6 Hal yang Akan Terjadi Dengan Indonesia Jika Jokowi Tiba-Tiba Mundur Seperti yang Dilakukan Djoko Sasono

oleh Rizal
07:00 AM on Dec 29, 2015

Ketika seorang pemimpin gagal dalam melakukan misi-misinya, maka lazimnya ia harus bertanggungjawab atas hal tersebut. Ada banyak caranya, salah satunya dengan mengajukan resign alias mengundurkan diri. Sayangnya, di zaman sekarang mana ada sih pemimpin model begini? Gagal langsung mengakui kesalahan? Ternyata masih ada dan dilakukan dengan sangat heroik oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Djoko Sasono.

Pria ini mengaku telah gagal mengurai kemacetan selama beberapa waktu terakhir. Karena merasa gagal, Djoko pun mengundurkan diri. Langkah ini ternyata mendapatkan banyak pujian. Bahkan hal tersebut menurut banyak pihak bisa jadi role model bagi pejabat-pejabat yang merasa gagal. Jika demikian, mungkin presiden juga termasuk di dalamnya.

Baca Juga
6 Alasan Kenapa One Piece Nggak Pernah Bikin Penggemar Bosen Meski Sudah 20 Tahun
Inilah 4 Alasan Mengapa Profesi TKI Bisa Bikin Seseorang Jadi Kaya Mendadak

Nah, seumpama presiden kita tiba-tiba mundur karena suatu hal, misalnya gagal mengentaskan kemiskinan seluruh rakyat Indonesia, kira-kira apa sih yang bakal terjadi dengan negara ini? Mungkin hal-hal menghebohkan ini yang bakal muncul.

1. Negara Kisruh Soal Pengganti

Posisi pimpinan tak bisa dibiarkan kosong dalam waktu yang lama. Apalagi ini adalah presiden, yang notabene sosoknya sangat penting sebagai syarat berdirinya sebuah negara. Ketika presiden mundur, maka sesegera mungkin harus cari penggantinya. Kalau hal ini benar terjadi di negara kita, maka alternatifnya ada dua. Mengangkat wakil presiden dan biarkan beliau cari wakilnya sendiri, atau bikin pemilu lagi.

Negara bakal kisruh dalam memilih sosok pemimpin baru [Image Source]
Negara bakal kisruh dalam memilih sosok pemimpin baru [Image Source]
Apa pun itu, yang jelas negara bakal kisruh luar biasa. Masing-masing pihak bakal punya calonnya sendiri-sendiri yang dinilainya kompeten. Parpol mungkin akan terbagi lagi jadi kubu-kubu yang mendukung calonnya masing-masing. Sekali lagi, negara akan berada di situasi huru-hara seperti saat pemilu 2014 dulu.

2. Presiden Bertanggung Jawab untuk Program yang Belum Selesai

Mundur setelah gagal memang bisa jadi bukti sikap gentleman, tapi di sisi lain sikap seperti ini bisa dibilang lari dari tanggung jawab. Lebih-lebih yang melakukan ini adalah presiden. Sebagai kepala negara, tanggung jawabnya tentu sangat besar. Dan sangat tidak mungkin untuk ditinggal begitu saja.

Rampungkan dulu program andalannya baru pergi [Image Source]
Rampungkan dulu program andalannya baru pergi [Image Source]
Jika presiden tiba-tiba pamitan, tentu saja rakyat akan mencibir. “Mana realisasi janjinya yang ini itu? Masih baru setengah jalan dan belum terwujud kok sudah main mundur saja.” Alhasil, presiden akan jadi bahan cemoohan jika keukeuh melakukan hal tersebut. Setidaknya rampungkan dulu apa yang jadi proyek terbesarnya baru tinggal.

3. Program Setengah Jadi Bakal Dibuang

Presiden sudah barang tentu punya program-program andalannya sendiri yang dinilai bisa bermanfaat buat negara. Namun, bagaimana nasib program tersebut jika ia mundur? Kemungkinannya bisa diteruskan, tapi bisa juga dibuang.

Proyek lama yang masih berjalan mungkin saja bakal tidak diteruskan [Image Source]
Proyek lama yang masih berjalan mungkin saja bakal tidak diteruskan [Image Source]
Kalau kata programmer, mending bikin baru daripada nambal punya orang. Hal ini memang benar, menambal hanya akan membuang-buang waktu. Karena beda kreator, maka tentu beda sudut pandangnya. Sehingga, kemungkinan terbesar jika presiden mundur maka programnya pasti dibuang. Jika demikian, uang negara akan melayang sia-sia dengan hanya meraih manfaat yang sedikit.

4. Negara Bakal Keluar Banyak Uang

Ya, kalau yang ini memang sudah pasti. Jika untuk pemilu susulan atau ulangan saja bisa keluar duit miliaran, maka event akbar seperti pemilihan ulang presiden sudah tentu besar sekali biayanya. Beda dengan pilkada yang hanya di daerah saja, pemilihan presiden baru melibatkan pemilih seluruh Indonesia.

Negara bakal keluarkan banyak uang untuk ini [Image Source]
Negara bakal keluarkan banyak uang untuk ini [Image Source]
Biar tak ada pemilu dan negara bisa saving, lakukan saja vote para anggota dewan terhormat. Mungkin tidak melibatkan rakyat secara langsung, tapi dari sisi biaya bisa hemat banyak. Soal kinerja, ya tergantung dari bagaimana para dewan terhormat itu memilihnya.

5. Presiden Baru Belum Tentu Lebih Baik

Ya, kemungkinan seperti ini selalu ada. Presiden lama yang buruk mundur, belum tentu penggantinya bakal greget dan lebih keren. Tak jarang pula, para pengganti yang malah di bawah performa yang lama.

Presiden baru belum tentu sebaik yang lama [Image Source]
Presiden baru belum tentu sebaik yang lama [Image Source]
Keburukan presiden baru ini mungkin dilihat dari program dan kebijakannya yang tak pro rakyat, menetapkan aturan-aturan yang tak sesuai, serta masih banyak lagi yang lain. Maka sebelum bikin keputusan besar, harus dipikirkan apa-apanya. Jangan pilih calon pengganti yang asal ada saja, tapi yang benar-benar punya prestasi dan niat baik untuk memperbaiki bangsa.

6. Kebijakan-Kebijakan Baru Bermunculan

Biasanya harus ada pembeda antara yang lama dan baru. Kalau tidak, buat apa yang lama diganti. Pembeda ini bisa dilihat dari banyak hal, misalnya saja soal kebijakan-kebijakan. Seperti dengan menurunkan harga BBM separuh dari presiden lama, atau mungkin tak pakai banyak omong langsung sikat para koruptor, dan lain sebagainya.

Kebijakan baru mungkin akan diberlakukan pada banyak sektor [Image Source]
Kebijakan baru mungkin akan diberlakukan pada banyak sektor [Image Source]
Tak masalah jika kebijakannya keren. Namun sebaliknya, bakal jadi derita bagi rakyat kalau aturan baru yang diberlakukan tak pro masyarakat. Misalnya hapus raskin, potong subsidi dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, apakah ada prosedur untuk seorang presiden yang ingin mundur? Tentu saja ada, bahkan tidak ribet. Masih ingat mantan Presiden Soeharto? Beliau langsung mundur begitu saja ketika mahasiswa mendesaknya.

Apa yang ditunjukkan oleh Djoko Sasono memang keren dan tak lazim, apalagi posisinya tinggi. Namun, langkah ini dinilai sangat tepat karena ia menganggap dirinya gagal dan pasti ada orang lain yang bisa lebih baik. Lalu bagaimana dengan presiden kita? Dilihat dari rapornya setahun terakhir, sepertinya tak buruk kok. Beliau terlihat bertanggung jawab penuh dengan janji-janjinya. Soal belum terwujud ya sabar saja, hal-hal besar memang tak dibuat dalam waktu singkat.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA