Pemerintah Belum Bisa Menggratiskan Vaksin HPV

oleh didi
08:26 AM on Oct 29, 2014

Pemerintah Belum Bisa Menggratiskan Vaksin HPV Dikarenakan Harganya Terbilang Mahal

Selain kanker payudara, kanker serviks juga menempati peringkat tertinggi penyakit kanker yang paling banyak di derita wanita di Indonesia. Berdasarkan data terakhir WHO Globocan, kanker serviks merupakan jenis kanker nomor dua tersering yang menyerang perempuan Indonesia setelah kanker payudara. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi HPV atau Human Papilloma Virus.

Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat, berdasarkan Sistem Informasi RS (SIRS), jumlah pasien rawat jalan maupun rawat inap karena mengidap kanker serviks mencapai 5.349 orang sekitar 12,8 persen. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyampaikan pemerintah masih belum bisa memberi subsidi untuk vaksin kanker serviks mengingat harganya yang masih terbilang cukup tinggi.

Baca Juga
Ternyata Beberapa Negara Ini Benderanya Terinspirasi Dari Majapahit Loh, Mana Saja Tuh
Bikin Emosi! Rombongan Pemuda Indonesia Ini Malah Sengaja Membentangkan Bendera Secara Terbalik

Untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus HPV, pemberian vaksin sebetulnya merupakan hal yang penting. Namun amat disayangkan harga vaksin itu tergolong mahal, sehingga tidak semua orang mampu mengaksesnya. Pemerintah Indonesia pun hingga saat ini belum bisa menggratiskan vaksin HPV seperti yang dilakukan negara lain.

“Masih mahal, saya terus terang belum bisa untuk vaksin kanker serviks, belum bisa dilakukan pemerintah Indonesia,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek usai serah terima jabatan di gedung Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (28/10).

Menkes menerangkan untuk mengantisipasinya, pertama kali yang bisa diberikan adalah metode IVA (inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat) yang bisa dilakukan di Puskesmas. Menurutnya, pemerintah sebetulnya telah memberikan fasilitas untuk melakukan deteksi dini melalui layanan screening kesehatan oleh BPJS Kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“IVA masih menjadi alternatif untuk kanker serviks. Kita bekejasama dengan Yayasan Kanker Indonesia seluruh indonesia dan BPJS Kesehatan. Tapi saya tidak lupa bahwa Bupati Badung, Bali telah memberikannya pada anak-anak SMA disana tapi SMP belum karena belum cukup dananya. Totalnya masih mahal,” jelasnya.

Staf Pengajar Obstetri dan Ginekologi di FKUI-RSCM, dr Andi Darma Putra, Sp.OG (K) Onk dalam seminar kesehatan yang digelar MSD Indonesia mengatakan, fasilitas deteksi dini yang diberikan pemerintah merupakan hal yang penting, sebab kanker serviks pada stadium awal tidak menimbulkan gejala atau tanda khusus apapun.

“Karena infeksi HPV sebagai penyebab utama kanker serviks ini biasanya tidak menunjukkan gejala, banyak yang tidak tahu kalau dirinya sudah terinfeksi. Bahkan hampir 70 persen kanker serviks ditemukan dalam kondisi stadium lanjut. Pada stadium tersebut tingkat keberhasilan terapi semakin kecil dan biaya yang dibutuhkan sangatlah mahal,” kata Andi Darma.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA