Johny Sembiring, Preman Legendaris nan Bengis yang Dikenal Cerdas

oleh Endah Boom
12:10 PM on Jan 9, 2017

Membicarakan soal preman, rasanya hanya kengerian dan dunia hitam yang membayang di benak kita. Boro-boro berurusan dengan mereka, kadang mendengar nama preman yang menguasai sebuah tempat pun sudah bikin bulu kuduk berdiri. Ketika rata-rata preman seperti itu, yang satu ini agak dari lainnya. Meski dikenal sebagai preman tulen, ia dikenal berotak cerdas dan bernyali besar. Namanya Johny Sembiring.

Preman yang pernah satu sel dengan Kusni Kasdut ini memiliki kisah hidup yang sangat melegenda. Semasa hidup, ia sudah berulang kali masuk bui. Jaringannya juga luar biasa besar. Selain merampok orang-orang besar pada zamannya, dalam keadaan terpidana ia kabarnya  masih bisa keluar malam yang mana saat itu sebenarnya tak masuk akal, seharusnya kan dia mendekam saja di sel. Meski menyelami dunia hitam, akhir hidupnya sungguh menyentuh hati sekaligus tragis. Seperti apa kisah preman yang satu ini? Langsung saja ya kita ikuti artikelnya berikut ini.

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

Johny Sembiring Dikenal sebagai Preman Intelek

Sosoknya memang melegenda. Johny Sembiring dikenal preman intelek. Kabarnya ia pernah berhasil mengelabui Perdana Menteri (PM) Malaysia. Tujuannya saat itu adalah untuk mendapatkan uang dengan memanfaatkan ketegangan politik antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 60an. Namun, belum ada informasi jelas lagi soal cara mengelabui dan teknik yang ia lakukan tersebut. Kabar ini agaknya perlu didalami dan digali faktanya lebih jauh lagi.

Johny Sembiring [Image Source]
Sejumlah bahasa pun ia kuasai. Johny memiliki kemampuan bisa berbahasa Jawa, Sunda, Tapanuli, Inggris, Belanda, Jerman, dan Mandarin. Jelas sosoknya bukanlah orang sembarangan. Tapi kenapa ia menjadi preman? Pada era tahun 50an, pasca revolusi, situasi membuat Johny menjalani hidup sebagai seorang preman. Namanya pun disejajarkan dengan Kusni Kasdut dan Johny Indo sebagai preman kelas kakap. Yang menarik lagi dari sosok Johny Sembiring adalah hobinya yang suka berfilsafat. Dengan kecerdasan dan kemampuan berbahasa yang di atas rata-rata, berfilsafat tampak sudah jadi bagian dari kesehariannya.

Johny Sembiring Dinyatakan Menembak Letkol Penerbang Steven Adam

Johny Sembiring, menurut jaksa terbukti menembak Letkol Penerbang Steven Adam. Meski pada saat kejadian, dini hari tanggal 29 Mei 1983, sejumlah saksi memberi keterangan bahwa Johny berada di tengah keluarganya di Jakarta, jaksa lebih meyakini pengakuan saksi lain bahwa malam itu Johny bersama sejumlah kawannya mendatangi rumah Steven. Hanya saja kasus ini agak rumit dan masih meninggalkan kepingan-kepingan yang belum sempurna.

Ilustrasi penembakan [Image Source]
Apa penyebab di balik penembakan Steven? Menurut jaksa, Steven yang disebut sebagai bos sindikat narkotik terjebak perselisihan dengan kelompok Robert dan Nico. Disinyalir Steven menagih soal tunggakan uang pembayaran narkotik kepada Robert dan kawan-kawannya yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Saat itu, Johny yang disebut-sebut bergabung dengan kelompok Robert dan Nico melaksanakan pembunuhan dengan iming-iming 10 juta rupiah.

Agak janggal memang, sejumlah saksi bilang bahwa Johny saat kejadian itu berada di Jakarta. Sementara kejadian tewasnya Steven ada di Bogor. Belum lagi dengan persoalan jarak tembak (meski memang terbukti kalau pistol yang digunakan adalah yang dipinjamkan oleh Nico), menurut keterangan istri Steven, suaminya ditembak pada jarak tiga meter. Namun, menurut saksi ahli Dokter Rizkiwijaya dari LKUI, perkiraan jarak tembak hanya sekitar enam inci berdasarkan pemeriksaan bekas mesiu yang ditemukan di dada Steven. Ada kabar juga bahwa sebenarnya Steven dihabisi oleh kelompok lain. Karena perwira menengah Angkatan Udara itu memang terlalu tahu akan banyak hal. Banyak sekali simpang siurnya dan akhirnya jadi sangat membingungkan.

Setelah Keluar Masuk Penjara Beberapa Kali, Akhirnya Bertaubat

Karena berbagai tindak kriminalitas yang dilakukan, Johny memang langganan keluar masuk penjara. Tapi pada akhirnya hatinya terketuk. Ia bertaubat. Sebuah kantor konsultan ia dirikan di Kebun Sirih, Jakarta. Bisnis yang ia jalankan meliputi jasa konsultasi, penagihan hutang, jasa mediator atas Wan Prestasi juga Hutang Piutang. Tak butuh waktu lama sampai bisnisnya itu berkembang pesat.

Ilustrasi penjara [Image Source]
Kantornya itu kemudian sangat diminati dan paling dicari masyarakat ibukota yang membutuhkan jasa dan konsultasinya. Banyak pihak yang kemudian iri dengan usaha dan bisnis yang dijalankannya. Bahkan para tinggi tanah air juga menaruh rasa iri padanya.

Hidupnya Masih Rumit dengan Banyaknya Polemik

Memiliki bisnis jasa sebagai penagih hutang, jelas ada pihak-pihak yang kurang suka. Khususnya para petinggi yang merasa terusik. Mereka tak nyaman dengan praktik yang dilakukan oleh Johny. Berurusan dengan Johny jelas bikin mumet. Sosok Johny digadang-gadang sebagai salah satu pelopor profesi penagih hutang (debt collector). Pada masa itu belum banyak yang memiliki profesi tersebut.

Ilustrasi debt kolektor [Image Source]
Johny mengaku kalau bisnis yang ia jalani tersebut terpuji. Tak melibatkan kekerasan dan dengan terang-terangan ia menyebut profesi penagih hutang sebagai profesi  yang mulia. Di zaman orde baru saat itu, tindakannya ini termasuk yang sangat berani. Nggak heran kalau ada pihak-pihak yang tersinggung dengan profesi yang digelutinya tersebut.

Tewas Ditembak Secara Misterius

Kematian Johny Sembiring meninggalkan duka juga misteri sendiri. Di tengah proses taubatnya dengan bisnis baru yang dijalankan, ia diculik dan dibunuh. Kabarnya ia tewas dibunuh sekelompok orang di daerah persimpangan Matraman, Jakarta Timur pada tahun 1996. Sampai sekarang belum diketahui pasti siapa pelaku atau kelompok yang membuat nyawa Johny Sembiring melayang. Kelompok Johny Sembiring pun dengan sendirinya bubar setelah kematian pimpinannya tersebut.

Ilustrasi tewas [Image Source]
Kelompok pimpinan Johny Sembiring ini memang sangat tangguh dan paling disegani pada zamannya. Bahkan lebih besar dari kelompok John Kei, Basri Sangaji, dan Hercules yang biasanya melayani jasa penagihan hutang di atas setengah miliar rupiah.

Kisah Johny Sembiring juga dibukukan dalam buku berjudul Antara Tembok dan Tuhan. Pada tahun 80an pun, kisahnya dijadikan cerita bersambung pada terbitan harian koran Prioritas dengan judul Saya Johny Sembiring. Kisahnya yang penuh liku rasanya memang bikin banyak orang penasaran.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA