Pro-Kontra Gelar Bangsawan ‘Andi’ di Sulawesi Selatan yang Dipercaya Pemberian dari Belanda

Bila memang gelar ini berasal dari Belanda, rasanya tidak mungkin orang Bugis mempertahankannya sampai sekarang

oleh Faradina
18:00 PM on Apr 21, 2017

Indonesia emang merupakan negara yang kaya baik dari segi budaya dan sejarah. Dengan jumlah suku bangsa mencapai kurang lebih 1340 yang mana tiap suku tersebut memiliki keunikan masing-masing termasuk tentang gelar masyarakatnya. Bicara mengenai gelar memang hal ini biasanya identik dengan kasta yang hanya disematkan di depan nama seorang keturuan bangsawan. Misalnya saja Teuku atau Tengku untuk Aceh, Raden untuk Jawa, Daeng Makassar, Andi Bugis, dan lainnya.

Banyak dari kita yang mungkin berpikir gelar tersebut sudah digunakan oleh nenek moyang secara turun temurun dan memang asli dari Indonesia. Namun ternyata ada pendapat lain menyebutkan bahwa gelar daerah tertentu bukan pemberian nenek moyang, melainkan dari pendatang. Dan salah satunya adalah gelar Andi yang disematkan pada nama keturunan bangsawan Bugis.

Gelar Andi mulai digunakan pada tahun 1930

Sulawesi Selatan konon menjadi salah satu wilayah nusantara yang tidak mudah jatuh ke tangan Belanda. Oleh karena itu kemudian pihak Belanda secara khusus mengirimkan utusannya menuju Sulsel guna menaklukkan daerah ini. Banyak hal yang terjadi pasca pengiriman delegasi Belanda ini salah satunya adalah pemunculan gelar Andi. Andi ini mulai diperkenalkan pada tahun 1930 guna menandai para keturunan bangsawan. Saat itu seorang misionaris Belanda, B.F Matthes mendirikan sekolah yang diberi nama OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Matthes kemudian meminta murid-muridnya menyerahkan silsilah keturunan nenek moyangnya.

Andi Mattalatta, salah satu tokoh Bugis [image source]
Selain itu pemerintah Belanda juga meminta para siswa untuk mengumpulkan lembar pernyataan akan setia pada pemerintahan Hindia-Belanda. Mengapa? Karena ternyata sekolah ini sengaja didirikan untuk mencetak bibit pegawai administrasi serta pejabat pemerintah. Siapapun anak yang berhasil menamatkan pendidikannya di OSVIA, maka nantinya mereka akan mendapat gelar Andi di depan namanya. Mungkin semacam gelar sarjana yang kita dapatkan selama ini.

Sekolah Belanda tersebut merupakan produk politik balas budi

Cukup pelik sekali sebenarnya kondisi Belanda di kala itu. Sebelum membuat politik etis, Belanda telah mengalami masa-masa sulit pasca perang dunia I. Pihak Belanda saat itu berinisiatif untuk menggerakkan kerajaan-kerajaan di Indonesia yang vakum untuk tetap berdiri di bawah pengawasan mereka. Dengan demikian Belanda tetap bisa mengendalikannya. Hal ini otomatis membuat kekuasaan raja menjadi berkurang dan kemudian pihak Belanda mencari putera mahkota dengan melihat darah bangsawan untuk nantinya diangkat menjadi raja.

Ilustrasi Bugis Makassar [image source]
Setelah itu ketika politik etis diberlakukan di Indonesia, tentunya seluruh wilayah jajahan Belanda akan mengalami dampaknya. Baik itu untuk bidang emigrasi, irigasi, maupun edukasi. Nah khusus untuk bidang edukasi atau pendidikan inilah kemudian muncul sekolah-sekolah dengan misi khusus. Salah satunya OSVIA untuk mencetak kaum terpelajar keturunan bangsawan dan nantinya ditandai dengan gelar Andi.

Sebelum Andi, masyarakat sudah memiliki gelar yang digunakan

Menurut beberapa sumber ternyata sebelum gelar Andi mulai diperkenalkan ternyata masyarakat Sulawesi sudah memiliki panggilan gelarnya sendiri. Titel kebangsawanan yang digunakan masyarakat sebelum masa pemerintahan kolonial Belanda antara lain La atau I untuk laki-laki, serta We khusus perempuan. Ada pula gelar kebangsawanan digunakan sesuai daerah misalnya saja Puang, Bau’, Opu, Karaeng, Arung, maupun Daeng.

Orang Bugis [image source]
Untuk orang luar Sulawesi mungkin lebih familiar dengan gelar Daeng yang biasanya disematkan di depan keturunan suku Makassar. Namun ternyata saat ini ada yang berpendapat bahwa Daeng sedang mengalami sedikit pergeseran makna. Ada pula istilah Baso dan Besse pada tahun 1850 sebelum digantikan oleh Ambo/Indo. Hal ini menunjukkan bahwa dalam satu Sulawesi saja ternyata memiliki banyak sekali gelar berdasarkan daerah tinggalnya, dan dulunya memang tak hanya Andi maupun Daeng yang digunakan.

Pro-kontra gelar Andi di masyarakat

Seperti yang sudah disebutkan bahwasannya gelar Andi ini kabarnya hanya diberikan kepada para lulusan sekolah khusus Belanda. Namun fakta yang ada di lapangan adalah ternyata tidak semua Andi berasal dari kaum terpelajar versi Belanda. Karena ternyata beberapa keturuanan bangsawan juga turut menyematkan kata Andi di depan nama anak mereka kala itu. Selain itu ternyata tidak semua bangsawan terpelajar menggunakan gelar ini di depan namanya.

Bugis [image source]
Meskipun demikian, memang masih banyak orang yang mengklaim bahwa gelar Andi tersebut benar-benar diberikan oleh Matthes kepada bangsawan Bugis yang terpelajar. Namun yang menjadi pembicaraan saat ini adalah apabila memang gelar ini bukan murni berasal dari budaya Bugis-Makassar, maka kecil kemungkinan hal ini bisa diterima secara menyeluruh dan bahkan masih dipertahankan sampai saat ini.

Gelar Andi ini memang merupakan salah satu warisan budaya yang masih menimbulkan pro kontra. Banyak yang menyatakan bahwa para tokoh Sulawesi Selatan sudah sering sekali melakukan penbahasan tentang asal mula gelar ini. Memang beberapa dari mereka membenarkan bahwa gelar ini mulai digunakan sejak tahun 1930, namun banyak pula yang menyangsikan bila Andi adalah pemberian Belanda. Pasalnya, seperti yang tadi disebutkan bahwa tidak mungkin masyarakat Bugis mempertahankan sesuatu yang bukan berasal dari nenek moyang mereka, malah dari sekutu. Next

Like us on Facebook Follow us on Twitter
BERITA LAINNYA
BERITA PILIHAN
BERITA TERKAIT
BACA JUGA