Kisah Berdirinya Tugu Pahlawan yang Tidak Banyak Diketahui Orang

oleh Tetalogi
12:00 PM on Nov 10, 2015

Di Indonesia, 10 November diperingati sebagai hari pahlawan untuk memperingati pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945. Indonesia sebenarnya sudah mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, namun tentara Belanda yang masih ingin menguasai Indonesia terus berusaha menyerang Indonesia. Maka pertempuran tidak bisa dihindarkan.

Untuk memperingati peristiwa ini, maka dibangunlah Tugu Pahlawan di Surabaya. Monumen yang berdiri di tengah kota di jalan Pahlawan Surabaya ini diresmikan pada 10 November 1951, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Namun ternyata, ada banyak hal unik yang tidak diketahui tentang berdirinya tugu ini, lho.

Baca Juga
6 Alasan Kenapa One Piece Nggak Pernah Bikin Penggemar Bosen Meski Sudah 20 Tahun
Inilah 4 Alasan Mengapa Profesi TKI Bisa Bikin Seseorang Jadi Kaya Mendadak

1. Diprakarsai Oleh Dul Arnowo

Dul Arnowo adalah sosok yang juga berjasa dalam perjuangan dan pertempuran Surabaya untuk mempertahankan NKRI. Ia adalah sosok populer di kalangan pejuang Jawa Timur, dan sejak 2 September 1945, ia pula yang memprakarsai untuk membentuk pemerintahan Kota Surabaya yang menjadi bagian dari Indonesia dalam proklamasi 17 Agustus 1945. Ia pula yang berusaha memutar otak mengumpulkan dana untuk operasional pemerintahan.

Doel Arnowo [Image Source]
Doel Arnowo [Image Source]
Tahun 1951, Dul Arnowo kemudian diangkat menjadi Wali Kota Surabaya. Ia mengganti nama-nama jalan di Surabaya yang dulunya menggunakan nama Belanda, kemudian ia pula yang memprakarsai pendirian Tugu Pahlawan. Pembangunan Tugu Pahlawan ini bertujuan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan NKRI yang tentu bukan perkara mudah.

2. Didirikan di Bekas Gedung Kenpeitai

Puing-puing reruntuhan Gedung Kenpeitai menjadi pilihan untuk lokasi karena tempat ini pernah membawa penderitaan yang begitu sulit dan tidak mudah dilupakan oleh para pejuang kemerdekaan. Di sinilah para pejuang yang dianggap melawan Jepang ditawan dan disiksa. Saat pertempuran 10 November 1945, tempat ini pulalah yang menjadi pusat gerakan pemuda sehingga menjadi bulan-bulanan peluru musuh.

Reruntuhan Gedung Kenpeitai [Image Source]
Reruntuhan Gedung Kenpeitai [Image Source]
Pertempuran-pertempuran yang terjadi di Markas Kenpeitai yang kemudian menjadi Markas PTKR (Polisi Tentara Keamanan Rakyat) ini akhirnya hanya menyisakan reruntuhan dan puing-puing saja. Kolonialisme ikut hilang dengan hancurnya gedung ini.

3. Pertentangan Antara Membangun Tugu Pahlawan Atau Perumahan

Hambatan pertama dalam pembangunan Tugu Pahlawan adalah munculnya sanggahan dari beberapa kalangan di Surabaya. Mereka berpendapat bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat perumahan, bukan tugu. Meski begitu, dengan dukungan dari rakyat, rencana ini tetap bisa berlangsung seperti semula.

Rancangan Tugu Pahlawan dalam Koran [Image Source]
Rancangan Tugu Pahlawan dalam Koran [Image Source]
Namun, pembangunan tugu ini akhirnya tidak diteruskan oleh Dul Arnowo karena ia dipindahkan ke Surabaya. Sementara itu, upaya pembangunan kemudian dilanjutkan oleh walikota Surabaya yang baru yaitu R. Mustajab.

4. Rancangan Bangunan yang Sempat Ditolak Oleh Presiden

Seorang utusan dikirim ke Jakarta untuk menunjukkan rancangan tugu tersebut kepada Presiden. Namun ternyata rancangan tersebut ditolak dan Presiden menyarankan untuk membuat tugu dengan bentuk “paku”.

Soekarno
Soekarno [image source]
Utusan selanjutnya berangkat ketika Surabaya sudah dipimpin oleh R. Mustajab. Ia memperlihatkan 12 rencana yang disusun sesuai dengan petunjuk dari Presiden. Kemudian, satu rancangan akhirnya dipilih namun tiang bendera yang rencananya dipasang di puncak tugu harus dihilangkan.

5. Sempat Harus Melalui Pengerjaan 40 Jam Non-Stop

Dengan bantuan dari berbagai jawatan, maka pada 20 Februari 1952 akhirnya dimulailah pembangunan Tugu Pahlawan. Untuk membuat pondasinya, tanah harus digali hingga sebanyak 620 meter kubik. Selanjutnya dilakukan pengecoran beton yang dilakukan oleh Indonesian Engineering Corporation.

Proses Pembuatan Tugu pahlawan [Image Source]
Proses Pembuatan Tugu pahlawan [Image Source]
Untuk pembuatan beton ini menghabiskan besi sebanyak 19 ton. Pengecoran yang harus diselesaikan secara sekaligus membuat 120 orang harus bekerja bergiliran selama 40 jam non-stop. Akhirnya, pekerjaan tahap ini berhasil selesai pada 3 Juni 1952.

6. Rencana Awal 45 Meter, Namun Berhasil Berdiri Setinggi 41,15 Meter atau 45 Yard

Tubuh monumen ini berbentuk lengkungan berjumlah 10 buah dan terbagi sebanyak 11 ruas. 10 dan 11 di sini melambangkan 10 November. Sementara itu, tinggi tugu ini seharusnya 45 meter untuk melambangkan tahun 1945, sehingga bisa sesuai dengan peringatan peristiwa 10 November 1945.

Tugu Pahlawan yang Sudah Berdiri [Image Source]
Tugu Pahlawan yang Sudah Berdiri [Image Source]
Rencana tugu setinggi 45 meter ini batal karena kekuatan tugu untuk bisa menyangga hingga setinggi 45 meter tidak terpenuhi. Kalaupun tetap ingin membuat setinggi 45 meter, maka rencana pengerjaan akan makan waktu lebih lama sedangkan waktu untuk mengerjakan tugu ini hanya 1 tahun saja. Selain itu, adanya peraturan mengenai penerbangan malam juga membuat tugu ini dikurangi tingginya sehingga hanya menjadi 45 yard atau 41,15 meter.

7. Biaya Pembangunan Sebesar Setengah Juta

Pembangunan tugu ini tidak tanpa kesulitan karena dengan tingginya yang sampai puluhan meter, melakukan pengecoran juga menjadi sulit. Selain itu, beberapa pekerja juga takut untuk memanjat setinggi itu sehingga gaji mereka ditambah menjadi tiga hingga 4 kali lipat. Dari perhitungan terakhir, pembangunan ini memakan biaya kurang lebih setengah juta rupiah.

Tugu Pahlawan Kini [Image Source]
Tugu Pahlawan Kini [Image Source]
Dana yang digunakan untuk membangun tugu ini merupakan dana sumbangan dari para dermawan termasuk rakyat yang ikut menyumbangkan dana. Beberapa di antaranya seperti dari Persatuan Kaum Ibu, Pasar Malam PMI-Phin Lauw Yuan, Persibaya (Sebelum berubah menjadi Persebaya), Hadiah dari Bung Karno, Ikatan Pegawai Negeri di Penataran Angkatan Laut Surabaya, Istri Gubernur Jatim yaitu Bu Samadikun, dan masih banyak lagi.

Jika dibandingkan dengan sekarang ini, pembangunan besar seperti ini tentu tidak sesulit pada masa itu. Apalagi saat itu Indonesia baru saja mulai menata kembali negara dan berusaha bangkit setelah masa penjajahan. Namun untuk usaha menghormati dan mengenang perjuangan keras para pahlawan, kita patut berbangga dengan didirikannya Tugu Pahlawan ini sebagai simbol pertempuran besar 10 November yang pernah terjadi di Surabaya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA