7 Fakta Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional dari Dayak yang Menjadi Sosok di Balik Bergabungnya Kalimantan dengan Indonesia

oleh Tetalogi
17:46 PM on May 12, 2016

Tidak banyak yang tahu siapa itu Tjilik Riwut meski namanya telah diabadikan menjadi bandar udara di Palangkaraya. Padahal, ia adalah sosok yang sangat berjasa bagi Indonesia dan merupakan tokoh hebat dari suku Dayak, Kalimantan.

Tidak hanya aktif di bidang militer saja, ia juga menjadi sosok berjasa yang di balik bersatunya Kalimantan dengan Indonesia. Berikut ini beberapa fakta tentang kehidupan tokoh hebat tersebut.

Baca Juga
Dinobatkan Jadi Atlet Tercantik dan Terseksi SEA Games 2017, Ini Lho Pesona Lindswell Kwok Yang Bikin Indonesia Bangga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main

1. Pria Tangguh yang Mengelilingi Kalimantan Hanya dengan Jalan Kaki

Tjilik Riwut adalah orang asli Kalimantan yang berasal dari suku Dayak Ngaju. Dengan bangga ia menyebut dirinya sebagai orang hutang karena terbiasa hidup di alam liar Kalimantan. Bahkan semasa hidupnya, ia sudah 3 kali mengelilingi pulau Borneo tersebut hanya dengan jalan kaki serta menggunakan sampan.

Tjilik Riwut [Image Source]
Tjilik Riwut [Image Source]
Sejak kecil ia memang merupakan sosok yang sangat dekat dengan alam. Tanpa ragu ia akan memasuki hutan tanpa baju dan alas kaki serta hanya mengenakan celana panjang. Mungkin hal itu pula yang membuatnya begitu lincah bertempur di medan perang meski harus berada di dalam hutan.

2. Pernah Bekerja Sebagai Pers yang Menyuarakan Perjuangan Nasional

Ketertarikannya dalam dunia tulis menulis membuatnya memutuskan untuk menjadi wartawan. Tahun 1940, ia sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pakat. Di kurun waktu yang sama, ia juga bekerja sebagai koresponden Harian Pemandangan.

Tjilik Riwut dan Keluarga [Image Source]
Tjilik Riwut dan Keluarga [Image Source]
Dalam bidang jurnalisme itulah Tjilik Riwut turut menyumbangkan tenaga dan pikiran dengan menyebarkan berita seputar pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Tapi kiprahnya di dunia pers tidak berlangsung lama karena Jepang mendarat di Balikpapan tahun 1942.

3. Mengumpulkan Informasi dengan Bekerja Pada Intelijen Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia, Tjilik Riwut beralih profesi menjadi intelijen militer Jepang. Tugasnya adalah untuk mengumpulkan data-data tentang keadaan di Kalimantan, tapi bukan berarti dia sedang berkhianat. Dia melakukan tugas penting demi Indonesia.

Tjilik Riwut [Image Source]
Tjilik Riwut [Image Source]
Ia mendapatkan jabatan dari pemerintah pendudukan Jepang yang membuatnya punya akses ke seluruh daerah di Kalimantan. Hal inilah yang ia manfaatkan untuk menjalin komunikasi dan koordinasi dengan beragam suku di Kalimantan. Tjilik Riwut meyakinkan mereka agar tetap setiap dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

4. Menjadi Wakil Kalimantan Setelah Indonesia Merdeka

Indonesia akhirnya merdeka dan Tjilik Riwut dipercaya menjadi Perwakilan Dewan Pimpinan Penyelenggaraan Ekspedisi ke Borneo di Yogyakarta. Tahun berikutnya, ia mewakil 185 ribu rakyat Dayak di pedalaman Kalimantan yang terdiri dari 142 suku, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 4 kepala suku, 3 panglima, 10 patih, 2 tumenggung, dan 2 kepala burung untuk menyatakan sumpah setia kepada Republik Indonesia.

Tjilik Riwut (Kanan) dan Presiden Soekarno [Image Source]
Tjilik Riwut (Kanan) dan Presiden Soekarno [Image Source]
Sumpah ini berarti Kalimantan telah menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para anggota suku ini juga bersumpah akan mempertahankan daerahnya masing-masing dari serangan tentara NICA yang berusaha merebut kembali Indonesia.

5. Terjun di Bidang Militer demi Mempertahankan Kemerdekaan

Tjilik Riwut kemudian terjun ke dunia militer dan menjadi Komandan Pasukan MN 101 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan. Ia jua mencatatkan prestasi di bidang militer karena kesuksesannya sebagai komando Penerjung Payung Pertama AURI pada 17 Oktober 1947. Sejak saat itu 17 Oktober diperingati sebagai hari Pasukan Khas TNI-AU.

Tjilik Riwut saat membangun Kalimantan [Image Source]
Tjilik Riwut saat membangun Kalimantan [Image Source]
Sebagai tentara, ia memiliki pengalaman perang di sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Pangkat terakhirnya di bidang militer adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU. Setelah era peperagan telah berakhir dan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Tjilik Riwut beralih ke dunia politik demi membangun Kalimantan.

6. Tekad Besar Demi Membangun Kalimantan

Salah satu jasa Tjilik Riwut yang masih dikenang di bidang pembangunan adalah membuka hutan serta membangun daerah di sekitar Desa Pahandut menjadi Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Pembangunan kota Palangkaraya ini adalah salah satu obsesi Tjilik Riwut yang berhasil tercapai. Obsesi lainnya yaitu membangun 2 bandara internasional, meski saat ini yang terwujud baru satu bandara saja.

Presiden Soekarno ikut hadir dalam pembangunan kota Palangkaraya [Image Source]
Presiden Soekarno ikut hadir dalam pembangunan kota Palangkaraya [Image Source]
Tekad besar dan loyalitas Tjilik Riwut pada Kalimantan tidak hanya terbukti dari pembangunan yang ia pimpin saja. Ia bahkan menyumbangkan harta dan uang pribadinya untuk memberi makan orang yang ikut membangun Palangkaraya. Keluarganya sendiri bahkan sampai kehabisan jatah beras yang diperuntukkan baginya sebagai gubernur karena ia membagikan beras tersebut pada orang-orang yang bekerja. Tjilik Riwut juga ikut turun langsung menebang pohon bersama dengan para pekerja lainnya.

7. Memegang Teguh dan Melestarikan Kebudayaan Kalimantan

Bukan saja nasionalis, ia juga sangat menjunjung tinggi kebudayaan dan leluhurnya. Ia selalu menekankan pentingnya untuk tetap mengingat asal-usul kita sebagai manusia. Baginya, kebugayaan adalah sebuah identitas yang harus dipelihara.

Tjilik Riwut saat upacara memotong pantan [Image Source]
Tjilik Riwut saat upacara memotong pantan [Image Source]
Ideologinya ini tertuang dalam beberapa karyanya berupa buku yaitu Kalimantan Memanggil (1958), Kalimantan Membangun (1979), dan Manaser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur (2003). Lewat tulisannya, ia banyak mengenalkan dan mengabadikan kebudayaan suku Dayak yang perlahan mulai luntur.

Itulah sosok yang namanya kini telah diabadikan sebagai bandar udara di Palangkaraya. Sebagai seorang warga negara Indonesia, ia memiliki jiwa nasionalis yang tinggi dan turut berperan dalam persatuan Republik Indonesia. Sebagai seseorang dari suku Dayak, ia memiliki komitmen tinggi dan lebih mementingkan kemajuan daerahnya. Tidak heran jika beliau menjadi sosok yang begitu dihormati karena perilakunya yang mulia tersebut.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA