in

Pro-Kontra Hukuman Kebiri, Benarkah Efektif Mengurangi Tindak Asusila dan Kekerasan pada Anak?

hukuman kebiri

Selama beberapa minggu terakhir, kasus-kasus tindakan asusila yang menimpa remaja wanita di Indonesia mendadak muncul satu persatu. Pertama kasus asusila hingga berujung kematian yang dialami oleh Yuyun dan beberapa kasus lain yang memiliki kemiripan. Menanggapi kasus ini, pemerintah akhirnya angkat senjata dan mengatakan jika pelaku tindak kekerasan seksual pada anak akan ditindak tegas dengan hukuman kebiri.

Sontak pernyataan pemerintah ini langsung menggebrak publik. Ada pihak-pihak yang menyetujui hukuman ini agar pelaku kapok. Selain itu, orang-orang yang sudah ada niatan akan melakukan hal keji ini akan urung dan kembali ke jalan yang benar.

Pihak yang yang tidak setuju dengan hukuman ini berasal dari organisasi ulama besar Indonesia. Mereka mengatakan bahwa hukuman kebiri akan membunuh fungsi utama alat kelamin untuk repoduksi. Pun dalam kitab suci tidak ada aturan yang mengharuskan hukuman kebiri atau kastrasi ini. Menghapuskan fungsi alat reproduksi dianggap melanggar kehendak Tuhan.

Efektifkah Kebiri Mengatasi Tindak Kejahatan?

Sebelum membahas mengenai keefektifan hukuman ini. Mari kita bahas sejenak seperti apa kebiri itu. Mungkin dalam pemikiran banyak orang, kebiri dilakukan dengan memotong testikel secara utuh hingga membuat organ reproduksi pria tak berguna. Pada kenyataannya kebiri atau kastrasi dilakukan hanya memutus bagian dalam testikel untuk memutus produksi testosteron. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian obat kimia untuk menurunkan hasrat untuk bercinta dengan siapa saja.

kebiri [image source]
kebiri [image source]
Kebiri hanya akan memutus hasrat bercinta yang konon dipicu oleh banyaknya hormon testosteron. Selebihnya, mereka tetap akan hidup dan bisa melakukan tindakan kekerasan. Pihak pemerintah tidak menyadari bahwa hasrat tidak hanya dipicu oleh organ kelamin saja. Pada dasarnya keinginan untuk berhubungan badan selalu muncul dalam pikiran.

Membuat organ reproduksi menjadi nirfungsi bukan berarti menyelesaikan masalah. Di luaran sana banyak orang yang terpuaskan secara seksual tanpa melakukan hubungan badan. Dengan melihat anak kecil, menyiksa orang, hingga melakukan tindakan berbahaya lain, mereka tetap terpuaskan. Bisa dibilang pengkebirian hanya membuang waktu dan mungkin biaya dalam proses operasi dan obat.

Kebiri Tidak Bisa Dilakukan Kepada Siapa Saja

Secara umum, kasus asusila kepada anak-anak banyak dilakukan oleh pria. Korbannya pun lebih banyak wanita meski dalam beberapa kasus pria pun juga bisa mengalaminya. Hukuman kebiri hanya bisa dilakukan kepada pria.

sunat wanita [image source]
sunat wanita [image source]
Padahal dalam beberapa kasus wanita bisa juga melakukan hal itu kepada pria. Di luar negeri, banyak pemuda pria dicekokin oleh obat sejenis viagra agar terus ON dan bisa dimanfaatkan oleh wanita.Jika sudah begini ceritanya, wanita harus dihukum seperti apa? Memotong organ eksternalnya seperti sunat wanita?

Hukuman atau Sebuah Perawatan?

Melakukan pengebirian tidak serta merta menyelesaikan semuanya. Dengan membuat semua perlakukan kejahatan asusila pada anak tak bisa nganu di ranjang, bukan berarti menakuti banyak orang. Dalam beberapa kasus, orang-orang justru senang bisa diberi perlakukan kastrasi ini karena bagi mereka hasrat yang meluap-luap kepada bisa dikontrol. Selain itu, tak semua pelaku yang melakukan tindakan bejat ini orientasi seksualnya selalu mengarah kepada anak-anak. Ada yang melakukannya karena terpaksa.

hukuman [image source]
hukuman [image source]
Hanya dengan memberikan hukuman kebiri tak akan membuat pelaku merasa dihukum. Toh kalau keluar mereka masih bisa melakukan hal yang sama. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa hasrat berasal dari pikiran. Selama pikirannya tak terkebiri, perlakuan seperti ini masih akan terjadi. Pun pengebirian bukan lagi menjadi hukuman, namun seperti perawatan layaknya pecandu narkoba.

Bagaimana menurut Sobat Boombastis semuanya? Hukuman kebiri ini kira-kira efektif atau tidak?

Written by Adi Nugroho

Leave a Reply

Gender Issue: Benarkah Wanita Memang Harus di Bawah Pria?

5 Alasan Kenapa Menikah Dengan Janda Lebih Syahdu Daripada Gadis