5 Kisah Keberanian Orang-orang yang Tertindas dalam Peperangan

oleh Tetalogi
08:47 AM on Mar 14, 2016

Konflik antar negara yang menimbulkan peperangan adalah mimpi buruk umat manusia. Karena terkadang dalam konflik tersebut, seseorang bisa berubah menjadi beringas dan sangat kejam. Adalah hal mengejutkan bagaimana manusia ternyata mampu saling menyakiti.

Tapi di saat paling putus asa, terkadang muncul jiwa-jiwa pemberani yang baik hati. Terkadang, seseorang yang berhadapan dengan kejadian mengerikan malah menjadi sosok pahlawan bagi yang lain. Berikut ini beberapa diantaranya.

Baca Juga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia

1. Keluarga Muslim dan Yahudi yang Saling Menyelamatkan

Di awal tahun 1940an, bangsa Yahudi harus menghadapi pembantaian besar-besaran oleh partai Nazi Jerman dan fasis dari Ustasa Kroasia. Yosef Kavilio, seorang pebisnis Yahudi menjadi target gestapo, namun ia selamat karena ditolong oleh rekan bisnisnya yang beragama Islam, Mustafa Hardaga bersama istrinya, Zejneba.

Zejneba Hardaga (Kerudung putih) [Image Source]
Zejneba Hardaga (Kerudung putih) [Image Source]
Yosef disembunyikan oleh keluarga tersebut di rumah mereka meskipun resiko bila sampai ketahuan adalah mereka akan ditembak mati ditempat. Yang lebih gila lagi, rumah keluarga Hardaga berhadapan langsung dengan markas gestapo. Meski begitu, Yosef selamat dan berhasil melarikan diri bersama keluarganya ke Israel. Ia tidak pernah melupakan kebaikan keluarga Hardaga di Sarajevo dan menceritakan tentang mereka ke anak-anaknya.

50 tahun kemudian, perang Bosnia pecah dan pasukan Anti-Muslim Serbia mengepung Sarajevo. Keluarga Yousef yang masih hidup melihat berita tersebut di televisi dan memutuskan untuk menyelamatkan Hardaga. Dengan bantuan beberapa kontak keluarga Yahudi di Sarajevo, mereka berhasil menemukan keluarga Zejneba Hardagas dan putrinya yang bersembunyi di bawah tanah dalam kondisi kelaparan. Mereka segera dievakuasi dan diselamatkan ke Israel.

2. Perawat Paling Keras Kepala

Elsie Maud Inglis adalah seorang wanita yang berusaha keras untuk menolong siapapun dimanapun. Ketika Perang Dunia I pecah, ia langsung membuat petisi agar Kantor Urusan Perang Inggris membuka unit medis wanita untuk merawat tentara yang terluka karena perang. Tapi ia malah disuruh “pulang dan duduk manis di rumah”.

Elsie Maud Inglis [Image Source]
Elsie Maud Inglis [Image Source]
Inglis akhirnya mengepak semua barangnya dan berangkat ke Perancis dan menolong para korban perang. Hanya dalam waktu singkat, ia membuka 2 rumah sakit di Perancis dan 1 di Rusia. Ia juga berangkat ke Serbia untuk membantu melawan epidemi tipus.

Ketika pasukan Austro-Hungaria mengarah ke Balkan, ia menolak meninggalkan pasiennya dan ikut ditangkap bersama mereka. Pihak sekutu kemudian melakukan perundingan dengan pihak lawan agar ia dibebaskan. Tapi, Inglis meminta agar 13 ribu warga Serbia yang ikut ditahan agar dilepaskan juga bersamanya. Hingga saat ini, ia dianggap sebagai pahlawan nasional di Serbia.

3.  Organ Donor Israel dan Palestina

Ahmed Khatib, seorang bocah Palestina berusia 12 tahun sedang bermain pistol mainan ketika tentara pertahanan Israel datang ke perkemahan pengungsi tahun 2005. Seorang prajurit Israel mengiranya sebagai ancaman dan langsung menembak kepala bocah tersebut. Pasukan pertahanan Israel segera meminta maaf atas kematian yang tragis tersebut. Kebanyakan orang mengira orang tua Ahmed akan marah dan membalas dendam, tapi tidak.

Ahmed Khatib [Image Source]
Ahmed Khatib [Image Source]
Setelah dibawa ke rumah sakit Israel, semua orang terkejut dengan permintaan orang tua Ahmad untuk mendonasikan organ anak tersebut untuk menyelamatkan nyawa pasien lainnya. Mereka tahu organ Ahmad akan menyelamatkan nyawa orang Israel yang umumnya dikenal sebagai musuh Palestina, tapi tetap saja rencana ini mereka lakukan. Pada akhirnya, organ Ahmed berhasil menyelamatkan 6 nyawa orang Israel, 4 diantaranya adalah anak-anak Yahudi.

Cerita yang sama juga pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Seorang Yahudi asal Skotlandia bernama Yoni Jesner tewas ketika serang pengebom bunuh diri meledekkan bom di bis yang ia tumpangi. Pada akhirnya, keluarga Yoni setuju untuk mendonasikan organ tubuhnya dan salah satunya berhasil menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil Palestina.

4. Pria yang Menyerang Teroris

Abdul Haji adalah seorang pria Kenya dengan etnis Somalia. Suatu hari pada 2013, saudaranya mengirim pesan bahwa ia ada di dalam sebuah mall yang sedang diserang oleh para teroris. Maka, Abdul Haji langsung mengambil senjata, berangkat ke mall yang dimaksud dan langsung menghadapi para teroris tersebut sendirian. Pebisnis dengan lisensi pistol ini adalah yang pertama tiba di lokasi sementara pihak kepolisian tidak terlihat.

Abdul Haji [Image Source]
Abdul Haji [Image Source]
Ia bersama beberapa orang bersenjata dan beberapa ahli medis dari Palang Merah berusaha mengatasi krisis dan menyelamatkan pengunjung mall. Di satu titik, Abdul menyelamatkan seorang gadis kecil 4 tahun dan ibunya yang bersembunyi di bawah meja hanya beberapa meter dari para teroris, terpisahkan oleh sebuah meja saja. Ia juga berhasil menyelamatkan saudaranya. Meski banyak dipuji, ia tidak pernah mau disebut sebagai pahlawan.

5. Muslim Kenya yang Menyelamatkan Rekan Kristen

Di beberapa tahun terakhir, para militan menyerang perbatasan Somalia menuju Kenya. Salah satu taktik mereka yang paling sadis adalah menawan setiap orang yang ada di kafe, sekolah, atau bis kemudian memaksa mereka membagi diri antara yang Muslim dan Kristen. Para militan tersebut kemudian mengeksekusi orang-orang Kristen.

Militan Kenya [Image Source]
Militan Kenya [Image Source]
21 Desember 2015 lalu, mereka membajak bis di dekat desa El Wak dan seperti biasa, memaksa penumpang untuk membentuk kelompok sesuai agama mereka. Namun para penumpang Muslim tahu apa yang akan terjadi dan menolak perintah para teroris ini. Penumpang menolak membiarkan teman dan tetangga Kristen mereka untuk dibunuh dan bahkan berkata, “bunuh kami semua atau tinggalkan kami”. Berkat perlawanan para penumpang ini, para pria bersenjata tersebut meninggalkan bis yang mereka bajak.

Segelintir kisah di atas adalah bukti bahwa dalam konflik yang paling kelam sekalipun, manusia masih bisa disatukan dengan rasa kemanusiaan mereka. Semoga saja masih banyak orang dengan kebaikan dan hati nurani sehingga segala macam konflik yang ada di dunia ini segera berakhir.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA