyatakan hilang sejak awal 1900an. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa tradisi ini masih berlanjut hingga tahun 1940an. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ritual ini sudah tidak terdengar lagi.

Kepala para korban tradisi penggal kepala di Naulu [image source]
Kepala para korban tradisi penggal kepala di Naulu [image source]
Namun hal mengejutkan kembali terjadi pada tahun 2005 lalu. Dua mayat tanpa kepala ditemukan di kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah. Korban yang diidentifikasi bernama Bonefer Nuniary dan Brusly Lakrane itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, karena bagian tubuhnya telah terpotong-potong.

Setelah diselidiki, tenyata korban dibunuh oleh suku Naulu untuk persembahan kepada leluhur. Pelakunya adalah warga dengan marga Sounawe yang bermaksud melakukan ritual untu memperbaiki rumah adat mereka. Kedua kepala tersebut diyakini akan menjaga rumah mereka dari berbagai bahaya. Tak hanya kepala, pelaku juga mengambil jantung, lidah, dan jari untuk diasapi. Sisa bagian tubuh yang tidak diambil dihanyutkan di sungai Ruata, hingga akhirnya ditemukan oleh penduduk lain.

5. Akhir Pembantaian

Karena kejadian ini, para pelaku mendapat hukuman yang cukup berat. Patti Sounawe, Nusy Sounawe, dan Sekeranane Soumorry dijatuhi hukuman mati. Sedangkan tiga pelaku lainnya, Saniayu Sounawe, Tohonu Somory, dan Sumon Sounawe dipenjara seumur hidup. Kejadian yang sama sebenarnya juga pernah terjadi pada tahun 1990an, di mana dua orang pemburu dibunuh dan menjadi persembahan.

Akhir tradisi pembantaian sadis [image source]
Akhir tradisi pembantaian sadis [image source]
Sejak kejadian tahun 2005, lembaga hukum berusaha melakukan sosialisasi pada semua pihak tentang adanya hukuman tegas bagi tindakan pembunuhan. Setelahnya, tradisi ini dihapuskan dan tidak terdengar ada korban lagi hingga sekarang. Namun ritual pengangkatan pria dewasa masih berlangsung, namun sesajennya bukan lagi kepala manusia, melainkan burung kuskus.

Kondisi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menciptakan keanekaragaman unik yang menambah kekayaan bangsa Indonesia. Salah satu contoh dari keanekaragaman itu adalah keberadaan berbagai suku yang mendiami berbagai wilayah di Indonesia, lengkap dengan berbagai tradisi, budaya, dan adat masing-masing, termasuk suku Naulu. Walau mungkin memiliki kisah sadis, namun suku Naulu adalah salah satu bentuk keanekaragaman yang membuat tanah air kita semakin kaya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya 16 Foto Ini Jadi Bukti Kalau Orang Indonesia Kreatifnya Bukan Main
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA