Mengintip Kamikatsu, Kota yang Nggak Punya Sampah

oleh Tetalogi
10:15 AM on Jan 19, 2016

Sampah sekarang ini seolah memang sudah menjadi masalah serius bagi banyak masyarakat. Nggak cuma di Indonesia saja, beberapa negara lain juga menghadapi masalah dengan sampah. Padahal himbauan untuk menggunakan bahan daur ulang dan dampak buruk sampah bagi lingkungan sudah sering digaungkan. Tapi tetap saja masih banyak orang yang tidak peduli dengan hal ini.

Butuh komitmen kuat dari setiap masyarakat jika ingin lingkungan kembali bersih dan sehat, bukan cuma pemerintah saja. Nah, komitmen dari warga Kamikatsu ini bisa dibilang luar biasa hebat dalam hal pengelolaan sampah. Sampai akhirnya kota ini disebut sebagai “zero waste” alias tanpa sampah!

Baca Juga
Ternyata Beberapa Negara Ini Benderanya Terinspirasi Dari Majapahit Loh, Mana Saja Tuh
Bikin Emosi! Rombongan Pemuda Indonesia Ini Malah Sengaja Membentangkan Bendera Secara Terbalik

Memisahkan Sampah Jadi 34 Kategori

Kalau di kebanyakan daerah lain seperti di Indonesia, tempat sampah biasanya hanya ditandai dengan organik – non organik atau basah – kering. Di Kamikatsu, sampah dipisahkan menjadi 34 kategori. Jangan dikira pemisahan ini dilakukan petugas daur ulang, tapi warga sendiri!

Sampah yang sudah dipilah-pilah [Image Source]
Sampah yang sudah dipilah-pilah [Image Source]
Sampah kertas dipisahkan menjadi: koran, majalah, karton dan selebaran. Sementara sampah kaleng kembali dibagi menjadi beberapa bagian seperti alumunium, botol semprotan, dan baja. Bahkan untuk botol plastik, botol dan tutupnya dipisahkan dan dimasukkan ke wadah yang berbeda. Niat banget, kan!

Warga yang Niat Banget Punya Desa Bersih

Di kota kecil ini nggak ada truk sampah. Lalu siapa yang membawa sampahnya ke tempat daur ulang? Ya warganya sendiri. Bahkan nggak cuma untuk urusan mengangkut, warga harus mencuci, dan memilah-milah sampahnya sendiri.

Warga memilah sampah sendiri di rumahnya
Warga memilah sampah sendiri di rumahnya

Pekerja di tempat daur ulang kemudian memeriksa lagi sampah-sampah yang sudah dipisah-pisahkan itu untuk memastikan bahwa pemisahannya sudah benar. Memang butuh waktu untuk terbiasa, tapi dengan niat setiap warga untuk tinggal di kota yang bersih, mereka bisa juga melakukannya. Hal ini karena mereka sadar, punya kota yang bersih itu tanggung jawab setiap orang yang tinggal di sana.

Repot Tapi Penting Untuk Dilakukan

Memang kelihatan repot sih, sampai harus memilah-milah dan membersihkan sampah-sampah tersebut sendiri. Tapi ya itu adalah bentuk tanggung jawab mereka untuk lingkungan dan diri sendiri. Warga sendiri tidak menganggap hal tersebut repot karena memang lingkungan yang bersih dan indah itu adalah keinginan bersama.

Warga memisahkan sampah sesuai jenisnya [Image Source]
Warga memisahkan sampah sesuai jenisnya [Image Source]
Kota kecil ini memiliki misi untuk menjadi komunitas tanpa sampah pertama tahun 2020 nanti. Dan saat ini, mereka sudah mendekati target tersebut. Bagaimana tidak, saat ini Kamikatsu sudah berhasil mendaur ulang 80 persen sampah mereka dan 20 persen lainnya dikubur untuk mengisi tanah. Proses tersebut sudah berjalan selama 12 tahun.

Pada tahun 2003, mereka sadar bahayanya membuang sampah ke sembarang tempat dan membakar sampah bagi lingkungan dan populasi mereka. Karena itulah mereka kemudian mendeklarasikan ambisi untuk menjadi kota tanpa sampah.

Daur Ulang Sudah Menjadi Hal yang Diwajibkan di Jepang

Bukan cuma Kamikatsu, wilayah lain juga sudah mempraktikan daur ulang ini. Sektor bisnis diwajibkan untuk melakukan daur ulang. Hebatnya lagi, negara ini punya sistem pemilahan sampah yang begitu terperinci. Di Yokohama saja, masyarakat diberikan buku panduan setebal 27 halaman yang berisi tentang bagaimana caranya memilah-milah lebih dari 500 sisa sampah.

Warga Kamikatsu sendiri mengatakan bahwa jika sudah terbiasa, melakukan pemilahan sendiri seperti ini adalah hal yang wajar dan normal. Mereka bahkan sudah tidak terlalu memikirkan hal seperti ini dan memilah-milah sampah dengan benar sudah menjadi hal sehari-hari yang biasa saja.

Komitmen mereka untuk menjaga alam dan tinggal di lingkungan yang bersih patut diacungi jempol. Tapi kalau di Indonesia diberlakukan seperti ini, mungkin reaksi pertama yang muncul adalah “aduh ribet!”, “lalu pasukan kuning buat apa!”, “banyak kerjaan, nggak ada waktu buat milah sampah”, “ini kan tugas pemerintah” dan seterusnya. Tapi mungkin juga orang-orang yang benar-benar peduli dengan lingkungan akan mendukung.

Tapi mungkin yang paling penting, kebiasaan buang sampah sembarangan itu yang perlu diatasi terlebih dulu…

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA