8 Hal Buruk Tentang Indonesia di Mata Orang Asing

oleh Tetalogi
15:00 PM on Dec 8, 2015

Kita tentu bangga terlahir dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Meski terkadang ada beberapa hal juga yang membuat kita merasa sedih atau bahkan terkadang marah dengan negara kita sendiri gara-gara oknum yang tidak bertanggung jawab.

Karena beberapa oknum inilah, kita akhirnya sering dicap dengan hal-hal yang buruk. Sejak dulu orang Indonesia digambarkan sebagai seseorang yang ramah dan murah senyum oleh para turis. Namun sepertinya persepsi tersebut tidak lagi bertahan karena mulai ada hal-hal buruk di Indonesia yang melekat di mata orang Asing.

Baca Juga
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi

1. Banyak Korupsi

Korupsi di Indonesia adalah suatu topik yang begitu sering dibicarakan. Hal ini tidak lain karena korupsi sudah seperti menjamur dan mengakar dalam pemerintahan dan bahkan terkadang juga masyarakatnya sendiri.

Ratu Atut, tersangka korupsi [Image Source]
Ratu Atut, tersangka korupsi [Image Source]
Tidak sekali dua kali wisatawan asing yang masuk ke Indonesia harus memberikan uang ekstra kepada petugas pemerintahan seperti di kantor imigrasi, atau saat berurusan dengan pihak berwajib. Belum lagi dengan pemberitaan tentang korupsi Indonesia yang meluas hingga media luar negeri. Tentu saja hal ini memberikan cap buruk pada negara kita.

Korupsi adalah tantangan besar bagi seluruh rakyat Indonesia jika memang menginginkan pemerintahan yang bersih. Karena jika hal ini dibiarkan, tentu saja korupsi hanya akan berakhir dengan hancurnya negara kita sendiri.

2. Pemalas

Malas adalah salah satu kata yang juga digunakan untuk menggambarkan orang Indonesia. Begitu malasnya sampai membuang sampah pun seenaknya dan tidak mau berusaha mencari tempat sampah.

Anggota DPR tidur saat rapat [Image Source]
Anggota DPR tidur saat rapat [Image Source]
Kemalasan tersebut juga tercermin dari istilah jam karet. Hanya sebagian orang saja yang bisa tepat waktu, sementara yang lain begitu terbiasa dengan kata terlambat dan dengan alasan yang itu-itu saja.

3. Tidak Tertib

Ketertiban adalah sesuatu yang membuat negara bisa menjadi lebih teratur. Namun untuk saat ini, hal tersebut sepertinya mustahil di Indonesia. Contoh gampangnya adalah ketidaktertiban saat ada di jalan raya. Jalan raya begitu semrawut karena pengendara tidak mau mematuhi rambu-rambu.

Pengendara yang tidak tertib [Image Source]
Pengendara yang tidak tertib [Image Source]
Mereka sudah terburu-buru melaju padahal lampu belum benar-benar berwarna hijau. Ada tanda dilarang parkir tapi tetap saja ngotot untuk parkir. Mungkin masyarakat lupa, peraturan itu ada untuk dipatuhi, bukan dilanggar.

Tidak cuma di jalan raya, antrian loket, mini market juga banyak yang semrawut. Semua berebut agar dilayani terlebih dahulu. Toleransi sudah terkikis karena masyarakat mulai memikirkan diri sendiri.

4. Arogan

Tidak akan ada yang merasa bahwa diri sendiri arogan. Tapi orang lain yang mendengarnya akan dengan mudah melihat sifat ini. Arogansi tersebut muncul dari kebiasaan merendahkan orang lain karena dianggap lebih rendah darinya.

Arogansi di jalan raya oleh supir bis [Image Source]
Arogansi di jalan raya oleh supir bis [Image Source]
Banyak kasus arogansi yang terjadi di Indonesia. Beberapa contoh diantaranya adalah berita tentang aksi koboi pihak berwajib dengan senjata mereka beberapa waktu lalu yang menewaskan seorang tukang ojek, atau berita tentang seorang pejabat yang marah-marah dan sok kuasa ketika ditegur atau ditilang, atau konvoi suporter bola yang mengganggu pengguna jalan lain. Semua ini sebenarnya juga merupakan bentuk arogansi.

5. Rasis

Rasis itu bukan hanya soal kulit hitam atau kulit putih. Indonesia yang memiliki banyak suku dan budaya ternyata juga tidak lepas dari rasisme. Yang paling menonjol adalah pertentangan antara etnis China dan pribumi, padahal semua sama-sama warga negara Indonesia. Meski begitu, bukan berarti sesama suku pribumi tidak rasis.

Cita Citata Pernah Terlibat Urusan Hukum Gara-gara komentar yang dianggap rasis [Image Source]
Cita Citata Pernah Terlibat Urusan Hukum Gara-gara komentar yang dianggap rasis [Image Source]
Contoh paling mudah adalah stereotipe yang melekat pada beberapa orang dari suku tertentu di Indonesia. Bahkan seorang artis pedangdut harus berurusan dengan hukum gara-gara mengeluarkan kata-kata rasis. Sangat disayangkan jika sesama orang Indonesia masih harus membeda-bedakan apalagi dengan memberikan label stereotipe yang sebenarnya belum tentu benar. Karena hal ini juga salah satu bentuk dari sebuah rasisme.

6. Jorok

Tentu saja hal ini adalah sisi yang sangat terlihat dari Indonesia. Lihat saja jalan-jalan, apalagi sungai yang dipenuhi sampah. Ini merupakan salah satu alasan orang Indonesia disebut jorok.

Sampah di pinggir jalan [Image Source]
Sampah di pinggir jalan [Image Source]
Membuang sampah suka sembarangan dan tidak mau berusaha sedikit saja untuk mencari tempat sampah. Jika diingatkan, alasannya adalah ‘tidak ada tempat sampah’ padahal kebanyakan justru memang tidak mau mencari tempat sampah. Belum lagi dengan kebiasaan membuang sampah di sungai yang berakibat tercemarnya lingkungan. Dan jika terjadi banjir, mereka sibuk menyalahkan orang lain.

7. Selalu Berprasangka dan Mudah Diprovokasi

Tidak bisa dipungkiri, terkadang masyarakat masih begitu mudah berprasangka. Akibat prasangka tersebut, masyarakat jadi mudah diprovokasi. Itulah mengapa sering sekali terjadi kerusuhan mulai dari skala kecil hingga besar.

Aksi tawuran, bukti orang Indonesia mudah diprovokasi [Image Source]
Aksi tawuran, bukti orang Indonesia mudah diprovokasi [Image Source]
Ketika terprovokasi, masyarakat akan dengan begitu mudah merendahkan atau menghina kelompok atau bahkan negara lain. Bahkan beberapa orang menganggap masyarakat Indonesia adalah orang yang sangat tidak bisa mengontrol emosi.

Tentu saja memang tidak semua masyarakat Indonesia seperti ini. Kenyataannya, masih banyak juga warga Indonesia yang bisa bersikap santun, ramah, peduli lingkungan, serta peduli dengan kepentingan masyarakat banyak. Namun sangat disayangkan jika orang-0rang dengan mental positif seperti ini justru tenggelam oleh suara-suara negatif yang beredar.

Beberapa orang berpendapat bahwa jika masyarakat Indonesia mau berubah, maka harus memilih pemimpin yang tepat, namun ada juga yang beranggapan bahwa perubahan harus dimulai dari bawah. Tetapi, akan lebih baik jika kita semua bergerak dan berubah menjadi individu sekaligus warga negara yang lebih baik tanpa perlu menunggu orang lain berubah terlebih dahulu.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA