Gomos Manalu, Pemuda Cerdas Anak Buruh Bangunan di Pematangsiantar yang Diundang NASA ke Amerika

Namun siapa sangka perjuangan Gomos meraih cita-cita tidak semulus misi NASA menuju bulan

oleh Faradina
08:00 AM on May 20, 2017

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia memiliki pemuda dan pemudi yang sangat berprestasi. Di samping banyaknya pelajar Indonesia yang berhasil membawa piala kebanggaan dari aneka macam kompetisi robotik di luar negeri, ternyata kita masih memiliki stok prestasi membanggakan lainnya. Meskipun saat ini banyak yang memberitakan tentang betapa ‘bobroknya’ mental anak-anak muda kita karena pengaruh perkembangan zaman, tenang saja karena kita masih punya mereka yang berpotensi besar.

Salah satunya sebutlah nama Gomos Parulian Manalu, pemuda asal Pematangsiantar yang sempat mendapat undangan khusus dari Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA. Bahkan hasil karya pemuda yang satu ini juga ikut dibawa ke luar angkasa oleh NASA. Kurang membanggakan apa coba remaja yang satu ini. Namun demikian, ternyata perjuangan Gomos tidak semulus misi NASA ke bulan lho.

Baca Juga
Bukan Kegembiraan, 4 Lomba Agustusan Ini Justru Berakhir dengan Tragedi
Tak Melulu Miris, Ini Cerita dari Para Veteran yang Akhirnya Diperhatikan oleh Pemerintah

Gomos menjadi salah satu perwakilan Indonesia di NASA tahun lalu

Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya dipercaya menjadi salah satu perwakilan negara untuk mengunjungi instansi se-keren NASA? Itulah yang mungkin dirasakan oleh orang tua Gomos, seorang siswa SMA Del Laguboti, Sumatera Utara. Tahun lalu Gomos dan salah satu kawannya mendapat kesempatan menyampaikan risetnya yang bertajuk Micro-Aerobic Metabolism of The Yeast Saccharromyces Cerevisae In A Microgravity Environment di Amerika Serikat. Tak hanya itu, siapa sangka rancangan Gomos dan kawannya bernama Gilbert ini ternyata juga telah mengorbit di ketinggian kurang lebih 400 km lho.

Gomos beserta guru dan peneliti NASA [image source]
Kerennya lagi, sehabis mendapat pengalaman tak terlupakan di NASA, pemuda kelahiran 5 Februari 2000 itu memiliki cita-cita mulia untuk Indonesia. Dia ingin memiliki sebuah perusahaan di mana pekerjanya berasal dari Indonesia sendiri. Sepulangnya dari Amerika Serikat Gomos juga menyadari bahwa Indonesia perlu untuk mempercepat pembangunan, pasalnya kita sudah mulai tertinggal dibanding negara adidaya tersebut. Selain itu di Amerika Gomos juga belajar untuk menjadi pribadi disiplin serta rendah hati. Setinggi apapun jabatan kita, sikap rendah hati sangatlah penting untuk dikembangkan.

Gomos dibesarkan di keluarga yang kurang mampu

Nama Gomos tentu saja menjadi salah satu siswa yang sangat menginspirasi. Pasalnya meskipun sehari-hari dibesarkan di keluarga yang kurang mampu namun dia tetap bisa menjaga prestasinya dengan gemilang. Ibu Gomos, Juli Rosdiana Hutabarat, sehari-hari hanya berjualan roti di terminal. Dan Juli mengaku bahwa selama ini dia siap banting tulang agar Gomos bisa terus melanjutkan pendidikan serta meraih cita-citanya.

Gomos dan orang tua [image source]
Dan meski sehari-hari hanya berjualan roti, sang ibu merasa sangat lega karena berhasil menutupi biaya pendidikan sang anak hingga tuntas lulus SMA. Meskipun dia dan suami juga sempat harus ngutang ke sana kemari. Sementara Jesman Manalu, ayah Gomos merupakan seorang buruh bangunan. Jesman dulunya juga sempat menjadi seorang pemulung, namun ternyata penghasilan yang didapat tidak serta merta bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Dan saat ini sangat disayangkan ayah Gomos harus menganggur di rumah.

Gomos belajar dari buku hasil memulung

Karena terlahir di keluarga yang kurang mampu tentu saja Gomos tidak memiliki fasilitas pendidikan layaknya kawan-kawannya. Dia tidak bisa dengan leluasa membeli buku atau media belajar untuk menunjang keperluan belajarnya dikarenakan untuk makan sehari-hari saja keluarganya cukup sulit. Namun tentu saja keadaan itu tidak menghalangi niat Gomos untuk belajar. Sejak kecil, pemuda ini mengaku sering membaca buku-buku bekas yang dibawa sang ayah saat memulung.

Gomos menunjukkan sertifikat dari NASA [image source]
Bahkan sang ayah bercerita bahwa sewaktu masih SMP Gomos sempat ikut mengumpulkan barang-barang bekas. Uniknya barang yang dikumpulkan Gomos kebanyakan adalah buku-buku yang nanti akan dibacanya di rumah. Meski statusnya adalah buku bekas, namun yang namanya pengetahuan tentu saja tidak memiliki masa kadaluarsa. Karena memang dari buku-buku yang dibuang orang itulah pemuda ini memperoleh pengetahuan.

Gomos mendapat beasiswa di ITB

Barang siapa bersungguh-sungguh, pasti Tuhan akan memberikannya jalan. Itulah mungkin kalimat yang tepat untuk seorang Gomos. Kegigihannya dalam meraih pendidikan saat ini sudah membawanya menjadi salah satu pemuda yang mendapat undangan bergabung di universitas terkemuka di Indonesia, Institut Teknologi Bandung atau ITB. Bahagianya lagi Gomos kali ini mendapatkan beasiswa sehingga orang tuanya tak lagi harus susah payah membayar biaya pendidikannya.

Gomos Manalu [image source]
Apalagi Gomos sudah bertekad bahwa dia tak akan merepotkan ibu dan ayahnya. Bila memang ada kebutuhan yang harus dibeli, Gomos sudah berencana untuk mendapatkan uang dari mengajar les atau semacamnya. Hal ini dia lakukan karena sang orang tua saat ini masih harus menanggung empat adiknya. Di ITB Gomos bercerita bahwa dia mengambil jurusan Elektronika dan Informatika yang memang dirasa cocok. Dan selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, Gomos bertekad akan terus fokus dan belajar agar cita-citanya kelak bisa benar-benar terwujud.

Gomos Parulian Manalu mungkin hanya salah satu contoh pemuda Indonesia yang memiliki prestasi tinggi di tengah keterbatasan. Bayangkan saja, seorang siswa anak penjual roti dan buruh bangunan sudah berhasil menginjakkan kaki di Amerika atas undangan dari sebuah institusi yang bergengsi. Pemuda yang bukan belajar dari buku-buku rapi di toko buku, melainkan dari buku yang sudah dibuang oleh orang lain saat ini akan segera melanjutkan mimpinya di salah satu kampus terbaik dalam negeri.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA