Mengenal Laksamana Muda Maeda, Perwira Tinggi AL Jepang yang Membantu Indonesia Merdeka

oleh Adi Nugroho
07:00 AM on Aug 24, 2016

Dalam buku teks sejarah kita kerap mendengar bahwa ada Laksamana Muda Maeda yang notabene orang Jepang justru membantu kemerdekaan Indonesia. Dia yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat, secara diam-diam membantu pergerakan kemerdekaan di Indonesia hingga proklamasi menjadi sebuah kenyataan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Perjuangan Laksamana Maeda tidaklah sedikit. Dia rela pasang badan demi kemerdekaan Indonesia meski akhirnya hidup sengsara di negaranya. Oh ya, untuk lebih mengenal lebih jauh tentang siapa sosok Jepang yang sangat berjasa ini, simak uraiannya di bawah ini.

Baca Juga
4 Fakta Mengenai Sindrom Kleine-Levin, Kelainan yang Bikin Pengidapnya Jadi Tidur Berbulan-Bulan
Jualan Pisang Goreng Hingga Tidur di ‘Bilik Asmara,’ Inilah 5 Hal Unik yang Dialami Pengungsi Gunung Agung

Bersimpati dengan Indonesia Sejak Lama

Simpati seorang Laksamana Maeda tidak muncul begitu saja usai ditugaskan ke Indonesia. Jauh sebelum Jepang berbuat ulah dan memicu perang dunia II, Laksamana Maeda pernah bertugas menjadi atase militer Jepang di Belanda dan Jerman pada tahun 1930-an. Di sana, dia bertemu dengan banyak sekali pelajar dari Indonesia yang berjuang sekuat tenaga agar bisa lepas dari kekuatan Belanda.

Laksamana Maeda [image source]
Laksamana Maeda [image source]
Perjuangan yang gigih dari Nazir Pamuntjak, Ahmad Subardjo, AA Maramis, hingga Muhammad Hatta membuat Laksamana Maeda bersimpati. Mereka bahkan berteman baik sejak berada di Belanda meski berbeda negara dan akhirnya menjadi musuh saat Jepang mengambil alih Indonesia di tahun 1942.

Mendirikan Sekolah Politik di Jakarta

Entah karena takdir atau memang kebetulan, Laksamana Maeda dipindahkan ke Indonesia pada tahun 1942. Di Jakarta, dia mendirikan sebuah sekolah politik bernama Asrama Indonesia Merdeka dua tahun berselang berkat bantuan beberapa pemuda yang berjuang untuk memajukan pendidikan di Indonesia secara diam-diam karena Jepang terus mengawasi.

pendiri sekolah politik [image source]
pendiri sekolah politik [image source]
Akhirnya gelombang pertama dari sekolah itu memulai aktivitasnya dengan Soekarno sebagai pengajar Politik, Sanoesi Pane sebagai pengajar sejarah, Hatta sebagai pengajar Ekonomi, Sjahrir sebagai pengajar sosialisme, dan Ahmad Subardjo sebagai pengajar hukum internasional. Selama enam bulan mereka berhasil meluluskan 30 orang murid yang akhirnya ikut berjuang dalam kemerdekaan NKRI.

Menjadikan Rumahnya untuk Perumusan Teks Proklamasi

Setelah Jepang menyerah pada sekutu, Soekarno dkk. semakin dituntut untuk menyegerakan proklamasi kemerdekaan. Akhirnya peristiwa Rengasdengklok pun terjadi sehingga membuat Laksamana Maeda panik. Saat Soekarno dkk. berjanji akan melakukan proklamasi kemerdekaan, mereka digiring ke rumah Laksamana Maeda yang sudah menunggu sejak lama.

Rumah Maeda (Museum Proklamasi) [image source]
Rumah Maeda (Museum Proklamasi) [image source]
Di dalam rumah yang terletak di Jalan Meiji Dori No.1 itu semua orang mulai menyusun teks proklamasi. Soekarno, Hatta, dan para pemuda lain berembuk dengan cepat agar pagi harinya rencana ini bisa segera dilaksanakan. Setelah rancangan teks jadi dengan lengkap, Sajuti Melik mengetiknya menggunakan alat yang dipinjam anak buah Laksamana Maeda dari Kantor Perwakilan Angkatan Laut Jerman.

Memperjuangkan Indonesia Selayak Samurai hingga Akhir

Saat Jepang benar-benar kalah, Indonesia memasuki status quo. Para tentara dari  Jepang ditangkap dan kemudian dikembalikan ke negaranya. Pada tahun 1946, Laksamana Maeda ditangkap sekutu dan dibawa ke Singapura. Di sana dia diinterogasi perihal perannya dalam membantu Indonesia merdeka. Saat penyidik terus bertanya apakah Indonesia adalah negara bentukan Jepang, Maeda menolak. Dia tetap bersikukuh mengatakan Indonesia merdeka dengan sendirinya.

Keluarga Maeda [image source]
Keluarga Maeda [image source]
Berkat pengakuannya ini, Laksamana Maeda dikucilkan di negerinya sendiri. Segala akses sosial untuk Laksamana Maeda dipersulit dan membuatnya hidup menderita. Meski hidup dengan serba kekurangan Laksamana Maeda tidak menyesal, apa yang dia lakukan adalah perbuatan benar. Harga diri dan kehormatan bangsa memang butuh pengorbanan yang besar. Untuk itu dia mau melakukannya meski bukan untuk Jepang tapi Indonesia.

Untuk menghormati jasa Laksamana Maeda yang sangat besar bagi negeri ini, Pemerintah Indonesia mengundang beliau pada upacara perayaan 17 Agustus tahun 1973. Beliau juga mendapatkan Bintang Jasa Nararya yang merupakan bintang jasa tertinggi ketiga di Indonesia.

Pada tahun 1977, Laksamana Maeda akhirnya meninggal dunia. Namun, jasa-jasanya pada negeri ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Dia adalah seorang Jepang yang rela berkorban jiwa raga untuk kemerdekaan Indonesia.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA