4 Kisah Mengharu Biru ini Membuktikan Kasih Anak Juga Sepanjang Jalan

Karena bakti pada orang tua adalah sebaik-baiknya pintu surga bagi mereka.

oleh Nikmatus Solikha
19:30 PM on Feb 27, 2017

Ada pepatah yang mengatakan, ‘kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah’. Mungkin pepatah tersebut memang tidak salah. Terlebih adanya beragam kisah seperti Malin Kundang yang melupakan ibunya. Namun, ada kalanya pendapat tersebut tak sepenuhnya benar. Tentu lain anak, lain pula cara memperlakukan orangtua mereka. Orang dilahirkan dengan sifat yang beragam, kehidupan dan pembelajaran yang menempa juga akan membentuk kepribadian seseorang.

Jika di dunia ini begitu banyak anak yang durhaka pada orangtua, percayalah bahwa anak berbakti juga masih lebih banyak. Dan berikut ini adalah kisah mengharukan tentang betapa berbaktinya anak manusia meski ia memiliki kekurangan.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Kvukthong Yoirurob menyuapi ibunya dengan tangan yang terbatas

Kisah pertama datang dari Negeri Gajah Putih. Di mana seorang pria bernama Kvukthong Yoirurob telah menampar perasaan semua orang yang memiliki fisik sempurna. Pria tersebut telah membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berbakti pada ibu yang telah melahirkannya.

Kvukthong Yoirurob yang telaten menyuapi ibunya [image source]
Dengan kedua tangannya yang terbatas itu, Kvukthong Yoirurob menyuapi ibunya yang sakit-sakitan. Kvukthong tak lagi bekerja sejak ibunya sakit, hal itu karena ia harus menjaga dan merawat ibunya sepanjang hari. Namun, kegigihan tersebut rupanya mengetuh hati para dermawan untuk datang memberikan bantuan.

Tanpa tangan, Chen Xingyin masih bisa merawat ibunya

Kisah petani asal China ini tak kalah mengharu biru dari Kvukthong. Pria berusia sekitar 50 tahun ini bahkan tak memiliki tangan untuk bisa menyaapi seperti yang dilakukan Kvukthong pada ibunya. Namun, sebagai seorang anak yang bertanggung jawab, tidak memiliki tangan tak mengurungkan niatnya untuk berbakti, dengan menggunakan mulut, Chen Xingyin menyuapi ibunya yang lumpuh.

Tanpa tangan, Chen-Xingyin masih bisa membantu ibunya makan [image source]
Pria tengah baya tersebut diketahui tinggal di kota Chingqing, China bersama dengan ibunya yang saking bronchitis. Meski memiliki keterbatasan fisik seperti itu, namun Chen memang dikenal sebagai pribadi yang setia dan telaten merawat ibunya. Foto Chen di atas rupanya banyak membuat orang merasa terharu.

Chen Xiaotian rela ginjalnya diambil demi sang ibu

Kisah inspiratif selanjutnya masih berasal dari tanah China. Bocah kecil ini sudah didiagnosa tumor otak sejak usia 5 tahun. Hingga memasuki usia 7 tahun, penyakitnya makin agresif saja. Chen bahkan kehilangan pengelihatannya. Tim medis yang merawat Chen mengatakan jika ia tak akan bisa melewati masa remaja. Meski begitu, ibunya tetap setia menemaninya di rumah sakit.

Chen_Xiaotian yang mendonorkan ginjal untuk ibunya [image source]
Namun, apalah daya, tanpa diduga ibunya didiagnosa terkena penyakit ginjal yang cukup parah. Dan entah belajar kebijaksanaan dari mana, suatu hari Chen mengatakan jika ia ingin menyelamatkan ibunya. Namun, Zhou sebagai ibu tentu saja menolak permintaan tersebut. Para dokter juga mengatakan jika Chen tak akan bisa bertahan lama, namun ginjalnya bisa menyelamatkan ibunya. Atas desakan Chen, akhirnya Zhou bersedia menerima donor. Chen mungkin tiada setelah operasi tersebut, tapi bocah itu tetap hidup dalam tubuh ibunya.

Meski masih kecil, jiwa Sinar begitu besar

Mungkin kita masih ingat beberapa tahun lalu, sempat viral berita tentang bocah kecil berusia 6 tahun yang merawat ibunya yang lumpuh. Namanya Sinar, bocah SD yang harus melakukan beragam pekerjaan yang bisa dibilang ‘belum waktunya’. Tiap hari Sinar harus merawat ibunya yang lumpuh, mulai dari makan, minum, memandikan hingga membantu ke kamar mandi. Untuk urusan memasak, Sinar juga melakukan kewajiban tersebut.

sinar merawat ibunya yang lumpuh [image source]
Sinar tiap harinya memasak nasi, ya, hanya nasi, tanpa lauk pauk dan sayur. Ayahnya diketahui merantau ke Malaysia. Sementara lima orang kakaknya tinggal di tempat terpisah sebagai pembantu rumah tangga karena masalah ekonomi. Hanya ada Sinar satu-satunya harapan bagi sang ibu untuk terus merawatnya.

Empat kisah tersebut setidaknya menjadi bukti, bahwa kasih anak juga sepanjang jalan. Mungkin berkat jasa sang ibu juga yang berhasil mendidik mereka menjadi manusia yang ‘berjiwa besar’. Semoga kisah di atas menjadi inspirasi, dan membuat kita lebih menghargai dan berbakti pada orangtua.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA