Mengulik Kisah Hidup D.N. Aidit, Pria Agamis yang Jadi Petinggi PKI

oleh Rizal
14:09 PM on Jul 30, 2016

Beberapa waktu lalu sempat jadi trend soal video seorang remaja yang ditempelengi hanya gara-gara ia memakai pin PKI. Tak lama setelahnya, beredar berita toko baju yang kena sidak gara-gara menjual kaos beratribut PKI. Kejadian-kejadian ini jadi bukti jika sebenarnya masyarakat Indonesia belum bisa move on dari kebencian terhadap PKI. Organisasi komunis ini masih jadi barang sensitif walaupun eksistensinya sudah lenyap lebih dari setengah abad lalu.

Berbicara soal PKI, tak lepas dari dua hal. Ya, G30s dan si ketua umumnya yang bernama Ahmad Aidit yang kemudian ganti nama menjadi Dipa Nusantara (DN) Aidit. Tokoh satu ini dianggap sebagai master mind alias otak busuk dari tragedi paling buruk dalam sejarah Indonesia itu. Di zaman orba, menyebut nama Aidit saja sudah bisa dianggap dosa. Dan hal tersebut nampaknya masih bertahan sampai hari ini.

Baca Juga
Fakta Silat Marunda, Warisan Maut Si Pitung yang Bikin VOC Terkencing-kencing Tak Berdaya
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting

Mendalami kisah hidup Aidit mungkin akan bikin sakit hati, namun kita perlu tahu juga sisi lain dari tokoh kontroversial satu ini. Apakah ia memang sekeji itu merencanakan kudeta termasuk menyilet-nyilet para jendral? Berhubung beliaunya sudah meninggal dan bukti super validnya masih hilang entah kemana, ya, kita hanya bisa berasumsi saja.

Ahmad Aidit Adalah Remaja Agamis yang Lurus

Kalau lihat apa yang sudah dilakukannya, kita mungkin mengira kalau Aidit awalnya adalah pemuda bar-bar yang idealis. Namun, kalau dibaca-baca lagi kisah masa lalunya, ternyata hal-hal seperti ini tak ada. Justru kenyataannya berkebalikan dengan persepsi banyak orang. Aidit adalah pemuda alim yang lurus.

D.N. Aidit muda [Image Source]
D.N. Aidit muda [Image Source]
Si Amat, panggilan Aidit pas remaja, punya riwayat keagamaan yang bagus. Ia sangat dekat dengan hal-hal Keislaman terutama karena sang ayah adalah tokoh agamis yang cukup penting di Belitung. Sang bapak yang bernama Abdullah, juga mendirikan perkumpulan bernama Nurul Islam yang berbasis Muhammadiyah. Si Ahmad, pemuda ini cukup aktif di dalamnya.

Buang Nama Ahmad dan Dalami Marxisme

Jakarta adalah pelabuhan selanjutnya yang dituju oleh Ahmad setelah lama di Belitung. Lalu, entah mungkin untuk menandai sesuatu, ia pun membuang nama Ahmad dan menggantinya dengan Dipa Nusantara. Di Jakarta Aidit bersekolah di Sekolah Dagang sembari membuat dirinya sibuk di perhimpunan Demokratik Sosial Hinda Belanda yang jadi awal mula PKI.

D.N. Aidit dan PKI [Image Source]
D.N. Aidit dan PKI [Image Source]
Di organisasi itu, Aidit melahap hidangan Marxisme pertamanya. Idealisme itu rupanya begitu masuk ke rusuk-rusuk Aidit sehingga ia menjadikannya sebagai jalan hidup. Seiring dengan pemahaman dan pengaplikasian Marxisme yang makin yahud, posisi Aidit di organisasi ini melonjak. Dengan sikap militannya, DN Aidit berhasil memuncaki salah satu organisasi terbesar di Indonesia itu.

PKI Meng-Indonesia dan Mendunia di Bawah Aidit

Marxisme yang kadung menancap ditambah kemampuan orator yang hebat, membuat Aidit dalam waktu yang sebentar saja sukses menjadikan PKI salah satu partai terkuat di Indonesia. Massanya lebih dari 55 persen pada pemilu di tahun 1955. PKI pun juga sukses mengembangkan sayapnya lewat berdirinya banyak organisasi lain, mulai Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia, Lekra dan lain sebagainya.

PKI menggurita [Image Source]
PKI menggurita [Image Source]
Tak hanya greget di Indonesia, PKI juga punya prestasi yang mendunia. Kala itu, organisasi ini adalah partai yang massanya terbesar nomor tiga di dunia setelah Uni Soviet dan RRC. Makin tahun, PKI semakin di depan, rakyat pun banyak yang terpikat dengan Aidit dan konsep-konsep kerakyatannya. Ditambah lagi posisi Aidit makin dikenal di kalangan elit macam Bung Karno. Makin kuat saja PKI.

Kehancuran PKI Karena Kebengisannya Sendirinya

PKI mungkin bahkan sangat mungkin menguasai Indonesia jika mereka melalui cara biasa, lewat pemilu dan sebagainya. Sayangnya, mereka malah memilih bar-bar dengan melakukan kudeta laknat itu. Pada awalnya mungkin mereka merasa menang karena berhasil menculik dan membantai para jenderal, tapi rupanya takdir tak mengizinkan mereka untuk berbuat lebih jauh lagi.

Diorama G30S [Image Source]
Diorama G30S [Image Source]
Tak butuh waktu lama, PKI pun berbalik jadi yang dimangsa oleh rakyat. Para petingginya dicari lalu dibunuh. Orang-orang yang berhubungannya pun juga diperlakukan demikian. Dan juga DN Aidit sendiri yang diburu seperti kriminal kelas berat. Menurut literatur sejarah, Aidit melarikan diri ke Yogyakarta namun berhasil ditemukan kemudian dibunuh saat itu juga.

Simpang Siur Kematian Aidit

Tak hanya peristiwa G30s yang mengandung banyak kontroversi, kematian sang ketua pun juga ternyata tak lepas dari itu. Tentang kematian, versi pertama tadi mengatakan jika Aidit dimatikan di Yogyakarta. Namun, di versi lain ada yang mengatakan pria Belitung ini mati di Boyolali.

Penangkapan Aidit (berbaju putih)[Image Source]
Penangkapan Aidit (berbaju putih)[Image Source]
Kronologi kematian versi kedua lebih panjang. Jadi, Aidit berhasil tertangkap tapi tak langsung didor. Ia diberi waktu untuk memberikan pidatonya yang terakhir. Katanya, orasi Aidit saat itu benar-benar bikin tersinggung para tentara dan semua yang mendengarnya. Lalu tanpa perlu menunggu lama lagi sang pimpinan PKI ini dimatikan. Nah, yang jadi misteri selanjutnya adalah kuburan Aidit yang hingga detik ini tak pernah benar-benar diketemukan.

Jasad Aidit lenyap tak berbekas tapi cerita tentang dirinya masih punya gaung hingga hari ini. Sayangnya, bukan kesan positif yang ditinggalkannya, justru sebaliknya. DN Aidit, pria biasa tapi punya pengaruh ini, sudah sukses menciptakan salah satu babak kelam dalam sejarah Indonesia. Selama PKI dan G30S masih lekat dengan dirinya, maka selama itu nama Aidit takkan pernah suci.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA