Mengenal Paul Tibbets, Pria yang Bertanggung Jawab Atas Hancurnya Hiroshima

oleh Rizal
07:00 AM on Jul 10, 2016

Melihat Hiroshima yang sangat indah hari ini, tentu kita takkan pernah lupa kalau kota satu ini pernah sangat buruk rupa. Jangankan bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan, yang ada justru potongan-potongan tubuh yang tercerai berai kemana pun mata memandang. Ya, Hiroshima pernah jadi saksi kejamnya bom atom yang menghujam jantung mereka dan sukses membuat kota ini seperti diorama kiamat skala 1:1.

Hal yang paling di-notice alias diperhatikan dari kejadian ini umumnya hanya seputar jumlah korban, radiasi, atau mungkin alasan-alasan. Tak banyak yang membicarakan Paul Tibbets, padahal dialah orang yang jadi eksekutornya. Ya, serdadu Amerika ini boleh dibilang sebagai sosok yang bertanggung jawab atas matinya ratusan ribu orang Hiroshima serta hancurnya kota indah ini.

Baca Juga
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi

Paul Tibbets mungkin jadi nama yang asing bagi kita, tapi untuk orang Jepang sosoknya ibarat malaikat maut yang mencabuti nyawa para leluhur. Lebih jauh tentang Tibbets, berikut adalah fakta-fakta dari sang eksekutor Hiroshima.

1. Paul Tibbets, Pilot yang Tak Direstui Sang Ayah

Paul adalah salah satu pilot terbaik Amerika di masa Perang Dunia II. Makanya, kemudian ia dipercaya untuk misi pengeboman Hiroshima. Menjadi penerbang terbaik, siapa sangka jika pada mulanya ia tak direstui di pekerjaan itu. Sang ayah, lebih menyukainya bekerja sebagai dokter.

Paul Tibbets [Image Source]
Paul Tibbets [Image Source]
Namun, Paul sendiri lebih tertarik dengan militer, hingga hal ini membuat ayahnya marah. “Jika kau ingin bunuh diri, silakan. Aku tak peduli,” begitu ucap sang ayah yang ditirukan Paul dalam sebuah wawancara. Tapi, meskipun sang ayah ogah, namun ibu Paul justru mendukungnya. Dari hal kecil ini, nantinya akan terjadi kengerian gila di Hiroshima.

2. Menjadi Pilot Terbaik dan Mengemban Misi Gila

Pilihan Paul untuk masuk militer ternyata tak salah. Di sana ia bertumbuh menjadi seorang serdadu yang kuat luar biasa. Ia masuk Angkatan Udara dan terlibat dalam berbagai misi penting. Hingga akhirnya ia diberi penghargaan sebagai pilot terbaik Angkatan Udara AS kala itu.

Menjadi pilot terbaik [Image Source]
Menjadi pilot terbaik [Image Source]
Dengan riwayat kerja yang prestisius, Paul pun menarik perhatian seorang jendral bernama Uzal Ent. Dari sini kemudian si pembunuh Hiroshima ini diputuskan untuk menjadi pilot pesawat B-29 yang nantinya dipakai untuk salah satu misi paling keji di Perang Dunia II.

3. Belajar Tentang Misi Gila AS

Sebelum benar-benar mengeksekusi misinya, Paul dikarantina selama beberapa lama. Di sana ia diajari apapun yang berhubungan dengan misinya. Mulai soal betapa mengerikannya benda yang bakal dibawanya, sampai tentang bagaimana manuver menghindari bomnya sendiri.

Dr Oppenheimmer [Image Source]
Dr Oppenheimmer [Image Source]
Ia belajar dengan Dr Oppenheimmer yang dikenal juga sebagai pemrakarsa bom atom. Tak hanya itu, ia dilatih pula oleh para instruktur berpengalaman yang akhirnya memastikan Paul sudah sangat siap untuk misi pembantaian penduduk Hiroshima.

4. Operasi Dilakukan dan Penghargaan Baru

Sebelumnya AS sudah memperhitungkan kapan waktu yang pas untuk misi ini dilakukan. Lalu dikatakan jika pagi hari adalah momen yang pas karena mempertimbangkan satu dan lain hal. Hingga tibalah waktunya, saat itu pukul 08.15 tanggal 6 Agustus 1945, pesawat B-29 yang dikemudikan Paul dan anak buahnya sudah ada di langit Hiroshima. Tanpa basa-basi, kemudian bom atom seberat 4000 kg itu pun dijatuhkan.

Bom Hiroshima
Bom Hiroshima

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Hiroshima hancur berantakan. Paul pun hanya bisa terhenyak melihat ini dan kemudian segera bermanuver seperti yang sudah dipelajarinya selama latihan. “Satu cahaya yang terang memenuhi pesawat dan kami memutar pesawat kembali untuk melihat Hiroshima. Kota tersebut tersembunyi di balik awan yang mengerikan itu,” begitu ungkap Paul.

Setelah misi keji selesai, Paul kembali ke pangkalan yang ada di Pulau Tinian. Ia pun disambut sebagai pahlawan dan mendapatkan penghargaan baru berupa medali Distinguished Service Cross.

5. Bom Hiroshima Jadi Karma Untuk Kehidupan Pribadi Paul

Setelah misi berdarah ini Jepang pun takluk se-takluk-takluknya dengan sekutu. Hal ini pun sekaligus mengakhiri Perang Dunia II dengan kemenangan di pihak AS dan teman-temannya. Bagi paul hal ini juga jadi berita bagus walaupun pada akhirnya ia mengalami banyak masalah keluarga.

Masa tua Paul Tibbets [Image Source]
Masa tua Paul Tibbets [Image Source]
Mungkin tidak ada korelasinya, tapi setelah Perang Dunia II, rumah tangga Paul kacau. Ia bercerai dari istri yang sangat dicintainya karena sebab yang tak jelas. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang wanita Perancis. Paul sendiri meninggal tahun 2007 lalu. Meskipun terlihat tenang, pastinya sedikit banyak ia merasakan sedikit sesal atas apa yang pernah dilakukannya.

Kejadian ini sangat bersejarah bagi orang-orang Hiroshima walaupun sangat menyakitkan tentu saja. Meskipun demikian, soal bom ini mereka terus menggelar peringatan-peringatan untuk mengenang kejadian mengerikan itu. AS sendiri menganggap penghancuran Hiroshima adalah yang terbaik. Menurut mereka, jika tidak seperti ini maka makin banyak nyawa yang tak bisa diselamatkan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA