George Saa, Pemuda Papua Rebutan Universitas Dunia yang Bertekad Teruskan Prestasi B.J. Habibie

Kesuksesan itu akan mengikuti orang yang berani melampaui batasan di sekitar mereka

oleh Faradina
17:54 PM on Apr 20, 2017

Banyak yang berkata bahwa seorang sukses adalah mereka yang berhasil mendobrak keterbatasan dan berani untuk menembusnya. Itulah mungkin kalimat yang cocok untuk seorang Septinus George Saa. Di saat banyak orang memandang sebelah mata putera puteri Papua karena dirasa jauh tertinggal dibanding mereka yang berada di kota besar, pemuda ini justru terus melejitkan karyanya sambil dengan bangga berkata “saya adalah Indonesia dan Papua.”

Septinus George Saa adalah salah satu warga Papua yang tidak hanya berhasil membanggakan Papua, tetapi juga Indonesia dengan karyanya di dunia Internasional. Namanya mungkin memang belum begitu kita kenal, tapi karyanya bahkan sudah jadi rujukan ilmuwan ternama dunia.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Pemuda ini dulunya sering tidak masuk sekolah karena tak memiliki uang saku

Septinus George Saa adalah seorang pemuda kelahiran Manokwari, 22 September 1986 yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Anak dari pasangan Silas Saa dan Nelce Wofam ini dari kecil memang sudah menunjukkan kecerdasannya. Terbukti nilai-nilainya yang selalu baik di sekolah sejak SD sampai sekarang. Tapi sayang menurut penuturan sang ibu, pria yang biasa dipanggil dengan nama Oge ini sering sekali terpaksa untuk tidak masuk sekolah lantaran tidak memiliki uang.

Oge [image source]
Oge kecil harus menempuh jarak sejauh 10 km dari rumah untuk sampai ke sekolah yang biasanya ditempuh dengan menggunakan angkutan umum atau biasa disebut taksi. Ongkos taksi saat itu adalah Rp 1500 untuk sekali jalan, berarti dalam satu hari butuh sekitar Rp 3000 hanya untuk transportasi. Mama Oge mengaku sering tidak bisa memberi Oge uang saku baik untuk transportasi maupun untuk jajannya di sekolah. Menurut Nelce, kasihan juga bila sang anak harus menunggu waktu pulang untuk makan di rumah dan harus kelaparan di sekolah. Septinus mengakui emang ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan, namun sehari-hari keluarga ini harus berkebun demi mendapat pemasukan tambahan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA