Kisah Pahlawan Islam Super Cerdas, Shalahuddin Al-Ayubi

oleh Sofia Fitriani
09:15 AM on Mar 18, 2015

Jika kita pernah menonton film yang dibintangi oleh Orlando Bloom berjudul Kingdom of Heaven, tentu kita tak asing lagi dengan nama Shalahuddin Al-Ayubi. Sosok kaisar Islam yang saat itu berhasil mengambil Yerusalam dan menjamin keamanan tentara Salib yang berhasil dikalahkannya, sehingga mereka bisa pergi meninggalkan Yerusalam dengan aman dan selamat. Ketika kita melihatnya, tentu tersentuh hati kita oleh kebaikannya, sosok yang berwibawa dan menepati janjinya. Namun, benarkan sosok Shalahuddin Al-Ayubi itu seperti yang digambarkan di cerita tersebut?

Ternyata sosok Shalahuddin Al-Ayubi jauh lebih luar biasa, dan banyak teladan yang bisa kita ambil dari sosok yang mendapat julukan Singa Padang Pasir ini. Shalahuddin lahir dengan nama lengkap Yusuf bin Ayub bin Syadzi, panggilannya adalah Abu Al-Muzhffar, pada tahun 532 H di Tikrit, salah satu perkampungan suku Kurdi yang terletak di Irak bagian utara. Ayahnya, Najmuddin diangkat sebagai gubernur di daerah Ba’labak. Shalahuddin terkenal sebagai seorang hafidz atau orang yang hafal Al-Qur’an, pandai baca-tulis, hafal Hadits, pandai Fiqh, Bahasa Arab, Ilmu Kedokteran, dan Nasab Orang-orang Arab.

Baca Juga
Jualan Pisang Goreng Hingga Tidur di ‘Bilik Asmara,’ Inilah 5 Hal Unik yang Dialami Pengungsi Gunung Agung
Nggak Terima Anaknya Ditegur, Orangtua Zaman Now Langsung Hajar Guru SMA di Kendari

salahuddin al-ayubi
salahuddin al-ayubi

Setelah kematian Sultan Nuruddin Mahmud, Shalahuddin yang sebelumnya pernah diangkat oleh Sultan Nuruddin sebagai Polisi di wilayah Damaskus, pada tahun 581 H itu berhasil menyatukan Mesir, Syam, Yama, serta Irak bagian utara di bawah kekuasaannya. Shalahuddin melatih sendiri para pasukannya. Dia melatih mereka ilmu perang, bela diri, dan juga ikut membangun sendiri bersama pasukannya armada dan benteng-benteng pertahanan perang.

Shalahuddin Al-Ayubi  memang di kenal sangat sulit tersenyum atau bahkan tertawa. Wajahnya selalu serius namun terlihat tenang dan berwibawa. Ketika suatu hari pernah ada yang bertanya kepadanya kenapa sangat jarang sekali terlihat tersenyum atau tertawa, dengan sedih Shalahuddin menjawab, “ Bagaimana mungkin saya bisa tertawa sedangkan Masjid Al-Aqsa masih ditawan.”. Masya Allah…

Shalahuddin Al-Ayubi terkenal sebagai pemimpin pasukan Islam dalam Perang Hiththin. Perang ini dimulai ketika Shalahuddin mengumumkan secara umum tentang jihad untuk merebut Baitul Maqdis dari para tentara Salib. Berbondong-bondong para mujahid datang dari seluruh penjuru untuk bergabung dengan pasukan Shalahuddin Al-Ayubi. Pada hari Sabtu, tanggal 25 Rabi’ul Akhir tahun 583 H, Shalahuddin dan pasukannya berhasil menguasai sumber-sumber air yang ada di kawasan Tobariyah.

Setelah berhasil menang pada perang Hiththin, Shalahuddin Al-Ayubi dan pasukannya kemudian menuju ke arah Baitul Maqdis. Baitul Maqdis saat itu ada dalam cengkeraman pasukan Salib selama 91 tahun, dan Shalahuddin beserta pasukannya hendak membebaskannya. Pertempuran yang terjadi antara pasukan Shalahuddin dan pasukan Salib berlangsung sangat sengit dan bertepatan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh pasukan Shalahuddin, dan kemudian mereka juga berhasil membebaskan wilayah Thabariyah, Uka, Shoeda, Gaza, Nablis, Asqalan, dan beberapa kota lainnya.

Walaupun telah menang dari pasukan Salib, namun kebaikan hati dan toleransi kuat dari seorang Shalahuddin Al-Ayubi tak pernah dilupakan para musuh yang telah dikalahkannya. Shalahuddin memperlakukan tawanan dan tahanan perangnya dengan baik sekali. Mereka diberikan perlindungan dan rasa aman. Shalahuddin juga menugaskan para Polisinya untuk berkeliling dan mengawasi jikalau ada kekerasan yang menimpa para tawanan dan tahanan perangnya.

Shalahuddin juga terkenal sangat memperhatikan pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di wilayah Mesir. Pada masa kepemerintahannya, ilmu pengetahuan melesat sangat cepat dan begitu menonjol. Selain itu Shalahuddin juga mendirikan Pasar di Qasr Al-Aini untuk menjual buku-buku, serta juga mendirikan Rumah Sakit. Shalahuddin meninggalkan Mesir dan menetap di Suria selama 19 tahun. Dia mendirikan beberapa sekolah dan Rumah Sakit juga di sana. Dan pada tahun 589 H, Shalahuddin Al-Ayubi rahimahullah meninggal dunia pada usia 58 tahun di Damaskus.

Nah, semoga sedikit kisah dari Shalahuddin Al-Ayubi ini bisa memberikan teladan dan inspirasi bagi kita. Bahwa seorang pemimpin itu harus mau ikut turun berperang juga bersama pasukannya, harus cerdas dan mau langsung terjun mengajari bawahannya, menjadi sosok guru dan bahkan pelindung yang memberi rasa nyaman dan aman, serta bisa juga menjadi sosok yang kuat dan harus berani dalam berjuang membela Islam. Semoga bermanfaat. (sof)

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA