Bagaimana Orang yang Buta atau Tuli Mengalami Mimpi?

oleh Tetalogi
07:00 AM on Mar 8, 2016

Otak adalah pusat dari realitas manusia karena di sinilah tempat manusia menyimpan dan menata semua informasi yang diterima sepanjang hidup. Dengan menggunakan indera dan pemahaman yang mendalam, otak memanfaatkan segala informasi ini saat tidur untuk memunculkan fenomena kompleks yang disebut mimpi.

Saat tidur, mimpi cenderung menggabungkan penglihatan, pembau, perasa, sentuhan, dan pendengaran untuk menciptakan skenario dalam mimpi. Tapi, bagaimana jika seseorang tersebut tidak memiliki kemampuan penginderaan tersebut? Bagaimanakah seorang yang buta atau tuli mengalami mimpi mereka?

Baca Juga
Dinobatkan Jadi Atlet Tercantik dan Terseksi SEA Games 2017, Ini Lho Pesona Lindswell Kwok Yang Bikin Indonesia Bangga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main

Kebutaan Sejak Kecil

Mereka yang mengalami kebutaan sejak masih kecil antara usia 5-7 tahun, seringkali mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pengalaman visual saat bermimpi. Hasil pemindaian otak juga mendukung dengan pernyataan tersebut.

Ilustrasi anak kecil yang buta [Image Source]
Ilustrasi anak kecil yang buta [Image Source]
Mimpi seseorang yang tidak memiliki ingatan atau tidak pernah melihat apa yang dilihat di dunia nyata cenderung menekankan pada indera yang lain seperti suara, sentuhan, bau, dan rasa. Indera ini berperan lebih besar dalam interaksi mereka terhadap dunia di sekitarnya. Menariknya lagi, seseorang yang buta ternyata 4 kali lebih mungkin mengalami mimpi buruk daripada mereka yang bisa melihat.

Buta Setelah Pernah Bisa Melihat

Orang-orang yang dulunya pernah bisa melihat tapi kemudian mengalami kebutaan, masih memiliki simpanan ingatan apa yang pernah mereka lihat. Mereka biasanya memiliki pengalaman visual dalam mimpinya sepanjang hidupnya. Tapi hal ini juga tergantung pada seberapa banyak yang bisa ingat dan jangka waktunya.

Ilustrasi buta [Image Source]
Ilustrasi buta [Image Source]
Penggambaran visual yang muncul bisa berbeda mulai dari gambaran yang pernah dilihat, atau sekedar bentuk dan bayangan dengan bentuk yang tidak jelas. Semakin lama orang tersebut mengalami kebutaan, maka pengalaman visual dalam mimpi mereka juga semakin sedikit.

Mimpi Orang yang Tuli

Berlawanan dengan orang yang buta, mereka yang tuli memiliki mimpi yang lebih visual dan percakapan yang muncul dalam mimpi juga bersifat visual. Namun, mereka yang telah tuli sejak usia antara 5-7 tahun atau sejak kecil tidak memiliki sensasi suara dalam mimpinya.

Anak kecil dengan alat bantu pendengaran [Image Source]
Anak kecil dengan alat bantu pendengaran [Image Source]
Sedangkan orang-orang yang dulu bisa mendengar tapi sekarang tuli, menyebutkan bahwa mereka mendengar suara dalam mimpi, namun semakin jarang muncul ketika mereka semakin tua. Semakin mereka lupa dengan suara yang pernah didengar, semakin abstrak pula sensasi suara yang dialami dalam mimpi. Lalu, bagaimana jika orang tersebut buta sekaligus tuli?

Mimpi Mereka yang Menderita Buta dan Tuli

Sosok paling terkenal yang mengalami dua kondisi ini adalah Laura Bridgman dan Helen Keller. Kedua wanita ini kehilangan penglihatan dan pendengaran karena penyakit yang diduga scarlet fever di usia yang sangat muda. Laura Bridgman di usia 2 tahun, dan Hellen Keller di usia 9 bulan.

Laura Bridgman [Image Source]
Laura Bridgman [Image Source]
Bridgman mengatakan bahwa ia bisa melihat sesuatu dalam mimpinya meskipun diperdebatkan karena kemungkinan salah mengartikan “apa yang dilihat” dengan “apa yang dirasakan”. Tapi, ia menyebutkan bahwa dirinya memimpikan sebuah kejadian. Dalam mimpinya, ia memahami berada di situasi tertentu dan bukannya melihat atau mendengar situasi tersebut. Ia tahu apa yang terjadi, tapi tidak bisa melihat dan mendengarnya.

Pengalaman Mimpi Hellen Keller

Hellen Keller menceritakan pengalaman yang lebih mendetail tentang pengalamannya. Mimpinya ternyata berubah setelah gurunya mengajari bahasa isyarat untuk menginterpretasikan dunia di sekelilingnya. Sejak usia 6 tahun sebelum ia memahami bahasa isyarat, mimpinya kosong dan tidak memiliki pemikiran atau emosi apapun kecuali satu, rasa takut.

Hellen Keller [Image Source]
Hellen Keller [Image Source]
Dalam setiap mimpinya, ia akan berlari ke sebuah ruangan dan berdiri diam di sana sambil merasakan getaran benda-benda yang jatuh ke tanah di sekitarnya. Ia sangat ketakutan dengan mimpinya. Ketika ia mulai belajar tentang dunia di sekitarnya, mimpi yang ia alami lama-kelamaan tidak lagi menakutkan dan ia bisa memahami serta mengevaluasi apa yang terjadi di mimpinya.

Ketika pertama kali mendengar cerita tentang Gadis Berkerudung Merah, ia bermimpi ada di mulut serigala dan ia tidak bisa melepaskan diri. Yang bisa ia lakukan hanyalah membuat isyarat dengan tangannya. Ia menyebutkan bahwa dirinya sangat bersemangat di usia tersebut dan dengan mudah menerima kesan tentang apa yang ada di sekelilingnya. Tapi saat ia semakin tua, mimpinya kebanyakan tentang skenario di luar dirinya sendiri. Sesuatu yang lebih menyenangkan dan lembut.

Kebanyakan dari kita semua memang mengalami mimpi dengan cara yang serupa. Tapi kehilangan salah satu indera saja bisa membuat pengalaman bermimpi menjadi sesuatu yang sangat unik. Bahkan terkadang juga membuat mimpi menjadi sesuatu yang tidak terlalu jelas.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
error put content