Kerasnya Perjuangan Menghidupi Keluarga Dengan Menjadi Buruh Kupas Mangga

oleh Vyra Sofia
18:00 PM on Jan 22, 2015

Bagi seorang ibu, Zumarsih sudah sangat bersyukur bisa makan sehari-sehari bersama keluarganya. Meski dengan nasi yang dicampur dengan gaplek dan dilengkapi sambel sebagai lauk sudah sangat disyukuri oleh Zumarsih dan keluarga. Hidup di zaman yang serba modern ini, dimana kehidupan semakin maju teknologi dan bangunan-bangunan besar semakin berkembang, tidak membuat kehidupan Zumarsih dan keluarganya semakin membaik. Justru, membuat Zumarsih semakin merasakan himpitan ekonomi yang mendatanginya.  Kesenjangan status dan ekonomi masih saja menjadi masalah.

Daerah yang gersang
Daerah yang gersang

Zumarsih yang berprofesi sebagai pekerja pabrik kecil olahan mangga di daerah Tiron, Kediri. Di awal bulan Oktober, di daerah ini tumbuh dengan subur pohon mangga. Daerah ini selain mangga, tak ada tanaman lain yang bisa tumbuh karena tanahnya yang tandus. Apalagi padi yang membutuhkan banyak air. Hanya saat hujan saja mereka bisa menanam padi. Di musim kemarau hanya jagung dan singkong saja yang bisa mereka panen. Oleh karena itulah, mangga merupakan penghasilan utama dan satu-satunya harapan bagi warga Tiron setempat. Para warga setempat menanam dan memanen mangga di lahan milik perhutani. Mereka harus membayar 250.000 per enam bulan untuk tiap hektar tanah yang mereka gunakan.

Baca Juga
4 Hal Negatif yang Mungkin Akan Dialami Masyarakat Jika Penggunaan KTP Sebagai Syarat SIM Card Terlaksana
Tukang Bakmi Bak Seleb, Gaya dan Dandanan Jamila “Janda” Dijamin Bikin Publik Melongo

https://www.youtube.com/watch?v=9grvLmoQKQw

Dahulu, sebelum ada perkumpulan ibu-ibu yang membentuk pabrik kecil di daerah ini, mangga yang melimpah ruah seringkali terbuang sia-sia.  Namun, saat ini mangga tak akan terbuang sia-sia lagi, karena dengan adanya pabrik  ini, mangga bisa diolah menjadi berbagai macam produk. Mulai dari keripik, dodol, manisan, hingga minuman sari mangga. Namun, kualitas produk  pabrik ini masih kalah dengan pabrik besar lainnya. Besar harapan ibu-ibu ini agar produknya bisa didistribusikan dengan luas ke kota-kota lain.

Buruh Kupas Mangga
Buruh Kupas Mangga

Di pabrik itulah Zumarsih membanting tulang demi memberikan tambahan uang untuk menghidupi kedua anaknya serta orang tuanya yang sudah renta. Di pabrik rumahan ini, ia hanya menjadi buruh kupas mangga karena ia terhitung masih baru. Ia baru dua tahun bergabung di pabrik ini. Ia digaji dengan 2500 rupiah per jam. Semenjak ada pabrik ini, paling tidak ia bisa menghasilkan belasan rupiah untuk membiayai keluarganya. Dengan tambahan sekitar 15.000 per harinya merupakan sebuah anugerah bagi Zumarsih.

Meskipun begitu, dengan uang sejumlah itu ia masih belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan anak-anaknya. Bayangkan saja, dengan belasan  rupiah yang ia dapatkan sehari untuk menanak nasi saja tidak cukup, apalagi dengan kebutuhan yang lain, dan juga memberi uang jajan kepada anak-anaknya.  Anak-anaknya yang masih SD wajar jika ingin seperti teman-temannya yang  bisa jajan di luar. Namun, hal ini tidak bisa diwujudkan Zumarsih sebagai ibu mereka. Sebagai ibu, ia sangat sedih ketika anaknya meminta uang, ia kerap kali tidak bisa memberi, lantaran uang yang sangat pas-pasan.

Keluarga Zumarsih
Keluarga Zumarsih

Tiap usai pulang kerja Zumarsih dan anak-anaknya bersama-sama harus mengarungi jalan berbatu dan mendaki sangat jauh untuk mencuci singkong yang akan dijadikan gaplek. Hal tersebut dikarenakan Zumarsih tidak mempunyai sumur sendiri. Disamping itu, gaplek sangat penting bagi Zumarsih dan keluarganya, karena jika tidak ada gaplek, maka nasi tidak cukup untuk dimakan satu keluarga.

Zumarsih sedang memasukkan singkong untuk dijadikan gaplek
Zumarsih sedang memasukkan singkong untuk dijadikan gaplek

Setelah sampai di sungai, Zumarsih dan anak-anaknya langsung  mengambil air dan mulai mencuci singkong. Susah memang, hidup di daerah tandus yang susah air di kampong Sumber Bendo ini. Meski sudah menggali sedalam apapun, air tak akan keluar. Sehingga,  satu-satunya cara untuk mendapatkan air bersih yaitu dengan mendaki hingga ke sumber air yang berada di balik bukit selama .

Zumarsih dan anaknya berjalan menuju sumber sungai
Zumarsih dan anaknya berjalan menuju sumber sungai

Singkong dicuci dengan meletakkan singkong miliknya di area air sungai yang telah diberi beberapa batu agar singkong yang telah diletakkan tidak hanyut oleh arus air. Zumarsih tak takut singkongnya hilang dicuri, karena rata-rata penduduk sekitar termasuk orang-orang yang jujur  yang tidak mungkin mencuri barang penduduk lainnya yang sama-sama masih hidup dibawah garis kemiskinan. Di sungai inilah Zumarsih dan anak-anaknya mengisi air untuk kebutuhan sehari-hari yaitu memasak, minum, dan sebagainya.  Singkong pun esoknya sudah bisa diambil kembali oleh Zumarsih dalam keadaan bersih.

merendam singkong di aliran sungai
merendam singkong di aliran sungai

Kesulitan ini yang dialami terasa sedikit ringan bagi Zumarsih karena anak-anak Zumarsih turut membantu dengan ikhlas tanpa mengeluh meski harus berjalan sangat jauh. Kebersamaan inilah yang membuat Zumarsih tetap semangat. Sebenarnya ia tak tega terhadap anak-anaknya, namun bagaimana lagi? Orang tuanya sudah tidak seperti dulu lagi yang kuat dan bisa membantu Zumarsih. Orang tua Zumarsih hanya bisa berada di rumah dan menunggu anak-anak Zumarsih.

Lantai rumah yang berpasir Kelud
Lantai rumah yang berpasir Kelud

Zumarsih dan keluarganya hidup dengan menumpang di bagian belakang rumah orang tuanya. Dengan berdindingkan anyaman bambu dan berlantai pasir sisa dari bencana gunung kelud yang lalu. Sebagian dari rumah ini sudah berdinding bata hasil dari bantuan pemerintah. Namun, tetap saja, rumah ini masih tidak layak untuk dihuni.

Zumarsih menanak nasi dicampur gaplek
Zumarsih menanak nasi dicampur gaplek

Memasak pun ia masih menggunakan kayu bakar, karena Zumarsih tak mampu membeli gas dan kompor. Di malam hari pun sangat gelap. Ia hanya menumpang listrik ke kerabat sebelah untuk menyalakan satu lampu redup agar anak-anaknya bisa belajar di malam hari.

Ia harus membayar 30.000 tiap bulannya agar lampu tetap bisa menyala tiap harinya. Anak-anaknya adalah satu-satunya harapan keluarga oleh karena itu ia tidak mau lampu terputus sehingga kegiatan belajar anak-anaknya terhambat. Dengan rajin belajar, Zumarsih berharap anak-anaknya bisa mengentaskan kemiskinan di keluarganya.

Zumarsih menemani anak-anaknya belajar dengan satu lampu yang redup
Zumarsih menemani anak-anaknya belajar dengan satu lampu yang redup

Dengan keadaan yang serba susah inilah yang membuat Zumarsih menjadi buruh kupas di pabrik. Kiriman dari suaminya yang merantau sebagai kuli bangunan yang berangkat bersama rombongan lain masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Suaminya bekerja sepanjang tahun, hanya sekali setahun ia pulang. Pekerjaan suaminya sebagai kuli bangunan membuat Zumarsih tidak tenang.  Rasa khawatir dan takut dialami Zumarsih. Ia khawatir jika tiba-tiba ia mendapat kabar buruk tentang suaminya. Tak hanya Zumarsih yang selalu menantikan kedatangan suaminya. Anaknya pun selalu menanyakan ‘ Kapan Bapak pulang?’. Ia seringkali terlihat murung. Ia merasa iri karena melihat teman-temannya yang bisa berkumpul dengan orang tuanya yang lengkap. Bisa makan bersama, belajar, dan sebagainya. Sedangkan ia sendiri tidak tahu dimana bapaknya kerja dan kapan bapaknya akan pulang. Zumarsih sebagai ibu merasa sangat sedih. Kerap kali anaknya menanyakan Bapaknya, ia hanya bisa menjawab bahwa Bapaknya sedang kerja.

Zumarsih yang senatiasa menanti suaminya pulang
Zumarsih yang senatiasa menanti suaminya pulang

Tiap hari Zumarsih dilingkupi rasa harap dan cemas. Ia berharap suaminya cepat pulang dan bisa bekerja di daerahnya saja. Ia ingin bisa berkumpul dengan keluarga yang lengkap. Dengan begitu, ia bisa bersama-sama memikul beban hidup yang ada di keluarga.

Zumarsih yakin bahwa roda kehidupan itu berputar. Ia yakin kelak keluarganya bisa menikmati kehidupan yang layak.  Harapan inilah semangat bagi hidupnya saat ini sambil menunggu kedatangan suaminya dari kota perantauan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA