Cerita Khamim Setiawan, Pria Pekalongan yang Memilih Jalan Kaki untuk Beribadah Menuju Tanah Suci

Khamim percaya bahwa ibadah hanya tidak hanya berkaitan dengan interaksi sesama muslim, melainkan juga semua orang dari berbagai keyakinan

oleh Faradina
16:00 PM on May 23, 2017

Seluruh muslim di dunia pastilah ingin menunaikan ibadah haji yang memang sudah termasuk ke dalam salah satu rukun islam. Namun memang ibadah haji tersebut belum bisa dilakukan oleh semua pemeluk agama islam, apalagi yang belum memiliki cukup biaya. Karena memang uang yang dibutuhkan untuk menuju Tanah Suci tidaklah sedikit, oleh karena itu banyak muslim yang harus berusaha bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bisa berhaji.

Tapi hal tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan Mochammad Khamim Setiawan. Di kala umat islam di Indonesia lainnya masih mengumpulkan uang untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci, Khamim malah memutuskan untuk menuju Mekkah dengan berjalan kaki. Ide yang cukup ekstrim mungkin bagi sebagian orang, namun siapa sangka beberapa minggu lagi pria Pekalongan ini sudah dapat merasakan hawa Mekkah.

Baca Juga
Bukan Kegembiraan, 4 Lomba Agustusan Ini Justru Berakhir dengan Tragedi
Tak Melulu Miris, Ini Cerita dari Para Veteran yang Akhirnya Diperhatikan oleh Pemerintah

Khamim berjalan sejak 2016 setelah melalui 3 tahun istikharah

Keputusan untuk berjalan kaki dari Pekalongan menuju Mekkah tentunya tidak dengan impulsifnya diambil oleh Khamim. Sebelum dirinya berangkat pada 28 Agustus 2016, Khamim terlebih dahulu melakukan beberapa ‘ritual’ untuk meyakinkan diri meskipun latar belakang pilihan ini adalah untuk mencari ridho Allah SWT. Sebelumnya Khamim sempat melakukan proses istikharah yang tidak hanya dikerjakan satu sampai dua malam, melainkan sampai tiga tahun.

Khamim Setiawan [image source]
Tidak hanya itu, pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini tak lupa juga meminta pendapat banyak ulama dari berbagai pondok pesantren di Jawa. Yang namanya menempuh perjalanan kaki dari Indonesia menuju Mekkah terntunya dibutuhkan fisik kuat. Oleh karena itu Khamim sempat pula dilatih oleh beberapa kyai dan guru agar bisa bertahan hidup di tengah berbagai kondisi ekstrim yang akan dijumpai di perjalanan. Tak lupa pula pemuda ini meminta restu sang orang tua agar perjalanannya bisa dilakukan dengan selamat tanpa rintangan berarti.

Khamim berpuasa setiap hari selama perjalanan

Normalnya, orang yang sedang melakukan ujian fisik semacam Khamim ini akan benar-benar menjaga kesehatan dengan makan makanan sehat secara teratur. Tapi pemuda ini malah memilih untuk menjaga kesehatan dengan cara berpuasa. Bukan hanya puasa senin kamis, Khamim melakukan puasa setiap hari selama melakukan perjalanan kecuali di hari besar agama islam. Dan mengenai kebiasaan puasa ini ternyata memang sudah dia lakukan selama lima tahun belakangan ini.

Khamim di Kuala Lumpur [image source]
Hebatnya lagi selama melakukan perjalanan di tahun lalu sampai sekarang, Khamim hanya mengalami sakit sebanyak dua kali saat dirinya sampai di Malaysia dan India. Khamim mengaku tidak mengonsumsi vitamin khusus selama perjalanan, melainkan hanya campuran madu dan air untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Pemuda ini ternyata memiliki trik tersendiri yaitu hanya akan melanjutkan perjalanan di malam hari, sementara siangnya digunakan untuk istirahat. Bila kondisi fisiknya prima, Khamim bisa menempuh perjalanan 50 kilometer. Namun jika kakiknya merasa lelah dia hanya berjalan sejauh 15 kilometer.

Khamim selalu menemui keseruan di tiap persinggahan

Kalau dilihat dari segi perbekalan, tentu saja bisa dipastikan bahwa Khamim hanya membawa sedikit sekali kebutuhan. Dalam perjalanan, pria ini hanya membawa dua potong celana dan kaos, sepatu, kaos kaki, pakaian dalam, kantung tidur, lampu, ponsel, GPS, dan tenda. Yang mana semua barang itu dia masukkan dalam satu tas punggung. Khamim juga hanya membawa sedikit uang saku untuk perjalanan, tapi siapa sangka dia banyak sekali bertemu dengan orang-orang baik di setiap persinggahan.

Mencari makanan di Thailand [image source]
Pemuda ini juga sudah meniatkan bahwa selama perjalanan tidak akan mengandalkan bantuan orang dengan cara meminta maupun mengemis. Meski demikian, nasib baik sepertinya selalu mengiringi niat baik. Khamim bercerita bahwa dia selalu diterima di berbagai rumah ibadah agama lain, seperti saat dirinya disambut di sebuah kuil Budha di Thailand. Kemudian dia juga sempat diberi makan oleh warga Myanmar, belajar pada banyak ilmuwan muslim di India, sampai memiliki teman baru yang merupakan pasangan kristen asal Irlandia di Yangon. Perjalanan ini membuat si pemuda Pekalongan percaya bahwa ibadah hanya tidak hanya berkaitan dengan interaksi sesama muslim, melainkan juga semua orang dari berbagai keyakinan.

Khamim sampai di Mekkah sebelum Idhul Adha kelak

Siapa sangka dalam perjalanannya, pria ini juga pernah beberapa kali akan dirampok oleh orang tidak dikenal. Khamim juga menyatakan di beberapa daerah sulit sekali menemukan makanan halal, apalagi saat dirinya di Thailand. Tapi untung saja ketika beribadah di masjid, ada seorang muslim yang memberinya makanan dan diajak berkenalan dengan orang Indonesia pemberi sertifikasi makanan halal di sana.

Perjalanan Khamim [image source]
Khamim disebut-sebut akan sampai di Mekkah pada tanggal 30 Agustus 2017, tepat satu hari sebelum Idhul Adha. Dan itu berarti dia sudah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu tahun. Saat ditanya mengenai berapa lama dirinya akan beribadah di Tanah Suci, pemilik pondok pesantren sederhana di Pekalongan ini hanya menjawab bahwa dirinya tidak memiliki target khusus. Khamim mengaku hanya akan mengikuti rencana Allah, karena rencana sendiri itu sama saja dengan mengikutsertakan nafsu.

Perlu diketahui bahwa pemuda ini melakukan kurang lebih 12,724 kilometer perjalanan darat serta 750 kilometer perjalanan laut untuk mencapai negara tertentu. Tidak lama lagi pemuda ini akan mewujudkan mimpinya bertandang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah. Bahagia rasanya bila mendengar cerita perjalanan dari Khamim yang mampu mengingatkan kita bahwa ibadah haji tidak hanya tentang interaksi dengan Tuhan maupun sesama muslim. Melainkan juga tentang bagaimana kita belajar toleransi dengan warga dari negara lain yang memiliki kepercayaan berbeda.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA