Menengok Kehidupan Hedon Para Pemimpin Negara Saat Rakyatnya Tengah Menderita

Di rakyatnya kelaparan, mereka malah hidup dengan anggaran negara, bukan koruptor namun menguras uang negara

oleh Arief Dian
10:00 AM on Jun 19, 2017

Pemimpin sejati memang seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat di atas pribadi. Apalagi jabatan yang dia miliki memang diperoleh dari hak suara rakyat. Memang seharusnya dia mengerjakan amanat untuk memberikan keadilan dan kesejahteraan.

Namun berbeda dengan beberapa pemimpin ini. Bukannya mencoba menyelesaikan masalah rakyat, mereka justru berfoya-foya dengan anggaran negara. Jadinya rakyat tambah menderita, sedang pemimpinnya acuh akan hal tersebut. Seolah hati nurani telah mati, pemimpin negara ini tidak menjalankan apa yang diamanati. Jadi seperti apa kehidupan hedon pemimpin itu? Simak ulasan berikut.

Baca Juga
Inilah 4 Fakta Meikarta, Kota Baru yang Katanya Bakal Menyaingi Ibukota
Inilah 4 Jasa Tak Terlupakan yang Dilakukan Malaysia Kepada Bumi Pertiwi

Beli karpet merah yang mubazir

Karpet mubazir

Sebuah kegiatan foya-foya seorang pemimpin negara dilakukan oleh presiden Mesir Abdul Fatah al-Sisi. Pasalnya sudah tahu rakyat sedang mengalami kesusahan karena serangan teroris dan upaya militer, presiden ini malah menghambur-hamburkan uangnya. Pasalnya Abdul Fatah al-Sisi membeli sebuah karpet dengan panjang 4 Km untuk menutupi aspal jalan yang akan dilaluinya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana menderitanya rakyat Mesir saat itu, mengingat banyak subsidi mesti dipotong hanya untuk beli karpet mubazir.

Bermewah di hotel puluhan juta saat rakyat kelaparan

Hotel mewah

Satu lagi perbuatan pemimpin negara yang bisa dibilang sangat jahat. Wapres Zimbabwe Phelekezele Mphoko, pria ini menghambur-hamburkan uangnya dengan menginap di salah satu hotel mewah bernama Rainbow Tower. Bukan satu atau dua hari, namun sudah dua tahun lamanya. Rakyat banyak yang protes dengan hal tersebut, namun wapres itu tetap ngotot karena itu juga menjadi hak istimewanya. Bukanya sadar, wapres Zimbabwe ini malah pindah ke hotel yang lebih mahal dari sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa menderitanya rakyat Zimbabwe. Entah apa yang terjadi kalau hal ini ditemukan di Indonesia. Sekarang saja negeri ini sudah rugi sangat banyak karena kelakuan koruptor, apalagi ditambah kalau pemimpinya seperti ini.

Pesta ulang tahun pembawa sengsara

Ulang tahun sengsara

Beda wapresnya beda lagi dengan presidennya. Masih di Zimbabwe, Presiden Robert Mugabe ternyata melakukan hal yang serupa. Di tengah keadaan rakyat yang menderita, pemimpin yang terkenal diktator ini malah merayakan pesta ulang tahun di tengah daerah yang dilanda kekeringan. Seolah tak acuh dengan keadaan sekitar, pesta itu dibuat sangat meriah dengan melepaskan 92 balon udara dan dihiasi barang mewah lainnya. Total biaya pesta yang dilakukan oleh presiden ini mencapai angka Rp 10 Miliar rupiah. Miris ketika melihat keadaan sekitar yang banyak orang kelaparan dan kekeringan.

Kehidupan super hedon sang diktator Korea Utara

Angaran terbuang

Kalau yang satu ini sudah benar-benar terkenal seantero jagad. Sosok pemimpin Korea Utara ini memang dikenal dengan kehidupan hedonisnya. Mulai dari belanja barang-barang asal eropa, punya bioskop sendiri, hingga anggaran negara yang habis hanya untuk merawat kuda. Entah tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran presiden yang satu ini. Padahal faktanya banyak para perempuan di Korea Utara mesti menjajahkan tubuhnya hanya untuk bisa makan. Beruntung kita di Indonesia ini tidak pernah merasakan apa yang ada di Korea Utara ini.

Hidup bergelimang harta sang anak panglima

hedon anak panglima

Berbeda lagi dengan keadaan yang ada di Sudan. Di saat rakyat sedang mengalami krisis perang, si anak panglima ini malah hidup seolah di surga dunia. Semua barang bermerek melekat pada dirinya, bahak jam tangan emas menjadi andalannya. Belum lagi segala fasilitas mewah seperti pesawat pribadi dan kolam renang yang siap memanjakannya. Sedang di luar, pemandangan berbeda harus ditemui. Anak-anak kelaparan, mayat berserakan hingga adu tembak di sana dan sini. Pertanyaannya, apakah hal itu etis dilakukan salah satu anak pemimpin?

Tidak terbayang bagaimana kehidupan rakyat mereka. Beruntung kita hidup di Indonesia, para pemimpinnya masih peduli dengan rakyatnya. Pada dasarnya para pemimpin dipilih oleh rakyat untuk memberikan keadilan dan kesejahteraan, bukan seperti mereka itu.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA