3 Pelajaran Besar yang Akan Membuat Kita Ringan Menjalani Hidup

oleh Sofia Fitriani
13:45 PM on Nov 4, 2015

Setiap manusia tak luput dari namanya masalah dan ujian. Sekaya atau semapan apapun hidupnya, ujian selalu Allah berikan pada hambaNya. Bukan karena Allah benci, namun karena Allah cinta. Perumpamaan, ketika kita mencintai seseorang, kita akan berusaha membuat orang yang kita cintai tersebut mengingat kita. Nah, karena Allah mencintai kita, maka seperti itulah yang Allah lakukan pada kita.

Ya, Allah meminta kita terus mengingatNya dengan ujian dan cobaan yang kita hadapi. Karena seringnya saat Allah memberi nikmat, justru kita lupa untuk mengingatNya. Berbeda kan saat kita berada dalam kesedihan dan kesulitan? Kita pasti akan berlari menuju Allah.
Namun, bukan berarti saat ujian dari Allah datang, hidup kita menjadi terpuruk dan kita biarkan hancur. Kita harus bisa menghadapinya dengan tangguh dan sabar, karena Allah tidak menciptakan kita sebagai makhluk yang lemah. Dan Allah telah menjanjikan kepada kita sebuah pertolongan, asalkan kita memintanya dengan sabar dan sholat.

Baca Juga
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi

Nah, berikut ini adalah tiga pelajaran besar yang bisa kita terapkan dalam diri kita, agar kita bisa menghadapi dan menjalani kehidupan ini dengan lebih ringan, baik saat ada masalah ataupun tidak:

1. Belajar Berprasangka Baik

Kadang yang membuat kita sedih, gelisah, gundah, atau galau adalah bersumber dari diri dan pikiran kita sendiri. Kita terlalu gampang membiarkan pikiran buruk atau suā€™udzon menggelanyuti diri dan pikiran kita. Entah kepada orang-orang terdekat kita atau bahkan kepada Allah.

 "jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa."
“jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” [imagesource]
Padahal apa yang kita pikirkan belum tentu terbukti kebenarannya. Bisa jadi itu asumsi diri kita sendiri, karena kita telah berhasil kena bujukan rayu setan untuk memberi ruang pikiran buruk berada dalam hati dan diri kita.

Prasangka buruk sesungguhnya sangat merusak. Baik merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama umat manusia serta sesama kaum Muslimin. Sehingga, ketika kita selalu membiasakan diri belajar dan terus belajar berprasangka baik atau khusnudzon, maka kerusakan yang akan timbul dari dampak negatif prasangka buruk tersebut tak akan terjadi.

Memang susah awalnya, apalagi jika setan berhasil membungkus apa yang tampak di depan mata seolah seperti sebuah keburukan yang menyakitkan hati, maka prasangka akan bergerak kearah negatif dengan spontannya. Namun jika hati kita berusaha pasrah dan percaya bahwa Allah selalu menjaga dan mencintai kita, maka pelan-pelan kita akan mampu belajar untuk membiasakan diri berprasangka baik.

2. Belajar Memaafkan

Memang memaafkan itu berat. Apalagi jika kita di posisi benar. Namun, seseorang yang telah mampu mengendalikan hawa nafsu amarah serta selalu berusaha berprasangka baik, memaafkan itu sangat mudah. Seperti Uswatun Hasanah kita, Rasulullah SAW, manusia mulia sebaik-baiknya teladan.

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” [imagesource]
Berapa banyak musuh Islam yang berusaha berlaku jahat kepada beliau? Tak terhitung lagi bukan jumlahnya? Namun, beliau yang memiliki hati besar selalu bisa memaafkan bahkan membalasnya dengan penuh kebaikan dan kelembutan.

Seperti kisah seorang tua yang selalu meludahi beliau saat beliau hendak berangkat sholat subuh di masjid. Namun saat si Tua itu sakit, Rasulullah justru menjenguk dan memberinya makanan agar dia cepat sembuh. Maka si Tua yang begitu amat berdosa segera bertaubat dan masuk Islam, dia kemudian menjadi salah satu sahabat berdakwah Rasulullah kala itu.

Begitupun kita. Jika kita telah terbiasa belajar memaafkan, bukan demi orang lain sesungguhnya hal tersebut. Namun memaafkan akan kembali pada diri kita sendiri. Saat kita melepaskan semua amarah dan kekecewaan dengan memaafkan atau meminta maaf, entah kita benar atau salah, maka kita telah memberikan ruang luas bagi hati kita untuk merasakan keringana dalam menjalani hidup ini. Rasanya sangat tenang dan nyaman, karena tak ada beban yang menggelanyutinya.

3. Belajar Melepaskan

Memang sulit, apalagi jika sesuatu atau seseorang itu amat berarti bagi kita. Namun jika kita ingat, sebenarnya apa sih yang benar-benar bisa kita miliki? Tidak ada bukan?! Karena memang semua berasal dari Allah dan hanya akan kembali pada Penciptanya saja, Allah SWT. Sehingga, mau kita menangis meraung-raung pun yang telah kembali kepada Allah atau yang telah Allah ambil, tak akan pernah kembali pada kita.

Belajar melepaskan
Belajar melepaskan [imagesource]
Namun yang perlu kita ingat dan tanam dalam-dalam di diri kita, bahwa Allah tak akan mengambil sesuatu dari kita tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Hanya kita saja yang selalu berprasangka buruk dahulu pada kehendak Allah, hingga tak pernah mau mengambil hikmah dari setiap kejadian dalam kehidupan kita.

Dengan kita mampu belajar melepaskan, maka kita akan sadar bahwa hakikatnya semua berasal dan akan kembali lagi kepada Allah. Sehingga kita akan mencintai atau membenci sewajarnya, mengambil atau mengembalikan secukupnya, dan seterusnya.

Semoga ketiga pembelajaran tersebut bisa benar-benar membuat diri kita siap menghadapi kehidupan dengan hati lebih ringan dan lapang. Dengan hati yang ringan dan lapang, tentunya akan lebih mengokohkan hubungan kita dengan Allah, dan membuat kita lebih banyak bersyukur. (sof)

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA