6 Makanan Pernikahan Tradisional Paling Laris Manis

oleh titi
10:45 AM on Apr 9, 2015

Pernikahan merupakan tahapan awal bagi pasangan baru untuk membina hubungan rumah tangga. Untuk mempersiapkan pesta pernikahan, Ada beberapa item yang patut dipersiapkan matang-matang, salah satunya adalah makanan.

Meski perkembangan makanan di Indonesia tercampur dengan budaya luar, namun ada beberapa makanan unik zaman dulu yang masih dipertahankan dan masih tampil cantik di meja sajian. Berikut kita simak makanan tradisional yang masih laku hingga sekarang.

Baca Juga
4 Fakta Mengenai Sindrom Kleine-Levin, Kelainan yang Bikin Pengidapnya Jadi Tidur Berbulan-Bulan
Jualan Pisang Goreng Hingga Tidur di ‘Bilik Asmara,’ Inilah 5 Hal Unik yang Dialami Pengungsi Gunung Agung

1. Jenang

Jenang menjadi makanan fenomenal bagi masyrakat Indonesia. Cita rasa yang menggigit di mulut ini menjadi alasan masyarakat Indonesia mempertahankan makanan yang dimasak di dalam wajan besar. Jenang dijadikan simbol ungkapan syukur pada pencipta bagi pemilik hajatan.

Jenang (c) wikipedia
Jenang (c) wikipedia

Selain acara pernikahan, jenang juga hadir diberbagai perayaan masyarakat Jawa. Namun bagi Anda yang memiliki masalah dengan gigi, disarankan jangan memakan makanan satu ini. Takutnya Anda harus mendatangi dokter gigi esok harinya, karena setelah makan bisa-bisa gigi yang menancap pada jenang, bukan jenang yang lengket di gigi.

2. Roti Buaya

Bagi Suku Betawi, Roti Buaya menjadi maskot utama dalam perayaan pernikahan. Hidangan yang berbentuk buaya dan mempunyai cita rasa manis ini dipercaya sebagai lambang kepercayaan dan kesetiaan dalam sebuah perkawinan.

Roti-Buaya (c) wikipedia
Roti-Buaya (c) wikipedia

Selain itu, roti buaya juga melambangkan kemapanan. Roti buaya yang biasanya diletakkan di sisi mempelai perempuan ini masih bertahan hingga sekarang meskipun banyak hidangan baru yang hadir dipesta pernikahan adat betawi.

3. Kelicuk

Kelicuk merupakan makanan khas asal Rejang, Sumatera Selatan. Makanan yang terbuat dari campuran pisang dan beras ketan menjadi hidangan wajib bagi suku Rejang Sumatera Selatan ketika acara pernikahan. Hidangan ini masih banyak dijumpai di kabupaten Kapahiang dan sekitarnya.

Kelicuk (c) quickiwiki
Kelicuk (c) wikipedia

Bentuk kerucut yang dimiliki Kelicuk ini melambangkan pengantin yang menikah diharapkan tidak mengalami kemandulan atau cepat dikaruniai anak. Konon banyak warga sekitar yang mengalami kemandulan sehingga dibuatlah tradisi dan Kelicuk menjadi hidangan utama tradisi tersebut.

4. Rengginang

Meski makanan satu ini sering terlihat di meja tamu masyarakat jawa, namun makanan yang terbuat dari nasi atau beras ketan ini juga menjadi sajian wajib di pesta pernikahan. Meskipun tidak ada mitos atau kepercayaan yang dianut, tapi makanan ini laris ketika musim kawin datang.

Rengginang (c) fahmiart
Rengginang (c) fahmiart

Biasanya, Rengginang diletakkan dalam toples-toples sehingga tidak mudah melempem. Adapula yang membuat Rengginang dalam bentuk mini sehingga sekali makan langsung habis.

5. Madumongso

Selain Rengginang, Madumongso juga menjadi hidangan yang laris di acara pernikahan. Makanan ringan yang terbuat dari ketan hitam mempunyai rasa asam bercampur manis karena ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tapai.

Madumongso (c) travelmatekamu
Madumongso (c) travelmatekamu

Yang membuat menarik dari makanan satu ini adalah bungkus cantik yang menutupinya. Dengan kombinasi warna yang beragam membuat makanan satu ini dicari anak-anak.

6. Orem-orem

Orem-orem memang jarang terlihat menjadi hidangan di acara pernikahan. Namun di Malang, Jawa Timur, makanan yang berbahan dasar irisan tempe goreng, ayam dan dimasak bersama kuah santan kental ini menjadi hidangan utama perayaan pernikahan.

Orem-orem (c) anomharya
Orem-orem (c) flickr

Selain itu, Orem-orem juga digunakan untuk acara syukuran di daerah penghasil apel ini. Meski sejak tahun 1980-an masakan tersebut bisa didapatkan di pedagang kaki lima, tapi cita rasa yang dimiliki tidak sama jika membeli di luar Malang. Hal ini karena bahan dasarnya menggunakan tempe khas Malang, dan menggunakan bumbu-bumbu lokal yang nendang cita rasanya.

Beberapa makanan mungkin mulai punah, namun masih ada dari masyakat yang mempertahankan jajanan khas ini meski hanya lewat acara pernikahan. Selain cara membuat mudah dan murah, cita rasanya tidak kalah dengan makanan asing lainnya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA