Mengenal Lebih Dalam Kaharingan, Agama Suku Dayak yang Sudah Ada Sejak Ratusan Tahun Lalu

oleh Rizal
07:00 AM on Jul 27, 2016

Ada begitu banyak hal yang bisa kita kulik soal suku Dayak. Tak hanya tentang perjuangan mereka di zaman kemerdekaan atau rumor soal magisnya orang-orang sana, tapi juga hal yang bersifat fundamental macam agama. Ya, diketahui ternyata orang-orang Dayak punya agama mereka sendiri yang bernama Kaharingan. Hal yang uniknya dari agama ini adalah keberadaannya yang diduga sudah lama sekali. Bahkan sebelum 6 agama besar yang ada di Indonesia.

Kaharingan hari ini dianut oleh setidaknya 300 ribuan orang yang menyebar di seluruh Kalimantan. Selama ini orang-orang Kaharingan hidup dengan aman tentram dan tak dipermasalahkan ketika melakukan kegiatan ibadah. Hanya, saja sampai sekarang pemerintah belum benar-benar mengakui keberadaan mereka. Padahal kalau dilihat dari sejarah dan juga orisinalitas, Kaharingan layak untuk diangkat pula.

Baca Juga
Fakta Silat Marunda, Warisan Maut Si Pitung yang Bikin VOC Terkencing-kencing Tak Berdaya
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting

Nah, masih soal Kaharingan, berikut ini adalah fakta-fakta dari agama suku Dayak tersebut yang mungkin belum pernah kamu ketahui sebelumnya.

Sebutan Tuhan untuk Agama Kaharingan Berbeda-Beda

Sebagai aliran kepercayaan tentu dalam Kaharingan ada sosok yang menjadi Tuhan. Nah, uniknya, penyebutan untuk Tuhan di agama ini bermacam-macam. Tak universal seperti Allah dalam Islam atau Yesus dalam Kristen, di Kaharingan ada tiga versi nama Tuhan yang dibedakan berdasarkan wilayahnya.

Sebutan Tuhan di Kaharingan [Image Source]
Sebutan Tuhan di Kaharingan [Image Source]
Misalnya kalau di Barito Tuhan Kaharingan disebut Yustu Ha Latalla, sedangkan di Kotawaringin Barat disebut Sanghyang Dewata. Meskipun di beberapa tempat nama Tuhannya berbeda, tapi mayoritas pemeluk Kaharingan menyebut sang pencipta sebagai Ranying Hatalla Langit yang kalau diartikan adalah Kuasa yang Maha Besar.

Berbagai Ritual Unik Suku Kaharingan

Sama seperti agama lain, Kaharingan juga punya berbagai ritual keagamaannya sendiri. Untuk ibadah rutin misalnya, mereka punya ritual yang bernama Baserah yang dilakukan tiap hari Kamis. Ada juga upacara Nanuhan atau ritual penamaan bayi, serta Lunuk Hakaja Pating alias upacara pernikahan.

Ritual keagamaan Kaharingan [Image Source]
Ritual keagamaan Kaharingan [Image Source]
Untungnya, sebagai agama yang belum mendapatkan pengakuan, orang-orang Kaharingan tidak dilarang untuk melakukan semua ritual keagamaannya. Mereka juga mendapatkan perlindungan pemerintah daerah asal yang dilakukan tidak menyangkut-pautkan dengan agama lain. Orang-orang Kaharingan sangat bersyukur bisa merasa bebas seperti ini.

Ritual Kematian Unik Ala Kaharingan

Tak hanya pernikahan dan kelahiran, agama Kaharingan juga memperingati kematian. Nah, untuk kematian, mereka akan melakukan sebuah upacara super mahal yang bernama Tiwah. Disebut mahal karena untuk menggelontorkan upacara ini seseorang setidaknya harus menyediakan uang sekitar Rp 200 jutaan.

Upacara Tiwah [Image Source]
Upacara Tiwah [Image Source]
Upacara ini sendiri dilakukan dengan mengumpulkan binatang ternak yang ditempatkan di pusat lingkaran yang terdiri dari manusia-manusia. Kemudian gendang ditabuh dan orang-orang yang membuat lingkaran tadi mulai menari sambil bergerak memutar. Lalu dalam satu sesi, para keluarga yang meninggal itu menombak hewan-hewan ternak tersebut. Setelah binatangnya mati, kemudian mereka akan bergerak memutar lagi. Biasanya upacara ini dilakukan oleh banyak orang sekaligus. Hal itu dirasa lebih ringan daripada menggelar Tiwah sendiri yang memakan biaya sebanyak itu.

Minimnya Pengakuan Negara Kepada Kaharingan

Meskipun sudah ada di Indonesia sejak sebelum agama lain muncul, tapi hingga hari ini Kaharingan masih belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Hal ini sangat menyulitkan orang-orang Dayak pemeluk agama ini. Misalkan saja ketika mengisi KTP, mereka bingung harus memilih apa karena Kaharingan tak tercantum di sana. Mereka boleh tidak mengisinya, namun nantinya pasti dianggap tak beragama.

Kaharingan belum diakui [Image Source]
Kaharingan belum diakui [Image Source]
Di zaman Orba orang-orang Kaharingan lebih sering mendapatkan diskriminasi, terutama dalam hal birokrasi. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, mulai berkas lamaran menjadi PNS yang tertolak, mengurus ini itu susah dan lain sebagainya. Untungnya, yang semacam ini sekarang sudah tak ada. Penyebab utamanya adalah lantaran Kaharingan pada akhirnya diintegrasikan dengan Hindu

Diakui Lantaran Terintegrasi Dengan Agama Hindu

Karena sangat susah untuk berdiri sendiri, kemudian diputuskan Kaharingan akan berintegrasi dengan Hindu. Kenapa Hindu? Penilaiannya adalah dari banyaknya kesamaan antara dua agama ini, mulai dari ritual peribadatan, sampai relasi dengan sejarah Kutai yang jadi kerajaan Hindu pertama di Kalimantan. Akhirnya di tahun 1980, Kaharingan resmi dianggap sebagai bagian dari Hindu.

Kaharingan terintegrasi dengan Hindu [Image Source]
Kaharingan terintegrasi dengan Hindu [Image Source]
Dengan status seperti ini, orang-orang Kaharingan dipermudah untuk semuanya. Mulai dari melamar PNS, mendapatkan bantuan, sampai hak makam. Sebenarnya integrasi Kaharingan dan Hindu adalah sesuatu yang menimbulkan polemik. Pasalnya, ada sebagian penganut Kaharingan yang tak setuju jika Hindu disamakan dengan agama mereka. Alasannya pun banyak, mulai dari nama Tuhan yang berbeda, sampai kitab dan juga nama ritual peribadatan yang tak juga tak serupa.

Para penggiat Kaharingan sampai hari ini tetap berjuang untuk mendapatkan pengakuan. Bahkan sudah terbentuk pula dewan-dewan macam Sarikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) atau Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI). Surat usulan pun juga bolak balik dilayangkan, namun belum ada tanggapan. Meskipun demikian, orang-orang Kaharingan tetap berharap suatu saat nanti agama ini bisa diakui statusnya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA