Pejabat Juga Manusia, 3 Pandangan Negatif Tentang Mereka Ini Perlu Kamu Hapus Agar Nggak Baper Terus

oleh Sastranagari
07:00 AM on May 17, 2016

Seringkali kita berharap lebih kepada orang yang berkedudukan tinggi di negara kita atau pejabat. Namun, seringkali harapan tersebut pupus karena pejabat yang kita idolakan nggak sesuai dengan harapan. Hal itulah yang pada akhirnya membuat kita nggak percaya lagi sama pejabat. Akhirnya, setiap ada pejabat yang mencalonkan diri, kita jadi skeptis dan suudzon.

Padahal berburuk sangka nggak baik lho. Nggak cuma sama pejabat aja, tapi juga berburuk sangka ke semua orang. Mending hilangin deh kebiasaan ini. Nah, ini lho sekian buruk sangka yang sering diujukan pada pejabat negara kita.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

1. Pejabat Hobi Tidur Waktu Rapat

Yah, sudah banyak kasus pejabat tidur waktu rapat. Kali ini pelakunya adalah Setya Novanto yang tertidur saat proses mengheningkan cipta di pembukaan Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar. Sontak saja perilaku itu menjadi sorotan banyak orang.

Kalau dipikir-pikir, ketiduran itu manusiawi kok. Mereka sendiri pastinya nggak sengaja melakukan hal itu. Oleh karena itu, kita kudu maklum. Kalau menurut Nurul Arifin, Setya Novanto tertidur saat pembukaan Munaslub itu karena kecapekan. Setnov sudah bekerja bersama tim sejak tiga bulan lalu untuk menyiapkan acara ini. Selain itu, Beliau juga berkeliling Indonesia untuk mensosialisasikan program sebagai calon ketua umum. Jadi kalau kejadian tersebut kurang pantas, kita maklumin aja ya.

2. Pejabat Korupsi Itu Pasti

Kasus korupsi yang dilakukan pejabat selalu nggak luput dari perhatian kita. Sudah banyak pejabat teras yang tersandung masalah korupsi di Indonesia, sebut saja misalnya Miranda S. Goeltom, Aulia Pohan, Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, dan masih banyak lagi.

Pejabat korup [image source]
Pejabat korup [image source]
Kasus korupsi ini harus ditanggapi dengan kepala dingin. Jangan terburu-buru memutuskan seorang pejabat korup sebelum ada klarifikasi dari yang berwenang. Sama halnya dengan pejabat baru yang akan berkiprah. Mending kita positif thinking dulu deh. Belum tentu juga kan karena banyak pejabat yang korup, berarti semua pejabat itu tukang korupsi? Masih ada kok pejabat-pejabat yang jujur.

3. Pencitraan Sebagai Ajang Promosi, Cuma Sekedar Basa-basi

Salah satu trik yang sering dilakukan Presiden Jokowi untuk mengenal rakyatnya adalah ‘blusukan’. Sayangnya trik satu ini malah dianggap sebagai ajang pencitraan saja oleh banyak masyarakat. Mereka menganggap ‘blusukan’ hanya sekedar melihat kondisi masyarakat, namun nantinya nggak bakalan ada tindak lanjut.

Jokowi blusukan [image source]
Jokowi blusukan [image source]
Padahal, acara ‘blusukan’ tersebut bisa membantu kita dalam menentukan layak tidaknya orang tersebut memimpin lho. Lewat program tersebut, masyarakat jadi lebih dekat dengan calon pemimpinnya dan saat memilih nanti sudah paham dengan baik visi dan misi calon pemimpin. Ibarat kata, kita nggak membeli kucing dalam karung gitu.

Namanya manusia nggak bisa luput dari kesalahan. Apalagi para pejabat yang besar namanya, sekalinya melakukan sesuatu yang dipandang kurang baik pasti langsung panen cibiran dari masyarakatnya. Oleh karena itu, mendingan mulai sekarang kita berpikiran positif aja deh sama mereka. Mengutip kata Buddha, ‘The mind is everything. What you think, you become.’

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA