Perjuangan Guru Perbatasan, Mengajar di Kolong Rumah Tanpa Bayaran

oleh Evi Rizana
08:42 AM on Feb 20, 2015

Begitu banyak perjuangan seorang guru demi kemajuan bangsa. Dengan penuh kesabaran, mereka mengajar untuk mencerdaskan calon penerus bangsa. Dan, tak sedikit dari mereka yang berjuang dengan mengabdikan diri  mereka untuk mendidik anak bangsa tanpa mengharap imbalan.

Salah satunya adalah Suraidah, warga Desa Sei Limau Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan. Suraidah ini hanyalah salah satu contoh di antara sejumlah warga perbatasan Indonesia-Malaysia yang mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar tanpa mengharapkan pamrih dari pemerintah. Berikut kisah selengkapnya, dilansir dari Antara.

Baca Juga
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia
6 Cara Ini Bisa Dipakai Agar Tragedi ‘Panjat Pinang Maut’ Tak Terjadi Lagi

1. Rasa Prihatin

Tinggal di daerah pedalaman membuat beberapa anak tidak bisa mengenyam pendidikan. Begitu pula dengan anak-anak yang tinggal di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan perbatasan Indonesia Malaysia ini. Kondisi tersebut telah mengetuk hati sejumlah warga yang memiliki kepedulian yang besar terhadap dunia pendidikan Indonesia, termasuk Suraidah.

Suraidah, salah satu pengajar di Yayasan Ar-Rasyid, Nunukan
Suraidah, salah satu pengajar di Yayasan Ar-Rasyid, Nunukan

Dia memutuskan untuk menjadi seorang pengajar karena rasa prihatin terhadap sejumlah anak-anak buruh di perusahaan perkebunan Malaysia yang tidak mengenyam pendidikan. Suraidah bersama ketiga temannya mengabdikan diri dengan tulus ikhlas tanpa mengharap pujian dan imbalan.

2. Guru di Sekolah Swasta dengan Fasilitas Terbatas

Suraidah memutuskan untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Ar-Rasyid Cabang perbatasan yang terletak di Jalan Asnur Gaeng Pasau RT 12 Desa Sei Limau Kecamatan Sebatik Tengah. Sekolah swasta yang bekerjasama dengan Yayasan Dompet Dhuafa Cabang Kaltim ini sudah membina 60 siswa yang terdiri dari tingkat bawah yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Mengajar PAUD, SD, hingga SMP
Mengajar PAUD, SD, hingga SMP

Begitu banyak suka duka menjadi pengajar di perbatasan. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas sehingga kolong rumah warga pun kerap kali digunakan sebagai ruang kelas untuk mengajar. “Fasilitas sekolah sangat terbatas. Bahkan kamu terpaksa menggunakan kolong rumah warga sebagai ruang belajar,” ungkap Suraidah, dilansir dari News Okezone.

3. Tidak Pernah Menerima Bayaran

Selain itu, Suraidah juga harus pandai membagi waktu. Apalagi dia mengajar anak dengan jenjang yang berbeda. Dia mengajar sejumlah 20 anak PAUD di pagi hari. Sedangkan siang dan sore hari dia mengajar anak SD dan SMP. Tanpa lelah, Suraidah dan ketiga temannya terus berjuang untuk bisa memberikan pendidikan terhadap anak-anak di wilayahnya.

Mengajar di kolong rumah
Mengajar di kolong rumah

Perjuangan Suraidah dan ketiga temannya ini memang pantas untuk diacungi jempol. Selama mengabdikan diri, Suraidah mengaku belum pernah mendapatkan imbalan atas tenaga dan waktunya. Dia juga mengaku mengajar dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan dari pemerintah.

4. Harapkan Pemerintah untuk Berikan Kesejahteraan

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Nunukan, Hj. Nursan berharap agar pemerintah memperhatikan pendidikan yang berada di perbatasan. Dia mengaku miris melihat kondisi kolong rumah yang dijadikan tempat belajar dan perjuangan tenaga pengajar yang tidak mendapatkan kesejahteraan.

Harapan guru di perbatasan
Harapan guru di perbatasan

Apalagi, saat kampanye di Papua Presiden Jokowi juga berjanji akan memberikan kesejahteraan guru di perbatasan. Begitu pula dengan warga Nunukan yang juga berharap agar pemerintah juga memberikan kesejahteraan guru di perbatasan Indonesia Malaysia.

Namun, hingga saat ini, masih banyak sekolah-sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan. Termasuk anak-anak yang belajar di kolong rumah dan guru yang tanpa dibayar ini.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
error put content