Sisi Lain Ibukota, Melihat Kehidupan Warga Gang Venus yang Dijuluki Kampung Tanpa Cahaya Matahari

Terasa panas, namun tidak ada cahaya matahari

oleh Arief Dian
07:00 AM on Jul 10, 2017

Ibukota kita memang mungkin sangat identik dengan hal yang megah dan maju. Namun ternyata ada sisi lain dari Jakarta yang mungkin jarang diketahui orang. Alih-alih dekat dengan hal maju, salah satu daerah di Jakarta ini malah bukan main terpinggirkan. Bahkan sampai-sampai tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk di dalamnya.

Ya, itulah gang Venus, daerah sekitar Tambora yang jarang orang tahu. Orang di sana bertahan dalam gang sempit menjalani hidup tanpa cahaya matahari. Jadi tumbal kepadatan, sampai sekarang gang venus masih bertahan seperti itu. Ulasan berikut akan menjelaskan bagaimana penderitaan warga di sana.

Baca Juga
Inilah 4 Fakta Meikarta, Kota Baru yang Katanya Bakal Menyaingi Ibukota
Inilah 4 Jasa Tak Terlupakan yang Dilakukan Malaysia Kepada Bumi Pertiwi

Sekejam-kejamnya ibu tiri, masih kejam ibukota

Meskipun hanya pepatah, namun kalimat tersebut seolah sebuah realita. Di balik gemerlapnya sang ibu kota, ada cerita pilu yang tersimpan di baliknya. Mungkin di luar sana yang terlihat adalah bangunan megah nan tinggi menjulang. Namun di balik perut sang ibukota, ada banyak realita menyedikan. Salah satunya adalah gang satu ini.

Tidak ada cahaya [image source]
Bayangkan, hampir setiap hari tidak ada panas matahari menyinari daerah ini. Kegelapannya tidak pernah hilang bahkan saat siang hari. Gang venus mungkin jadi satu-satunya di dunia, daerah tanpa sinar matahari. Namun, mau bagaimana lagi, tidak ada lagi tempat bagi mereka, hanya gang venuslah yang satu-satunya tempat untuk ditinggali.

Si kaya membangun menara, si miskin merontah-rontah di bawahnya

Itulah ironi yang ada di gang venus. Baik di kanan dan kiri, rumah mereka terhimpit oleh bangunan yang entah siapa yang punya. Belum lagi rumah satu dengan yang lain sangat berdekatan, hampir-hampir tidak ada tempat untuk menghirup udara segar.

Gang Venus [image source]
Rumah susun sudah dibangun, namun yang ada malah terbengkalai. Keadaan rumah susun tersebut sudah sangat tidak karuan sama sekali. Itulah alasan mengapa warga di gang Venus itu tetap bertahan di sana. Hidup berdampingan bersama kegelapan, sudah menjadi aktivitas mereka sehari-hari.  Makan, minum, mencuci dan mandi, semua dilakukan dalam tempat tanpa cahaya ini.

Terasa panas, padahal tidak ada cahaya matahari

Suasana di gang venus sama sekali tidak bisa dibayangkan. Akibat jadi tumbal atas kepadatan ibukota, banyak dari mereka ini hidup dengan tak layak. Rumah sangat berdekatan di sana-sini, hampir-hampir tidak ada udara yang bisa masuk.

Panas tanpa matahari [image source]
Alhasil udara di sana jadi super panas bukan main. Belum lagi karena terlalu sempit tidak ada sama sekali kendaraan yang bisa masuk di dalamnya. Keadaan seperti inilah yang harus mereka hadapi sehari-hari. Mau pindah ke tempat lebih layak namun tidak punya biaya, tetap di sana namun bakal hidup tersiksa. Seperti ibarat buah Simalakama, segala langkah, hasilnya sama.

Segala penyakit bisa datang kapan saja, mirisnya kondisi di sana

Di gang venus, satu-satunya sumber cahaya adalah lampu dari rumah-rumah. Alhasil tidak ada sama sekali sinar panas matahari yang bisa menyinari. Akibatnya para warga di sana jadi sangat rentan terhadap banyak penyakit. Mulai dari diare hingga penyakit-penyakit berbahaya. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan kondisi makanan di sana.

Rawan penyakit [image source]
Serupa dengan orang-orangnya, tidak ada sinar matahari yang masuk di dalamnya. Bisa saja banyak bakteri dan penyakit bisa berkembang dengan leluasa. Hal itu jelas bisa semakin memperburuk keadaan kesehatan orang-orang di sana. Bau busuk air coberan juga tercium di mana-mana, bahkan tak jarang banyak orang yang meminumnya, mengingat air bersih sangat sulit untuk ditemukan di sana.

Ternyata di balik megahnya kota metropolitan ada daerah kumuh yang terpinggirkan. Tidak selamanya ibukota menjadi sebuah ladang emas, gang Venus adalah bukti nyatanya. Mungkin benar ya, sekejam-kejamnya ibu tiri masih kejam ibukota.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA