5 Negara Ini Diperkirakan Cepat Punah

oleh Happy
08:45 AM on Dec 9, 2015

Kepunahan nyatanya tak terjadi pada flora dan fauna saja, namun sebuah negara pun bisa mengalaminya akibat beberapa alasan. Selain masalah perang dan bencana berkepanjangan, penurunan tingkat kelahiran juga menjadi masalah utama yang mendorong laju kepunahan sebuah negara di dunia. Bahkan sederet penelitian telah mengumumkan indikasi kepunahan dari beberapa negara berikut ini.

Meski penelitian hanya teori praduga yang belum tentu akan menjadi kenyataan, namun beberapa hasilnya bisa menjadi acuan di masa depan. Korea Selatan, Jepang, Tiongkok dan Jerman disebutkan menjadi negara yang akan mengalami kepunahan lebih cepat ketimbang negara lain di dunia. Padahal jika kita lihat, negara-negara tersebut termasuk negara maju yang tak mengalami kemiskinan atau perang berkepanjangan. Namun, bagaimana mereka diprediksi akan punah?! Intip ulasan berikut ini dan kalian akan tahu mengapa!

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

1. Korea Selatan

Korea Selatan memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Setelah menghadapi kemiskinan di tahun 1960-an, Korea Selatan tumbuh sebagai satu negara terkuat dan paling diperhatikan di dunia. Negara ini mampu bangkit dari keterpurukan dan menjadi negara terkuat hanya dalam 60 tahun pasca perang. Prestasi yang sangat hebat bukan! Bahkan perkembangan ekonomi dan pengenalan budayanya pun telah berhasil mengangkat negeri gingseng menjadi salah satu dari empat macan Asia Timur saat ini.

Korea Selatan [image source]
Korea Selatan [image source]
Akan tetapi dengan kemajuan negaranya, Korea Selatan ternyata diprediksi akan mengalami kepunahan di tahun 2750. Hal ini dilandasi oleh rendahnya jumlah kelahiran di negeri Kpop tersebut. Bahkan prediksi ini menyebutkan jika kelahiran bisa mencapai 0% jika tak ada program pemerintah yang mengatasi masalah ini secara signifikan.

Sebuah studi yang diadakan oleh legislatif nasional menemukan bahwa orang asli Korea Selatan bisa menghadapi ‘kepunahan alami’ jika angka kelahiran hanya mencapai 1,19 anak per-wanita. Hal ini diperparah dengan usia menikah yang semakin mundur. Jika sebelumnya di usia 25 tahun masyarakat Korea Selatan sudah bingung menikah maka saat ini, usia 35 tahun pun menjadi usia normal untuk menikah.

2. Jepang

Jepang bukanlah negara baru yang masuk dalam daftar negara yang diprediksi cepat punah oleh beberapa lembaga penelitian. Pasalnya kemajuan negeri sakura ini berbanding terbalik dengan angka kelahiran warganya. Disebutkan jika gaya hidup yang serba tertata dan mandiri membuat mereka sulit untuk mengubah pola pikir saat memaknai ‘menikah’. Yang ada dibenak warga jepang, baik pria ataupun wanita adalah bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk membahagiakan diri sendiri. Bagi mereka menikah seolah tak ada gunanya dan memilih hidup melajang.

Jepang [image source]
Jepang [image source]
Daftar statistik menyebutkan jika hanya ada 12,8 persen jumlah anak-anak dari populasi penduduk Jepang. Hal ini menunjukkan jumlah penduduk yang makin menurun seiring tahun. Bahkan disebut Jepang akan memiliki nilai kelahiran 0% pada 1000 tahun mendatang, jika tingkat kelahiran masih tetap sama dengan keadaan saat ini.

Namun, pemerintah Jepang tak menutup mata dengan hal ini. Beberapa kebijakan mulai dibuat untuk menarik warganya agar segera menikah. Salah satunya memberi keringanan pada wanita karir yang memiliki anak. Dimana disediakan kompensasi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak bagi mereka yang sudah memiliki buah hati.

3. China

Satu lagi negara dari benua Asia yang ternyata juga terancam cepat mengalami kepunahan, yaitu China. Bukan karena krisis atau kemiskinan yang akan membuat negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia ini akan segera punah. Namun karena masalah keseimbangan jenis kelamin yang disebut memiliki potensi membawa China ke arah kepunahan. Kebijakan pemerintah yang membatasi warganya untuk melahirkan, serta kemajuan teknologi yang bisa mengakali jenis kelamin kehamilan membuat anak laki-laki kini lebih banyak ketimbang anak perempuan.

China [image source]
China [image source]
Ketidakseimbangan ini tentu mempengaruhi keberlangsungan keturunan China di masa mendatang. Serta bisa menyebabkan perubahan struktur dan kerusuhan sosial di waktu mendatang. Meski hal ini sudah jadi kekhawatiran beberapa orang, namun kebijakan ‘satu anak’ yang sudah berjalan sejak tahun 1980 itu, masih belum mengalami modifikasi yang bisa meminimalisir dampak ketidakseimbangan jenis kelamin di negeri tirai bambu itu.

Belum lagi alasan lokasi negara China yang rentan dengan banjir, angin topan dan kenaikan permukaan laut. Bencana yang disebabkan perubahan iklim ini bisa membawa China mengalami kehancuran bersama negara lainya.

4. Jerman

Sebuah studi dari perusahaan auditor Jerman BDO dengan Hamburg Institute of International Economics (HWWI) di tahun 2015 menyebutkan, jika Jerman menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan tingkat kelahiran terkecil. Dengan 8,2 kelahiran per-1000 penduduk, Jerman telah menggeser Jepang sebagai negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Data ini didapat dari studi dalam lima tahun terakhir.

Jerman [image source]
Jerman [image source]
Sejak 1972, angka kematian di Jerman telah melebihi jumlah angka kelahiran bayi. Dengan fakta ini dapat diperkirakan jika prosentase warga usia produktif di Jerman akan mengalami penurunan dari 61% ke 54% pada tahun 2030 mendatang. Statistik terbaru menyebutkan, warga Jerman tidak hanya cenderung memiliki sedikit anak, namun juga kurang berminat untuk menikah.

5. Belanda

Belanda menjadi salah satu negara maju di benua Eropa. Pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat sejak tahun 1980-an, membuat berbagai aktivitas ekonomi utama Belanda menjadi yang terbaik di kelasnya. Walaupun sektor pertanian hanya 4%, namun Belanda mampu dalam menghasilkan kelebihan  industri makanan untuk diekspor. Bahkan nomor 3 di dunia setelah Amerika Serikat dan Perancis.

Belanda [image source]
Belanda [image source]
Namun, kemajuan negara pelopor mata uang Euro ini nyatanya harus berhadapan dengan kemungkinan kepunahannya pada 100 tahun kedepan. Bukan masalah angka kelahiran yang menurun, melainkan akibat perubahan iklim yang langsung mengancam geografi negara kincir angin tersebut. Seperti diketahui, Belanda memiliki permukaan tanah yang sangat rata. Bahkan hampir separuh negara Belanda berada kurang 1 meter dari permukaan laut. Banyak tanah yang rendah dari dpl, di bendung dengan penutup tanggul yang mengamankan daratan dari meluapnya air laut.

Belum lagi perubahan iklim yang mengakibatkan permukaan air laut terus meningkat seiring waktu. Bisa jadi bendungan yang dibuat pemerintah Belanda ini, takkan mampu menahan volume air yang makin meninggi dan menimbulkan bencana tenggelamnya negara di benua Eropa tersebut.

 

Itu tadi beberapa negara yang diprediksi akan cepat mengalami kepunahan di masa mendatang. Indonesia pun tak luput dari kemungkinan kepunahan, jika sumber daya manusianya tak mampu mengikuti alur zaman. Apalagi dengan banyaknya perusakan sumber daya alam yang dilakukan demi ekspansi berbagai industri di tanah air.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA