5 Mitos Pernikahan yang Sangat Dipercayai Orang Indonesia

oleh Centralismo
10:30 AM on May 19, 2015

Pernikahan adalah hal yang didamba-dambakan semua orang. Para lajang rasanya tidak sabar untuk menemukan pasangan hidup dan mengarungi fase hidup barunya. Di Indonesia, pernikahan menjadi sesuatu yang sangat sakral.

Selain sakral, pernikahan di Indonesia juga penuh dengan mitos. Meski kebenarannya secara logis masih sulit dijelaskan, namun mitos-mitos ini sangat dipercayai oleh masyarakat Indonesia. Berikut beberapa mitos pernikahan yang sangat terkenal di Indonesia.

Baca Juga
Bukan Metropolitan, Justru Inilah 5 Kota Paling Kaya yang Ada Di Indonesia
5 Hal Menjengkelkan Tentang SEA Games di Malaysia Ini Bikin Indonesia Meradang

1. ‘Dilangkahi’ Akan Membuat Seseorang Susah Mendapat Jodoh

Di Indonesia, pernikahan tidak hanya didasarkan pada kesiapan seseorang, namun juga berdasarkan “urutan”. Dalam sebuah keluarga, sebaiknya anak yang paling tua menikah terlebih dahulu, baru kemudian anak lainnya menyusul secara berurutan hingga anak paling kecil.

Dilangkahi Akan Membuat Susah Dapat Jodoh
Dilangkahi Akan Membuat Susah Dapat Jodoh [imagesource]
Di sinilah muncul istilah “dilangkahi”. Istilah ini dipakai untuk mereka yang didahului oleh adiknya dalam hal pernikahan. Konon, jika seseorang “dilangkahi” maka dia akan sulit menemukan jodohnya. Meski jodoh tidak ada urusannya dengan urutan lahir, namun orang Indonesia masih sangat meyakini hal ini.

2. Bunga Hiasan Rambut Mempelai Wanita Akan Mendatangkan Jodoh

Di belahan negara manapun, rasanya kaum wanita adalah yang lebih antusias dengan pernikahan. Berbeda dengan para laki-laki yang lebih suka menunda menikah dan menikmati masa lajang, para wanita banyak yang memimpikan ingin menikah muda. Namun, pertemuan dengan sang jodoh tidak bisa terjadi begitu saja.

Hiasan Rambut yang Mendatangkan Jodoh
Hiasan Rambut yang Mendatangkan Jodoh [imagesource]
Para wanita yang masih lajang, biasanya akan mengambil bunga hiasan rambut sang mempelai wanita dalam sebuah resepsi pernikahan. Bunga tersebut dipercaya akan membuat si pengambil bunga segera menyusul untuk menjadi pengantin. Percaya atau tidak, banyak sekali pengambil bunga ini segera menyusul dan menyelengarakan pernikahannya.

3. Mencari “Tanggal Baik”

Di Indonesia, tanggal pernikahan tidak menjadi hak preogratif kedua mempelai. Keluarga besar dari kedua belah pihak akan berkumpul dan berdiskusi soal tanggal baik. Tidak cukup sampai di situ, biasanya akan dilibatkan “orang tua” yang akan menentukan “tanggal dan hari baik” untuk melaksanakan resepsi.

Mencari Tanggal Baik
Mencari Tanggal Baik [imagesource]
Tanggal baik ini tidak ditentukan secara acak. Dalam kepercayaan Kejawen, tanggal baik adalah hasil perhitungan antara hari lahir kedua mempelai. Masyarakat percaya, jika perhitungan tersebut tidak dilakukan dengan cermat, akan ada kecelakaan atau rintangan yang terjadi sepanjang acara pernikahan.

4. Hubungan Keperawanan dengan Warna Inai

Memakai inai/daun pacar adalah salah satu tradisi pernikahan yang ditemukan di banyak suku di Indonesia. Adat istiadat ini sebenarnya berasal dari India yang kemudian diadaptasi oleh orang Indonesia. Sehari sebelum hari pernikahan, kuku sang pengantin akan diwarnai oleh warna dari daun pacar/inai.

Warna inai
Warna inai [imagesource]
Mitos menyebutkan bahwa warna inai akan menunjukkan apakah si mempelai wanita masih perawan atau tidak. Jika si pengantin masih perawan, maka inai yang dia pakai akan berwarna merah dan tampak mengkilap. Sementara pengantin yang tidak perawan, inainya akan cenderung pucat dan tidak indah.

5. Pawang Hujan

Hujan adalah hal yang sangat tidak diinginkan ketika mempelai tengah menyelenggarakan resepsi. Meskipun resepsi dilaksanakan dalam gedung, hujan bisa membuat urusan menjadi lebih repot dan para tamu menjadi enggan melangkahkan kaki. Orang Indonesia mengakali soal cuaca ini dengan “pawang hujan”.

Pawang Hujan
Pawang Hujan [imagesource]
Pawang hujan bisa berupa “orang pintar” yang memiliki piranti berupa bacaan-bacaan tertentu. Ada juga yang percaya bahwa pakaian dalam mempelai wanita bisa menjadi penangkal hujan. Tidak sedikit pula yang menyediakan sesajen agar sang hujan tidak datang.

Itu tadi beberapa mitos pernikahan yang beredar luas di antara kita. Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki tradisi dan kepercayaan mereka masing-masing dalam melaksanakan pernikahan. Hingga jaman modern ini, sebagian keluarga di Indonesia masih memegang teguh tradisi yang berhubungan dengan mitos tersebut.

Apakah anda termasuk orang yang percaya dengan mitos-mitos pernikahan? Atau anda punya cerita menarik soal mitos yang dilaksanakan di hari pernikahan anda? Mari berbagi cerita dengan kami. (HLH)

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA