Mengenang Hannah Arendt, Seorang Filsuf Dunia yang Menjadi Google Doodle

oleh Admin
11:14 AM on Oct 15, 2014

Sudah membuka Google Doodle hari ini? Ada perubahan di halaman pencarian Google Indonesia. Terlihat sosok seorang wanita memegang pena sambil ditemani oleh beberapa buku. Siapakah dia?

Dia adalah Hannah Arendt, seorang pakar politik dan filsuf terkemuka dari awal abad 20. Google hari ini memang tengah merayakan ulang tahunnya ke-108. Gambar dari Arendt ternyata tidak hanya nampak di halaman Google Indonesia saja, tetapi juga di 20 negara lain di seluruh dunia seperti Malaysia, Laos, Taiwan, Korea Selatan, Israel, Yunani, Jerman, Itali, Brazil, Nigeria, dan Pantai Gading.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

google doodle
Google Doodle Hannah Arendt

Mungkin publik Indonesia tidak begitu akrab dengan namanya. Namun dia adalah salah satu tokoh terkemuka di dunia. Arendt merupakan seorang filsuf yang banyak membahas tentang kekuasaan, politik, dan totalitarianisme. Salah satu teori yang disusunnya adalah tentang kemerdekaan yang bersifat publik dan asosiatif. Bahkan, saat ini terdapat penghargaan atas namanya ‘The Hannah Arendt Prize’ yang diberikan khusus bagi para politikus yang mampu membawa warisan paham totalitarianisme milik Arendt.

Baca Juga :9 Fakta Mengejutkan Tentang Adolf Hitler, Sang Diktaktor NAZI

Berasal dari keluarga Yahudi sekuler, Arent lahir pada 14 Oktober 1906 di Hannover, Wilhelmine, Jerman. Arendt tumbuh besar di Konigsberg. Ayah ibunya bernama Paul dan Martha Arendt. Keduanya merupakan pengusaha berbakat dari keluarga Yahudi Rusia. Dia menjadi anak tunggal. Pada usia 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sang ibu kemudian menikah lagi dengan Martin Beerwald pada 1920.

Sejak kecil, Arendt dikenal gemar membaca. Pada usia 16 tahun dia sudah menyukai sastra termasuk karya Immanuel Kant dan Goethe. Arendt menyelesaikan SMAnya di Koenigsberg pada 1924. Dia kemudian memutuskan mempelajari teologi di Universitas Marburg bersama Rudolf Bultmann. Ketertarikan Arendt pada teologi diduga karena kemungkinan ia terinspirasi oleh pemikiran tentang teologi dan romantisme yang terdapat dalam puisi Kierkegaard. Pilihan mempelajari teologi belakangan membawa Arendt untuk mempelajari politik. Terutama setelah pertemuannya dengan filsuf bernama Martin Heidegger.

Pada September 1929, Arendt meraih gelar doktor dan kemudian menikah dengan Gunther Stern. Saat itu pemahaman Anti-Semit tengah berkembang di Jerman dan Arendt membuat sebuah protyek yang akan membantunya memahami konflik antara nasionalisme Jerman dan status minoritas. Bukunya, Rahel Varnhagen: The Life of Jewish Woman, mengisahkan riwayat hidup seorang pemilik salon keturunan Yahudi pada awal 1800an yang kemudian berpindah agama  menjadi Kristen.

Sejak Nazi mulai berkuasa di Jerman, Arendt yang keturunan Yahudi sempat dipenjara di Gestapo di tahun 1933. Setelah Perang Dunia ke-2 berakhir, Arendt kembali ke Jerman dan bekerja untuk sebuah organisasi Zionis yang saat itu menyelamatkan ribuan anak-anak dari peristiwa ‘Holocaust’ dengan memindahkan mereka ke daerah Palestina yang kini menjadi Israel.

Hal tersebut tidak bertahan lama, karena Arendt sendiri akhirnya menjadi warga Amerika tetap pada tahun 1950. Arendt juga tercatat sebagai dosen wanita pertama di Universitas Princeton. Di sinilah dia kemudian menyusun  masterpiece-nya berjudul The Origins of Totalitarianism. Ketika akhirnya dipublikasikan pada 1951, buku ini mendapat respon besar.

Setelah melahirkan banyak buku dan menerima hadiah dari Guggenheim Foundation untuk studinya tentang marxisme dan totalitarianisme, Hannah Arendt meninggal dunia pada 4 Desember 1975 di New York. Arendt mewariskan sebuah perpustakaan pribadinya yang berisi sekitar 4000 buku lebih pada Stevenson Library di tahun 1976. Saat ini buku-buku Arendt juga tersedia secara digital di ‘The Hannah Arendt Collection’.

Baca Juga :5 Momen Paling Memalukan Para Selebriti Dunia, Bikin Ngakak!
Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA