Ini Tanggapan Kak Seto Tentang Kebakaran Komnas PA

oleh Adys Disty
06:58 AM on Jun 29, 2015
Kak Seto via liputan6
Kak Seto via liputan6

Kebakaran melalap Kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sekitar pukul 20.30 WIB, Sabtu (27/6). Akibatnya beberapa ruangan termasuk ruang data, gudang, dan ruang sekretaris jenderal hangus terbakar. Seluruh data pelaporan kasus kekerasan anak hangus tidak tersisa. Anehnya, kebakaran terjadi ketika Komnas PA sedang menangani kasus yang mendapat perhatian media.

Mantan Ketua Komnas PA, Seto Mulyadi pun seakan teringat kembali pada peristiwa serupa pada tahun 2009 lalu. Kebakaran ini memunculkan trauma lama yang mulai hilang. “Iya ada trauma juga karena ini kejadian ke dua kali,” kata Kak Seto di Kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (28/6).

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

Saat kebakaran terjadi, Kak Seto baru saja mendarat di Jakarta usai mengikuti kegiatan di Surabaya. Ketua Dewan Konsultatif KPAI itu memang tak menampik adanya dugaan tentang sabotase dalam peristiwa ini. Hal ini karena ada kasus pembunuh Angeline yang kini tengah ditangani Komnas PA. Namun, dia tak mau berasumsi lebih jauh sebab baginya semua kasus kekerasan pada anak merupakan kasus besar yang harus menjadi perhatian pemerintah.

Kebakaran ini tidak menyurutkan semangat Kak Seto untuk terus memperjuangkan hak anak Indonesia. Dia mengatakan bahwa melindungi masa depan anak merupakan hal yang wajib dilakukan oleh Negara. “Kami tidak akan mundur selangkahpun hanya gara-gara ancaman seperti ini. Jangan sampai hal seperti ini mengecilkan hati anak-anak kita,” imbuhnya.

Kak Seto berharap bahwa pihak kepolisian dapat menangani kasus ini sampai tuntas. “Selain Angeline, masih banyak kasus lainnya yang juga penting. Hanya saja untuk Angeline, semoga masih ada softcopy. Tidak hanya kasus Angeline, sebetulnya pelanggaran hukum pada anak itu semuanya kasus besar. Bukan hanya yang disorot media saja. Kami melihat masih banyak pelanggaran hukum anak tanpa memandang kelas suku atau pendidikan,” tandasnya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA