Elizabeth Bathory, Ratu Sakit Jiwa yang Dikenal Sangat Kejam dan Biadab

oleh Nikmatus Solikha
10:07 AM on Jan 15, 2017

Elizabeth Bathory merupakan salah satu nama bangsawan yang melegenda di Eropa. Namanya selalu dikenang bahkan setelah zaman telah berganti. Hal tersebut bukan karena si bangsawan yang dikenal baik hati dan dermawan, namun sebaliknya. Elizabeth Bathory merupakan wanita terkejam dalam sejarah. Dari tangan bangsawan wanita tersebut, telah terenggut nyawa ratusan manusia.

Hidup sebagai wanita dengan kedudukan terpandang rupanya tidak membuat seorang Elizabeth memiliki kepribadian yang kalem dan santu. Justru si bangsawan yang sebenarnya jelita ini melakukan hal yang berkebalikan.Tak heran jika nama Elizabeth Bathory pun dikenang hingga saat ini, walaupun bukan karena hal-hal baik. Dan berikut ini adalah beberapa fakta tentang Elizabeth Bathory yang pasti akan membuatmu geram.

Baca Juga
Seperti Ini Nasib 5 Orang Kontroversial di Indonesia Sekarang, Dijamin Bikin Melongo
Inilah 4 Fakta Mengenai Bodyguard Cantik China yang Buat Kamu Ingin Dijagain Aja Hatinya

Berasal dari Keluarga Terpandang namun Sakit Jiwa

Elizabeth merupakan putri dari pasangan bangsawan paling kaya raya. Orangtuanya, Georges dan Anna adalah ningrat paling kaya di Hungaria pada masanya. Sementara para keluarga besarnya juga merupakan orang-orang terpandang. Elizabeth memiliki seorang sepupu perdana menteri di Hungaria. Sementara pamannya, Stepehen adalah Raja Polandia.


Ilustrasi Elizabeth [Image Source]

Meski berasal dari keluarga terpandang, namun para keluarga Bathory rupanya punya sisi ‘gila’ yang cukup dikenal masyarakat. Salah satu paman Elizabeth adalah seorang penganut Paganisme dan Satanis. Sementara itu, seorang sepupunya juga memiliki kelainan jiwa dan hobi melakukan kejahatan seksual.

Gemar Selingkuh dan Memiliki Banyak Kekasih Gelap

Pada usianya yang ke-15 tahun, Elizabeth menikah dengan Count Ferenc Nádasdy yang berusia 25 tahun.  Suaminya adalah seorang bangsawan yang derajatnya tak lebih tinggi dari Elizabeth. Sehingga, Elizabeth tetap menggunakan Bathory sebagai nama keluarganya. Sementara suaminya juga menggunakan nama Bathory. Meski telah menikah, namun Count Ferenc lebih sering berada di medan pertempuran dan membuat Elizabeth kesepian.

Ilustrasi Elizabeth yang gemar selingkuh [Image Source]
Hal itu mendorongnya untuk menjalin hubungan gelap dengan banyak lelaki selama suaminya tidak di tempat. Elizabeth bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya, namun akhirnya ia kembali. Meski demikian, Elizabeth tetap ketagihan melakukan hal menyimpang, bahkan ia juga menjadi seorang biseksual, dengan melakukan hubungan dengan bibinya sendiri, Countess Klara Báthory.

Memuaskan Hasrat Birahi dengan Menyiksa

Awal mula kegilaan tersebut adalah pengaruh dari pelayan terdekatnya, Dorothea Szentes. Elizabeth pun mulai gemar memuaskan hasrat seksual melalui penyiksaan terhadap pelayan-pelayan yang lebih muda.

Ilustrasi Elizabeth yang suka menyiksa [Image Source]
Selain Dorothea Szentes, Elizabeth juga dibantu oleh pelayan lainnya yaitu suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang juga merupakan kekasihnya. Mereka menyiksa para pelayan dengan cara diikat, ditelanjangi kemudian dicambuk. Bahkan menggunakan beberapa alat bantu untuk menyakiti beberapa anggota tubuh tertentu.

Gemar Mandi Darah Gadis Muda

Setelah kematian sang suami, kegilaan Elizabeth mencapai puncaknya. Saat itu Elizabeth yang sudah memasuki usia 40 tahun mulai merasa kecantikannya memudar. Sebenarnya, hal tersebut lumrah terjadi pada usianya. Namun, Elizabeth tidak menerima hal itu. Suatu kali, seorang pelayan yang membantu menyisir rambut tanpa sengaja menarik rambutnya terlalu keras, Elizabeth pun marah dan menampar wajahnya.

Ilustrasi mandi darah [Image Source]
Darah menetes dari hidung si pelayan dan mengenai tangannya. Saat itulah Elizabeth meyakini jika darah gadis muda bisa memancarkan kemudaan mereka. Elizabeth pun memanggil Johannes Ujvari dan Dorothea Szentes untuk membantunya menelanjangi gadis tersebut dan membawanya ke bak mandi. Elizabeth pun memotong urat nadinya hingga gadis malang tersebut tewas kehabisan darah. Setelah itu, Elizabeth pun masuk kubangan darah untuk berendam. Elizabeth juga meminum darah tersebut karena meyakini bisa mendapatkan inner beauty.

Akhir Kejayaan Elizabeth

Setelah kehabisan pelayan muda, Elizabeth mulai merekrut gadis-gadis desa untuk mendapatkan darah mereka. Namun, rupanya kepuasan Elizabeth akan darah belum juga terpenuhi. Ia pun mulai menculik para gadis-gadis bangsawan kelas rendah untuk mendapatkan darahnya. Namun, keputusan tersebut rupanya menjadi bumerang baginya. Hilangnya para putri bangsawan rupanya menyita perhatian orang-orang berpengaruh, termasuk Raja. Tanggal 30 Desember 1610, pasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó menyerbu ke instana Elizabeth.

Kastil Elizabeth [Image Source]
Saat itu, betapa terkejutnya saat ditemukan banyak sekali mayat di istana tersebut. Semua kondisinya mengenaskan, terikat dengan nadi yang tersayat. Setidaknya, tercatat 650 korban dalam pengadilan. Perhitungan tersebut dari hasil laporan berbagai pihak. Selama proses pengadilan, Elizabeth tak pernah hadir. Hanya 4 pelayannya yang hadir, kemudian dihukum mati. Sementara Elizabeth diisolasi dengan tembok dalam kamarnya sendiri. Pada 21 Agustus 1614, Elizabeth akhirnya meninggal di usianya yang ke 54 tahun.

Kisah melegenda tersebut tentu membuktikan jika pada dasarnya, nafsu manusia tak akan pernah bisa mencapai kepuasan. Dari nafsu, seseorang bisa melakukan apa pun, termasuk menghilangkan nyawa orang lain. Dan sepertinya, terlahir sebagai rakyat jelata jauh lebih terpandang daripada bangsawan yang namanya abadi di ingatan masyarakat sebagai orang yang biadab.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
BERITA LAINNYA
BERITA PILIHAN
BERITA TERKAIT
BACA JUGA