Sering Kecanduan Instagram, Orang Indonesia Punya Kecenderungan Jadi “Bangsa Bonga”

Update di Medsos adalah hal yang wajar, tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai suatu kewajiban

oleh Arief Dian
15:00 PM on Jul 30, 2017

Adanya media sosial ternyata ibarat koin yang memiliki dua sisi. Satu sisi memberikan manfaat dengan akses informasi dengan luar biasa, namun juga sebaliknya membuat orang-orangnya jadi kecanduan. Medsos saat ini memang tidak bisa lagi dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, pasalnya hampir semua orang memilikinya.

Masih soal pengguna media sosial, kalau dilihat secara cermat, kecanduan yang terjadi ini benar-benar menakutkan. Seolah jika tidak update dalam satu menit saja rasanya tersiksa luar biasa. Keadaan seperti itu nampaknya hampir mirip dengan bangsa Bonga. Lalu apa itu bangsa Bonga dan bagaimana bisa seperti itu? Simak ulasan berikut.

Baca Juga
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi
4 Aksi Greget yang Dilakukan Barisan Patah Hati di Pernikahan Mantan, Dijamin Bikin Geleng Kepala

Keganjilan yang dilakukan bangsa Bonga

Memang sejatinya setiap suku yang ada di dunia ini memang memiliki perilaku uniknya sendiri. Begitu pula yang ada di bangsa Bonga ini. Ya, orang-orang yang mendiami daerah di sekitar Kepulauan Blest dalam karya Umberto Eco ini mempunyai sebuah perilaku unik.

Umberto Eco [image source]
Bagi mereka adalah sangat penting menuliskan sesuatu pada hal yang seharusnya tidak berguna. Misalkan saja, bangsa Bonga ini menuliskan kata “Pintu” pada sebuah pintu, atau “Meja makan” pada sebuah meja makan. Seolah orang –orang ini memiliki tugas mendeskripsikan segala sesuatu baik itu barang maupun tindakan yang akan dilakukan. Jika dilihat dari sudut pandang orang asing, apa yang dilakukan bangsa Bonga ini benar-benar tidak penting alias buang-buang waktu.

Apa yang dilakukan bangsa Bonga membentuk mindset pengguna akut sosmed

Keganjilan dari apa yang dilakukan oleh bangsa Bonga ini membuat sebuah pemikiran aneh dalam diri mereka. Jadilah orang-orang ini selalu memiliki kecanduan khusus dengan menamai atau menuliskan segala hal yang ada di sekitarnya.

Menuliskan kata Pintu [image source]
Hal ini akhirnya membentuk mental mereka jadi tidak kreatif dan malas untuk berpikir. Ini adalah kenyataan yang miris, seolah bangsa Bonga sendiri yang membatasi potensi dirinya. Sebenarnya hal itu juga terjadi pada anak muda zaman sekarang, sadar atau tidak, berkembangnya media sosial membuat kita mirip dengan mereka.

Kecanduan Instastory dan perilaku bangsa Bonga

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bangsa Bonga suka sekali, bahkan wajib menuliskan atau menamai segala hal yang dilakukan. Sadar atau tidak, bukankah hal itu merupakan cerminan dari keadaan sekarang ini. Para pengguna media sosial zaman sekarang, terutama instagram seolah wajib untuk melakukan update pada instastory-nya.

Instagram [image source]
Misalkan saja, “Mau bobo nih, capek seharian kuliah” atau “Males banget hujan-hujan begini mau keluar”. Hal ini seolah membuka sebuah privasi kita pada dunia, segala hal yang dilakukan harus terekam pada akun instagramnya. Mulai dari pagi hingga malam, bahkan untuk hal sepele misal makan atau minum pun tidak luput dari sorotan. Awalnya hanya untuk mengabadikan momen, lama-lama jadi sebuah kebiasaan. Dengan melihat fakta seperti itu, bukankah kita sekarang seolah tidak jauh beda dengan bangsa Bonga?

Perilaku yang mirip bangsa Bonga ini bersifat adiktif

Dari sebuah kebiasaan, update di dunia sosial tiba-tiba berubah menjadi candu. Ya rasanya kebiasaan ini memang tidak bisa dihilangkan pada anak muda zaman sekarang. Bukan hanya update mengenai diri sendiri, namun melihat instastory milik orang lain pun seolah tidak bisa dihilangkan.

Kecanduan [image source]
Awalnya hanya melihat timeline untuk mencari berita terbaru atau stalking cem-ceman, semakin lama tidak bisa dihentikan. Akhirnya jari ini tidak bisa berhenti untuk menggeser timeline hingga ke dasar. Hal itulah yang membuat orang Indonesia zaman sekarang seolah tidak ada bedanya dengan bangsa Bonga yang ada dalam karya Umberto Eco. Bagaimana lagi, memang seperti itulah dua sisi dari media sosial, di balik manfaat selalu ada hal yang membuat kerugian.

Memang untuk update di media sosial adalah hal yang wajar namun jangan sampai kelewatan. Ingat kalau kita hidup di dunia nyata dan membutuhkan komunikasi secara langsung. Belum lagi dengan menunjukkan masalah privasi pada orang lain bisa berbalik jadi petaka bukan? Misalnya saja ada yang mau berniat jahat. Oleh sebab itu penting menjadi bijak menggunakan media sosial.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA