Misteri Kematian Kartini yang Tak Pernah Terungkap Hingga Kini

Andai dulu kematian Raden Ajeng Kartini diusut, mungkin rasa penasaran tidak akan diwariskan hingga era modern ini

oleh Nikmatus Solikha
16:00 PM on Apr 21, 2017

Tanggal 21 April ini, masyarakat di penjuru negeri memperingati ‘Hari Kartini’ yang merupakan pahlawan bagi perempuan Indonesia. Tanggal tersebut adalah hari lahir dari sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita. Selama ini, beliau dikenang dengan beragam jasanya yang membuat wanita bisa setara dengan laki-laki.

Namun, adakah yang mengingat hari kematiannya? Raden Ajeng Kartini meninggal di usia yang sangat muda, beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya. Namun, ada beberapa kejanggalan yang tak pernah diungkap. Berikut ini adalah lima misteri meninggalnya Kartini yang seolah diabaikan.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Kartini melahirkan bukan ditolong oleh dokter langganan

Saat merasakan kontraksi, sang suami memanggil dokter sipil Rembang langganan Kartini, Bouman. Namun sayangnya dokter tersebut sedang tidak ada ditempat. Akhirnya suaminya pun memanggil dokter Belanda bernama Ravesteijn dari Pati.

Ilustrasi Melahirkan [image source]
Dokter tersebut memang membantu Kartini melahirkan. Proses persalinan Kartini cukup memakan waktu lama, hingga akhirnya dokter Ravesteijn menggunakan jalan pintas dengan memakai alat bantu yang tak jelas apa namanya. Pada pukul 21.30, Kartini pun akhirnya berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sehat.

Meninggalnya sangat mendadak

Putra pertamanya yang diberi nama Raden Mas Soesalit. Bayinya sehat dan ibunya juga selamat. Namun, empat hari kemudian dokter Van Ravesteyn datang untuk memeriksa keadaan Kartini. Dari pemeriksaan tersebut, dokter mengatakan semua baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Bahkan, mereka sempat minum anggur bersama untuk merayakan kehadiran putra Kartini.

RA. Kartini [image source]
Tapi, tak lama setelah dokter Belanda tersebut pergi, Kartini mengeluh sakit di bagian perutnya. Dokter pun kembali ke rumah Kartini. Kondisi kesehatan Kartini berubah mendadak dan terkesan tidak wajar. Setengah jam setelah kedatangan dokter Van Ravesteyn, nyawa Kartini ternyata tak tertolong. Perempuan tersebut meninggal di usia 25 tahun.

Reputasi Ravesteijn sebagai dokter sangat buruk

Setelah kematian Kartini, dokter Bouman yang merupakan langganan keluarga Kartini pun melakukan penyelidikan. Dokter Bouman pun menemukan fakta bahwa Ravesteijn adalah dokter yang tidak dapat dipercaya. “Kudanya saja tidak akan dipercayakan pada dokter itu,” kata Bouman seperti dikutip Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979).

Dokter yang menangani persalinan Kartini tidak bisa dipercaya [image source]
Desas-desus pun banyak terdengar setelah kematian Kartini. Banyak yang mengatakan jika Kartini tewas diracun. Hal itu dikarenakan Belanda ingin Kartini bungkam atas pemikiran-pemikiran majunya. Namun, meski banyak desas-desus negatif mengenai kematian Kartini, pihak keluarga mengatakan ikhlas menerima kematian tersebut.

Keluarga tidak mengusut kematian Kartini

Banyaknya isu negatif tentang kematian Kartini rupanya tidak membuat keluarganya ingin mengusut kematian Kartini. Mereka menganggap jika kematian wanita 25 tahun tersebut murni karena berjuang melahirkan buah hatinya.

Keluarga Kartini ikhlas atas kematiannya [image source]
Dugaan penyebab kematian tersebut pun tetap menjadi misteri. Sutiyoso Condronegoro, salah satu keponakan dari Kartini mengakui isu miring tersebut tidak dapat dibuktikan. Keluarga besar juga mengatakan jika kematian usai persalinan memang hal yang lumrah akibat prosesnya yang berat.

Sindrom Pre-eklampsia

Para dokter di era modern ini meyakini bahwa Kartini meninggal akibat mengalami Sindrom Pre-eklampsia. Sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan protein dalam urin, dan pembengkakan pada tungkai. Hal itu biasanya dialami oleh ibu muda yang baru hamil anak pertama. Hingga kini, sindrom tersebut belum diketahui apa penyebabnya hingga belum bisa melakukan pencegahan.

Putra tunggal Kartini [image source]
Gejala-gelaja yang dialami oleh para ibu biasanya adalah sakit kepala, rasa nyeri di bagian perut dan dada, mual, gangguan penglihatan hingga hilangnya kesadaran. Namun, Sindrom Pre-eklampsia hanya dugaan, dan belum bisa dipastikan 100% jika kematian sang Pendekar Bangsa ini adalah lantaran sindrom tersebut.

Itulah misteri kematian Kartini yang tak terungkap hingga kini. Apapun itu, yang jelas Kartini merupakan sosok pahlawan yang berjuang demi bangsa. Bahkan, kematiannya pun setelah berjuang demi anaknya. Semoga perempuan tangguh tersebut diberikan tempat yang layak di sisi-Nya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA