Siapa Sangka, Pencetus Pulitzer Prize, Hidupnya Pernah Melarat 

Terlahir miskin bukan berarti tak mampu berguna bagi dunia.

oleh Agus Supriyatna
20:00 PM on Mar 13, 2017

Bagi kalangan wartawan pasti hapal dan tahu apa itu Pulitzer Prize. Ya, Pulitzer Prize adalah penghargaan paling bergengsi di bidang jurnalistik. Bisa dikatakan, Pulitzer adalah Nobelnya dunia jurnalistik dan sastra. Penghargaan ini diberikan untuk para wartawan dan penulis di  Amerika Serikat. Para peraih Pulitzer Prize adalah wartawan atau penulis dengan laporan jurnalistik atau karya tulis terbaik.

Pulitzer Prize sendiri diambilkan dari nama pencetusnya, Joseph Pulitzer. Ya, Joseph Pulitzer, orang yang menghibahkan dana untuk lahirnya ajang penghargaan bergengsi tersebut. Penghargaan yang usia sudah mencapai 100 tahun, sejak pertama diadakan.

Baca Juga
6 Alasan Kenapa One Piece Nggak Pernah Bikin Penggemar Bosen Meski Sudah 20 Tahun
Inilah 4 Alasan Mengapa Profesi TKI Bisa Bikin Seseorang Jadi Kaya Mendadak

Ada sebuah kisah menarik dari Joseph Pulitzer.  Sebelumnya namanya dikenang hingga sekarang, jejak hidup Joseph Pulitzer, banyak berisikan kisah-kisah buram.  Kisah yang penuh liku. Joseph lahir pada 10 April 1847 di Mako, Hungaria, negeri di belahan Eropa Timur. Ayahnya seorang penyedia benih gandum. Joseph sebenarnya punya banyak saudara kandung. Tapi, banyak yang kemudian meninggal saat belia. Hingga tersisa dia dan adiknya.

Pulitzer ketika masih kecil [Image Source]
Beberapa tahun kemudian, keluarga Pulitzer pindah ke Budapest. Pada usia 11 tahun,  Pulitzer sudah jadi yatim. Ayahnya meninggal dunia. Ibunya kemudian kawin lagi. Pulitzer sempat coba jadi tentara. Dia mendaftar di angkatan perang Kerajaan Austria. Tapi ditolak.

Fisik Pulitzer memang tak menyakinkan untuk jadi tentara. Ia remaja yang kurus dan tampak seperti orang yang kurang gizi. Ditambah lagi, penglihatannya bermasalah. Tidak putus asa, setelah ditolak oleh angkatan perang Austria, Pulitzer kembali mendaftar di legiun asing tentara Perancis. Lagi-lagi Pulitzer harus menelan pil pahit. Ia kembali ditolak. Namun dia tak patah arang. Ketika ada kesempatan pendaftaran tentara untuk Kerajaan Inggris, ia juga coba mendapatkan peruntungannya. Sayang kembali dia harus menelan pil pahit. Lamarannya ditolak angkatan perang Inggris.

Ilustrasi Pulitzer mendaftar kesatuan [Image Source]
Keberuntungannya baru didapat saat ia mendaftar pada unit kavelari Amerika Serikat. Ia diterima. Saat itu Amerika tengah diamuk perang saudara. Ada yang menarik dengan pilihan Pulitzer mendaftar di unit kavaleri. Ternyata di unit itu banyak serdadu keturunan Jerman. Pulitzer sendiri ketika itu hanya menguasai bahasa Jerman dan Perancis. Sementara bahasa Inggrisnya berantakan.

Setelah diterima jadi tentara Amerika, Pulitzer langsung dikirim ke Amerika. Boston jadi kota pertama yang diinjaknya. Perang saudara Amerika pun berakhir. Maka berakhir pula dinas ketentaraan Pulitzer. Sejak keluar dari dinas tentara, hidup Pulitzer sempat susah. Ia luntang lantung tanpa pekerjaan. Ada yang mengisahkan. Pulitzer sempat jadi tunawisma untuk bertahan hidup.

Pulitzer pernah jadi tunawisma [Image Source]
Tanpa kepastian hidup di New York, Pulitzer kemudian memutuskan untuk hijrah ke St. Louis, Missouri. Ia pergi ke kota itu nyaris tanpa mengantongi uang. Bahkan untuk sekedar ongkos naik kapal. Ia pun memutuskan naik kereta ke St. Louis. Tapi ketika harus menyeberangi sungai, bekal duit yang dikantonginya benar benar habis.

Demi bisa menyebrangi sungai, Pulitzer rela jadi buruh penyekop batu bara di dalam feri. Akhirnya, meski harus jadi buruh kasar, Pulitzer pun bisa menyebrangi sungai. Di St. Louis, Pulitzer bekerja apa saja demi bisa bertahan hidup. Dia pernah jadi supir, bahkan sempat jadi penggali kuburan ketika wabah kolera menggila di kota tersebut. Pulitzer juga pernah jadi pelayan restoran dan mengurus keledai.

Pulitzer melakukan apa pun untuk bertahan hidup [Image Source]
Tapi nyala semangat hidup Pulitzer untuk berubah tak pernah padam. Di sela-sela pekerjaannya ia masih meluangkan waktu belajar bahasa Inggris. Pulitzer sadar bahasa Inggrisnya kacau. Sementara bahasa ibu di Amerika adalah bahasa Inggris. Bahkan demi bisa bahasa Inggris, Pulitzer kerap nongkrong menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di perpustakaan.

Sampai ia kemudian bertemu dengan Carl Schurz, salah satu editor sekaligus pemilik koran Westliche Pos. Pada 1868, Pulitzer resmi menapaki karirnya di dunia jurnalistik, dunia yang kemudian melambungkan namanya. Pulitzer resmi diangkat jadi reporter.

Kiprah Pulitzer sebagai reporter [Image Source]
Sebagai reporter kerjanya banyak yang memuji. Pulitzer jadi reporter yang gigih mencari fakta berita. Perlahan namanya kian moncer.  Namanya pun kian berkibar. Sampai suatu waktu ia memutuskan banting setir untuk ikut masuk dalam dunia politik. Dia mendaftar jadi wakil dari Partai Demokrat.

Tapi Pulitzer tak begitu disukai para pejabat dan politisi di St. Louis. Meski sudah jadi politisi, nalurinya sebagai wartawan masih kuat. Ia berusaha mengungkap kebobrokan dan praktek kongkalikong antara pengusaha dan politisi dalam proyek-proyek publik. Ulah Pulitzer bikin gerah Edward Augustine, pengawas pendaftaran kontraktor bangunan di St. Louis. Augustine berang dan amat marah ketika tahu Pulitzer menudingnya telah melakukan korupsi. Augustine pun menyebut Pulitzer sebagai pembohong besar.

Perjalanan Pulitzer sebagai politisi [Image Source]
Sampai kemudian, insiden terjadi pada satu malam di sebuah hotel di  Jefferson City. Pulitzer menemui Augustine untuk menuntut permintaan maaf. Tapi Augustine kadung berang. Ia menolak meminta maaf. Bahkan Pulitzer ditinjunya. Tidak terima, Pulitzer balas menembak kaki Augustine dengan pistol tentara.

Kasus itu pun akhirnya dibawa ke pengadilan. Pulitzer mengaku bersalah. Ia pun dihukum denda membayar sekian uang. Untungnya teman-teman Pulitzer banyak yang bersimpati. Dengan patungan, teman-teman Pulitzer membantunya lepas dari jeratan hukuman. Pada 1870 kembali bertarung di pemilihan. Sayang kali ini dia harus menelan pil pahit. Ia kalah.

Pulitzer gagal jadi politisi [Image Source]
Gagal di politik Pulitzer kembali ke habitat asalnya, dunia jurnalistik. Keberuntungan pun tiba. Westliche Pos kembali menarik Pulitzer. Di Westliche Pos, ia sempat jadi managing editor.  Pada 1876, Pulitzer sempat pulang kampung halamannya di Hungaria. Usai dari Hungaria, dia kembali ke St.Louis.

Ia membeli koran St.Louis Post dan menggabungkannya dengan koran Dispatch, hingga lahir koran baru bernama Post-Dispatch. Koran itu mulai merebut hati pembaca karena keberaniannya mengabarkan berita-berita kebobrokan pejabat. Berita-berita korupsi, penipuan asuransi, monopoli dan perjudian jadi garapan utama Post-Dispatch. Sirkulasinya melonjak. Koran Post-Dispatch pun untung besar. Tapi konsekuensinya Pulitzer banyak melahirkan musuh. Para bankir jahat dan pejabat korup jadi musuhnya.

Pulitzer Price [Image Source]
Pada pekan pertama bulan Mei 1883, Pulitzer mengambil alih kepemilikan koran New York World dari tangan Jay Gould. Karakter investigatif reporter tetap jadi acuan Pulitzer di koran barunya tersebut. Tapi seiring dengan itu, kondisi kesehatannya terus merosot. Penglihatannya kian kabur, bahkan hampir buta. Tapi seperti biasa, Pulitzer tetap semangat untuk bekerja meski harus pakai alat bantu.

Pada 29 Oktober 1911, Pulitzer meninggal dunia karena gagal jantung. Namun namanya tetap ‘hidup’ hingga sekarang. Salah satu warisan terbesarnya adalah penghargaan Pulitzer Prize.  Tahun 1917, pertama kali Pulitzer Prize diberikan.  Penghargaan itu bisa dikatakan sebagai bentuk rasa cintanya kepada dunia jurnalisme. Dunia yang membesarkan namanya. Dunia yang sangat dicintainya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
error put content