5 Mitos Kekerasan Rumah Tangga yang Sering Dipercaya tapi Tak Sepenuhnya Benar!

oleh Adi Nugroho
07:00 AM on Sep 5, 2015

Kekerasan dalam rumah tangga adalah isu yang tak pernah selesai sejak dahulu kala. Kasus-kasus pemukulan terhadap istri, anak, atau pun juga suami kerap berakhir di meja perceraian. Atau kalau sudah parah akan berakhir di meja hijau. Kita sering beranggapan jika wanita selalu mendapat perlakukan tak baik karena ia terlalu patuh dan lemah. Selain itu, kita juga percaya jika orang yang hobinya pukul tak akan sembuh. Jadi jalan satu-satunya adalah kabur atau memenjarakan mereka!

Namun hal-hal yang sering kita percaya itu tak sepenuhnya benar, lho! Wanita tak hanya korban, pria pun juga bisa jadi korban. Wanita tak hanya jadi orang patuh, tapi ia juga kerap memancing kekerasan. Well, untuk selengkapnya, mari kita kupas satu-satu. Monggo!

Baca Juga
Inilah 4 Jasa Tak Terlupakan yang Dilakukan Malaysia Kepada Bumi Pertiwi
10 Atlet SEA Games 2017 Asal Indonesia Ini Nggak Cuma Bikin Bangga, tapi juga Cantik Jelita

1. Kekerasan Tak Hanya Perihal Pria Kuat dan Wanita Lemah yang Patuh

Dari zaman dahulu kala kita percaya jika kekerasan hanya terjadi pada wanita. Mereka yang lemah akan menerima apa saja yang dilakukan suaminya. Yang bisa dilakukan wanita hanya diam, menunduk, dan membiarkan suami atau pasangan prianya memukul sesuka hati.

Faktanya, tak semua wanita adalah orang lemah. Mereka tak hanya pihak yang kerap disakiti. Namun mereka juga bisa melakukan kekerasan pada pria. Dalam beberapa kasus, pria dan wanita akan saling pukul dan menyakiti. Jadi tidak searah saja pria menyakiti wanita.

Kekerasan bukan karena istri lemah [image source]
Kekerasan bukan karena istri lemah [image source]
Hanya saja wanita mungkin masih kalah kuat dengan pria. Akibatnya luka yang didapat pasca pertengkaran lebih banyak dialami wanita. Pria juga terluka namun tak sebanyak wanita. Hal inilah yang membuat banyak orang percaya jika wanita dihajar habis-habisan. Padahal fakta mereka juga saling pukul.

Dalam beberapa kasus yang tak banyak, pria juga kerap babak belur dihajar pasangannya. Satu dari tujuh pria pernah mengalami kekerasan fisik akibat pasangan. Jadi KDRT bukan monopoli lagi pria hajar wanita ya!

2. Orang yang Disakiti Tak Bisa Lepas dari Rasa Takut

Orang yang kerap mengalami kekerasan dalam hidupnya akan susah keluar dari rasa takut. Akibatnya mereka akan mengalami trauma dan cuma bisa pasrah dengan hidupnya. Hal ini tak sepenuhnya benar. Tak semua orang, pria dan wanita akan mengalami trauma berat.

Beberapa korban kekerasan bahkan mengaku kerap memancing pasangannya saat bertengkar. Entah itu dengan kata-kata atau malah memulai perkelahian. Kekerasan yang terjadi di masa lalu tak membuat mereka jadi takut atau apa. Justru semakin kuat untuk terus melawan meski terus kalah.

Wanita juga kerap memancing masalah [image source]
Wanita juga kerap memancing masalah [image source]
Tak semua orang yang disakiti menginginkan perceraian. Mereka bertahan karena banyak hal. Mulai dari masalah ketersediaan rumah, pangan, hingga masalah anak. Mereka akan melakukan negosiasi-negosiasi agar kehidupan jadi lebih baik.

Rasa takut dan trauma mungkin ada. Namun hal itu bisa hilang seiring berjalannya waktu. Terlebih mereka yang percaya jika pasangannya suatu saat bisa berubah. Enggak ada yang mustahil di dunia ini jika kita sudah berusaha!

3. Menyembuhkan Pelaku Kekerasan Adalah Hal yang Sangat Mustahil

Pasangan paling sempurna adalah mereka yang sama-sama baik. Saling mengerti dan tidak pernah melakukan kekerasan. Pasangan yang hidup seperti minyak dan air tak akan pernah cocok. Tak akan pernah bahagia. Yakin? Orang dengan kelakuan baik dan buruk menjadi satu pasti berakhir dengan kekerasan atau hal buruk?

Anda mungkin beranggapan jika orang yang kerap melakukan kekerasan tak bisa disembuhkan. Setiap saat mereka akan terus melakukan hal mengerikan itu kepada pasangan karena dorongan emosi. Bahkan karena dorongan kepuasan yang tak bisa diungkapkan.

 Menyembukan pelaku kekerasan mustahil [image source]
Menyembukan pelaku kekerasan mustahil [image source]
Mereka bisa sembuh dan berubah asal diberi perlakukan yang baik. Istri atau pasangan bisa perlahan-lahan membujuk suami untuk mau ke psikiater. Atau bicara dari hari ke hati tanpa ada campur tangan orang lain. Korban kekerasan bisa mengungkapkan rasa sakit atau mungkin mengingat rasa cinta di masa lalu.

Kebiasaan buruk bisa diubah perlahan-lahan. Tak langsung sembuh dengan cepat. Yang diperlukan hanya bersabar dan terus berbicara. Segala hal bisa diselesaikan asal saling mengerti. Dan caranya tak lain dan tak bukan: berbicara heart to heart!

4. Kekerasan Rumah Tangga Tak Hanya Perkara Adu Pukul

Inilah hal yang sering sekali salah kaprah. Banyak orang, mungkin termasuk kita menganggap jika kekerasan artinya pukul atau tampar. Tidak, kita telah salah! Kekerasan bisa terjadi hanya dengan ucapan yang keluar dari mulut kita. Kata-kata kasar yang keluar dan ditujukan kepada pasangan sudah merupakan kekerasan.

Kenapa begitu? Karena manusia tak hanya hidup dengan tubuh. Mereka juga hidup dengan hati dan pikiran. Kata-kata kasar yang sering muncul akan membuat mereka jadi tertekan. Bahkan ada yang mengalami stress akibat kata-kata mengerikan yang tak seharusnya keluar!

Tak hanya adu pukul [image source]
Tak hanya adu pukul [image source]
Mungkin kita menganggap asal tak memukul artinya tak ada kekerasan. Tak ada buktinya! Well, salah satu bukti kekerasan memang adanya luka di tubuh. Namun seorang psikiater bisa tahu apakah seseorang sedang sehat atau pikiran terganggu. Jadi tak ada alasan lagi untuk menyangkal.

Lagi pula, kekerasan dengan kata-kata dampaknya lebih lebih dahsyat. Perkataan mengerikan yang cenderung menghina dan merendahkan akan dirasakan dengan cepat. Mungkin sakit di tubuh tak seberapa daripada sakit di hati!

5. Penyelesaian dari Semua Masalah Adalah Pergi

Apa saran anda jika mengetahui ada orang yang mengalami kekerasan rumah tangga? Kalau enggak menyuruhnya pergi dari rumah ya melaporkannya ke pihak yang berwajib. Namun, saran itu bisa jadi benar untuk sementara. Namun apa dengan pergi dari rumah lantas masalah akan selesai? Suami atau istri akan menjadi lebih baik dan tidak abusive lagi?

Jawabannya tidak! Banyak orang yang tetap menjadi tukang pukul bagi pasangannya usai pasangan pergi dan kembali. Segala bujuk rayu yang dilakukan agar pasangan kembali berakhir lagi dengan pukulan, tamparan, atau juga kata-kata kotor!

Minggat tak menyelesaikan masalah [image source]
Minggat tak menyelesaikan masalah [image source]
Penyelesaian masalah ini yang paling utama adalah bicara. Saling mengerti lagi satu sama lain. Mencari cara agar pasangan yang suka mengamuk tak emosian lagi. Segala hal bisa dilakukan dengan perlahan-lahan. Minggat dari rumah malah membuat mereka semakin menyimpan amarah.

Jika cara bicara dengan baik-baik tak kunjung menghasilkan titik temu. Lantas kekerasan terus dilakukan bahkan lebih intens. Tak ada cara lain untuk mengatasinya selain melaporkannya ke pihak berwajib apa pun risikonya. Karena pada dasarnya pasangan yang baik akan mau berubah demi kebaikan bersama.

Itulah lima mitos tentang kekerasan rumah tangga atau KDRT yang sering kita percaya. Semoga hal mengerikan seperti ini tak menimpa kita atau orang di sekitar kita. Karena kekerasan tak pernah membawa kebahagiaan! Tidak akan pernah!

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA