Pria Banyuwangi ini Dapat Untung 400 Dolar Per Hari dari Jualan Martabak di Timor Leste

Siapa sangka dalam satu hari saja bila pembeli sangat ramai, Subeki bisa meraup keuntungan sampai Rp 5 juta

oleh Faradina
17:00 PM on Apr 27, 2017

Sebagai negara dengan jumlah penduduk sangat besar, Indonesia memang tidak memiliki cukup lapangan pekerjaan untuk menampung mereka semua. Itulah sebabnya kemudian banyak orang khususnya anak muda yang memilih untuk membuka usaha sendiri untuk mendapat sesuap nasi sehari-hari. Namun bila usaha atau bisnis tersebut sama saja dengan yang sudah ada, otomatis peluang meraup keuntungan pun kecil.

Maka tidak salah bila banyak orang Indonesia yang lebih memilih bekerja di luar negeri. Entah itu dengan titel sebagai TKI, sampai embel-embel memanfaatkan visa kerja yang diberikan pemerintahan negara lain, yang penting mereka bisa kerja dan melanjutkan hidup. Dan menurut banyak orang yang melakukannya, memang profesi apapun yang kita lakukan di luar negeri rasanya sangat menguntungkan dibanding di negeri sendiri karena saking banyaknya jumlah pesaing. Misalnya saja sosok pria bernama Subeki yang sudah 15 tahun mencari nafkah di negeri tetangga, Timor Leste.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Subeki pindah ke Timor Leste sejak 2002

Merantau, itulah mungkin kata yang cocok untuk Subeki. Pria berusia 45 tahun ini masih merupakan warga negara Indonesia yang saat ini mencoba peruntungan di Timor Leste. Bukan sengaja dia pergi ke negara ini, melainkan karena ajakan seorang teman. Subeki bercerita bahwa sebelum menginjakan kaki di negara tetangga ini, dia bekerja sebagai koki di Bali dan juga Surabaya karena memang pria ini memiliki latar belakang keahlian di dunia perhotelan.

Subeki [image source]
Setelah malang melintang di sekitar Jawa dan Bali, ayah tiga anak ini barulah diajak oleh salah seorang kawannya untuk merantau ke Timor Leste. Sungguh rencana ini tak pernah dia bayangkan sebelumnya, tapi sekarang Subeki nampak sangat memahami Timor Leste layaknya kampung halaman sendiri. Awalnya Subeki hanya menjadi karyawan di beberapa tempat saja, sampai akhirnya dia beranikan diri untuk membuka usaha.

Pria Banyuwangi ini dikenal sebagai pedagang martabak

Bekal yang didapatnya selama menjadi karyawan di Timor Leste tentunya membuat pria ini berani untuk merintis sebuah usaha. Dan pastinya usaha tersebut tidak terlalu jauh dari keahliannya sebagai koki. Itulah sebabnya Subeki memilih untuk membuka sebuah warung di Luru Mata, Dili, ibu kota Timor Leste. Karena toh di Timur Leste dia sudah mengantongi bisa kerja, jadi bukan masalah jika pria ini berjualan.

Martabak durian [image source]
Di warung Subeki, para pelanggan bisa mencicipi aneka macam makanan mulai dari sate sampai lalapan. Tapi untuk makanan ringannya, memang martabak yang jadi jagoan bapak dari tiga anak ini. Warungnya sendiri sengaja diberi nama Martabak Super Lanches, yang mana kata lanches di sini bermakna makanan ringan. Subeki bertutur bahwa selera makanan masyarakat Timor Leste tidak jauh beda dengan orang Indonesia karena memang negara ini sudah 25 tahun tergabung dengan tanah air.

Keuntungan penjualan martabak bisa sampai 400 dolar

Meskipun dulunya Timor Leste jadi bagian Indonesia, namun pasca berdiri sendiri negara ini sudah tidak lagi menggunakan atribut kita salah satunya untuk mata uang. Timor Leste saat ini menggunakan mata uang dolar Amerika untuk transaksi sehari-hari. Jadi martabak jualan Subeki pun dibandrol dengan harga dolar. Untuk martabak loyang kecil, pria ini menjualnya dengan harga 8 dolar atau setara dengan Rp 100 ribu. Sedangkan martabak manis sendiri kisaran harganya dari 4,50 dolar sampai 12 dolar. Nah untuk yang 12 dolar atau Rp 150 ribu ini biasanya yang benggunakan durian asli dari Medan.

Untung dolar [image source]
Meski harus menjualnya jauh di sana, semua bahan produksi yang digunakan Subeki dia impor dari Indonesia. Mantas saja rasanya nikmat sampai warungnya mendapat banyak langganan. Untuk keuntungannya sendiri, dalam satu hari dia bisa meraih sebanyak 400 dolar atau Rp 5,3 juta bila sedang ramai-ramainya. Bila hari biasa yah keuntungannya menurun sekitar Rp 2,6 juta. Tentunya bukan jumlah yang kecil kan bagi seorang penjual martabak?

Bisnis kuliner sangat tepat dilakukan di Timor Leste

Ada banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan bila ingin memulai sebuah bisnis memang. Selain memikirkan keahlian kita sendiri, tentunya target pasar juga penting untuk dipertimbangkan. Dan itulah pintarnya Subeki karena dia benar-benar mengetahui apa yang disukai masyarakat Timor Leste. Jadi tidak heran bila jualannya bisa dibilang sukses di negeri orang.

Masyarakat Timor Leste [image source]
Subeki bercerita bahwa masyarakat Timor Leste sangat menyukai segala jenis kuliner. Mereka bahkan tak pernah ragu untuk membelanjakan uangnya hanya demi memanjakan lidah dan perut. Jadi wajar lah saat sedang ramai-ramainya, pria ini benar-benar bisa panen dolar dalam satu hari berjualan.

Melihat fakta itu mungkin kita semua berpikiran bahwa ternyata di luar negeri orang Indonesia juga bisa sukses meskipun sehari-harinya hanya berjualan. Bayangkan saja di Indonesia, pasti akan sulit sekali mendapat keuntungan sebesar itu dalam satu hari mengingat pesaingnya sangat banyak. Namun bagaimana pun juga semua pasti ada positif dan negatifnya. Bekerja jauh mungkin memberi kita kekayaan materi, namun bagaimana dengan keluarga yang kita tinggalkan di rumah? Jadi sebenarnya tidak penting di mana pun kalian bekerja selama bisa bijaksana dalam mengatur keuangan dan kebersamaan dengan keluarga. Yuk makan martabak yuk daripada galau.

 

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA