Perjuangan Hidup Nenek Usia Seabad, Jualan Kacang di Stasiun Yogyakarta

oleh Febri
07:49 AM on Jun 21, 2015

Ketika melihat raut wajah nenek yang usianya sudah tak lagi muda ini, mungkin Anda juga akan merasakan bagaimana beratnya menyambung hidup di usianya yang lebih dari 1 abad tersebut. Semangat nenek berikut ini seakan tak pernah padam, ia tetap mensyukuri apa yang ia miliki saat ini, walaupun hidupnya sangat sederhana.

Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya membanting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi. Ia terpaksa harus bekerja dan menikmati hari tuanya dengan penuh perjuangan. Simaklah ulasan tentang perjalanannya untuk bertahan hidup di tengah-tengah kota Yogyakarta.

Baca Juga
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia
6 Cara Ini Bisa Dipakai Agar Tragedi ‘Panjat Pinang Maut’ Tak Terjadi Lagi

1. Semangat Hidup Nenek Tumirah

Nenek yang memiliki semangat hidup luar biasa ini dikenal dengan nama Tumirah, ia tinggal di sebuah rumah di Sosrowijayan, Gedongtengen, kota Yogyakarta dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah ia mengeluh dengan kehidupannya, malah sebaliknya dengan sabar ia tetap bekerja.

Semangat Hidup Nenek Tumirah
Semangat Hidup Nenek Tumirah [imagesource]
Apa daya dengan segala keterbatasannya di usia 111 tahun, ia harus berusaha bertahan hidup di Yogyakarta. Ia tinggal sendirian dan sehari-harinya nenek Tumirah tidak menggunakan sandal dengan alasan takut terpeleset dan jatuh.

2. Berjualan Kacang Sejak Usia 97 Tahun

Jika Anda berkunjung ke Stasiun Tugu Yogyakarta, tepatnya di selah-selah pilar parkiran motor. Mungkin Anda akan melihat sosok nenek tua dengan raut wajah yang lelah sedang menjajakan dagangannya berupa kacang yang dibungkus dalam plastik.

Berjualan Kacang sejak usia 97 tahun
Berjualan Kacang sejak usia 97 tahun [imagesource]
Pagi-pagi buta Nenek Tumirah diantar cucunya dengan mengendarai becak menuju Stasiun Tugu. Terkadang, Nenek Tumirah juga berangkat pada siang hari, sampai menjelang sore barulah ia akan pulang. Sejak usianya 97 tahun ia telah malakukan pekerjaan ini. Tak peduli dengan umurnya yang sudah tua, selama ia merasa masih kuat, maka ia lebih memilih untuk bekerja.

3. Tidak Mau Membebani anaknya

“Saya enggak mau merepotkan orang, kalau masih bisa cari makan sendiri ya lebih baik berusaha,” begitulah kata Nenek Tumirah. Sebenarnya nenek Tumirah masih memiliki anak dan cucu tapi meskipun begitu ia tidak mau membebani anaknya tersebut.

Tidak Mau membebani anaknya
Tidak Mau membebani anaknya [imagesource]
Dari kacang yang dibandrol dengan harga 5 ribu rupiah perbungkus itulah, Nenek Tumirah mampu membiayai hidupnya selama ini. Seberapapun yang didapatkan, ia tetap mensyukurinya.

4. Dukungan dan Simpati Para Netizen

Terkadang yang menjadi kendala diusianya yang tua adalah kesulitan berjalan, tapi Nenek Tumirah tetap semangat. Walaupun keuntunganya tak menentu, tetap saja jika ada rezeki Nenek Tumirah sangat bersyukur bisa berbagi dengan anak dan cucunya.

Semangat hidup itulah yang membuat para netizen menaruh simpati pada Nenek Tumirah, bahkan beberapa waktu yang lalu nenek dari 7 cucu ini sempat diundang hadir ke acara televisi Hitam Putih untuk membagi pengalaman hidupnya.

Kita bisa belajar banyak hal dari Nenek Tumirah ini. Selama kita masih kuat untuk berusaha maka jauh lebih baik untuk berusaha daripada harus meminta-minta yang kerap dilakukan oleh beberapa orang. Seberapapun hasil yang didapatkan harus tetap disyukuri, karena dengan cara itulah kita akan merasakan kecukupan dan ketenangan dalam hidup ini walaupun sederhana.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA