6 Eksperimen Ilmiah Mengerikan dan Traumatis yang Pernah Dilakukan Pada Manusia

oleh Tetalogi
14:00 PM on Oct 12, 2015

Para dokter bisa lebih memahami tentang penyakit, tubuh manusia, atau bagaimana cara mengobati masalah kesehatan yang terjadi seperti sekarang ini berkat adanya eksperimen ilmiah yang dulu pernah dilakukan. Jasa para ilmuwan inilah yang membuat kini banyak ditemukan obat-obatan untuk menyembuhkan, mencegah atau menghambat penyakit pada tubuh.

Meski begitu, yang namanya eksperimen ilmiah pada zaman dulu tidak sama dengan apa yang sering kita lakukan pada mata pelajaran biologi saat masih sekolah. Bahkan ada juga beberapa eksperimen yang justru begitu menyeramkan dan mampu membuatmu bergidik ngeri.

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

1. Unit 731

Unit 731 adalah sebuah uni penelitian dan pengembangan senjata kimia dan biologi milik kekaisaran Jepang pada masa perang Sino Jepang tahun 1937 hingga 1945. Di unit ini, dilakukan eksperimen terhadap manusia dengan cara yang sangat tidak berperikemanusiaan. Bahkan unit ini terkenal sebagai kejahatan perang paling parah yang pernah dilakukan Jepang

Gedung Unit 731 [Image Source]
Gedung Unit 731 [Image Source]
Unit 731 terletak di Pingfang distrik Harbin, kota terbesar kekuasan Jepang di Manchuko, China Utara. Secara resmi tempat ini disebut sebagai Departemen Pencegahan Epidemi dan Pemurnian Air Pasukan Kwantung. Meski begitu di dalam tempat ini 3 ribu hingga 250 ribu pria, wanita dan anak-anak meninggal karena eksperimen yang dilakukan.

Eksperimen yang dilakukan pada orang China, Korea, Mongol, dan Rusia ini antara ini dilakukannya pembedahan tanpa obat bius untuk mengetahui efek penyakit pada organ tubuh manusia, memotong lengan untuk melihat proses kehilangan darah, kemudian memasang kembali potongan tersebut tanpa diberi obat yang memadai untuk mempelajari pembusukan pada tubuh, menyuntikkan penyakit pada manusia, tes beku, tes senjata untuk melihat posisi yang efektif untuk melemparkan granat, dan masih banyak lagi tes mengerikan lainnya.

2. Eksperimen Tahanan Stanford

Eksperimen ini merupakan penelitian efek psikologis dari menjadi seorang tahanan dan sipir penjara. Philip Zimbardo, seorang profesor psikologi yang memimpin tim peneliti ini mengadakan penelitiannnya di Universitas Stanford pada 14-20 Agustus 1971. Awalnya, eksperimen ini rencananya akan dijalankan selama dua minggu, tapi dihentikan hanya dalam waktu 6 hari.

Eksperimen Tahanan Standford [Image Source]
Eksperimen Tahanan Standford [Image Source]
Zimbardo merekrut 24 orang yang benar-benar sehat secara fisik dan mental dan sama sekali tidak memiliki catatan kriminal serta termasuk kalangan orang menengah untuk melakukan simulasi kehidupan penjara. Tidak disangka, para partisipan benar-benar beradaptasi dengan peran mereka.

Mereka yang berperan menjadi sipir mulai memiliki tendensi untuk bersikap sadis. Sementara itu, mereka yang berperan menjadi tahanan secara pasif menerima penganiayaan psikis yang dilakukan oleh para sipir. Mereka juga mulai ikut mengganggu atau menganiaya tahanan lain yang berusaha membantu.

Eksperimen dihentikan dalam 6 hari [Image Source]
Eksperimen dihentikan dalam 6 hari [Image Source]
Dua orang yang berperan menjadi tahanan berhenti dari eksperimen ini lebih awal karena mereka akhirnya menderita trauma mental. Eksperimen ini juga kemudian berhenti hanya dalam waktu 6 hari dan menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki tendensi melakukan kekerasan jika kondisi lingkungannya memungkinkan.

3. Eksperimen Pengerasan Kulit

Pada tahun 1960an, Albert Kligman yang merupakan seorang ahli kulit menjalankan program eksperimen pada tahanan di penjara Holmesburg. Satu eksperimen yang disponsori oleh militer Amerika yaitu mencari cara untuk bisa membuat kulit menjadi keras agar bisa melindungi para tentara dari luka akibat zat kimia pada peperangan.

Farmasi menguji coba obatnya pada tahanan di Holmesburg [Image Source]
Farmasi menguji coba obatnya pada tahanan di Holmesburg [Image Source]
Untuk melakukan hal ini, Kligman mengoleskan berbagai jenis krim berisi zat kimia pada tahanan, namun yang dihasilkan hanyalah luka permanen dan rasa sakit yang luar biasa. Perusahaan farmasi juga membayar Kligman untuk menggunakan tahanannya sebagai kelinci percobaan untuk menguji produknya. Meskipun para subjek dibayar untuk menjadi kelinci percobaan, tapi mereka tidak tahu efek samping yang mungkin muncul.

Berbagai penelitian dengan bahan kimia tersebut akhirnya mengakibatkan kulit menjadi melepuh dan terbakar. Meski begitu, Kligman tetap melakukan penelitiannya yang kejam ini pada para tahanan ketika masa jabatannya di penjara. Bahkan, ketika ia baru tiba di penjara tersebut untuk pertama kalinya, ia berkata, “apa yang aku lihat adalah berhektar-hektar kulit.”

4. Penelitian Monster

Penelitian ini dilakukan pada 22 orang anak yatim piatu di Davenport, Iowa, tahun 1939 oleh Wendell Johnson. Wendell memili salah satu mahasiswanya, Mary Tudor untuk melakukan eksperimen ini dengan pengawasannya. Anak-anak yang menjadi subjek penelitian kemudian dibagi menjadi dua kelompok.

Anak-anak subjek penelitian Monster [Image Source]
Anak-anak subjek penelitian Monster [Image Source]
Tudor memberikan terapi berbicara yang positif kepada kelompok satu, dan memuji kelancaran berbicara mereka. Sebaliknya, ia memberikan terapi bicara negatif kepada kelompok kedua dan menghina mereka setiap kali mereka tidak bicara dengan benar serta menghina mereka sebagai gagap. Banyak anak yang bicara normal yang menerima terapi negatif jadi memiliki masalah psikologis dan beberapa bahkan memiliki masalah bicara sepanjang hidupnya. Nama penelitian monster diberikan oleh rekan Johnson karena mereka tidak percaya ia akan melakukan eksperimen pada anak-anak yatim piatu.

5. Penelitian Sipilis

Antara tahun 1932 dan 1972 di Tuskegee, Alabama, 399 (201 orang tidak menderita sipilis) orang keturunan Afrika Amerika yang miskin dan kebanyakan buta huruf tidak diberi pengobatan untuk penyakit Sipilis mereka. Orang yang mengikuti penelitian ini tidak diberi tahu mengenai diagnosis mereka dan dokter hanya mengatakan bahwa pasien hanya memiliki darah yang buruk. Untuk itu, mereka mendapatkan perawatan medis gratis, kendaraan untuk ke klinik, makan, dan asuransi pemakaman jika mereka meninggal.

Penelitian di Tuskegee [Image Source]
Penelitian di Tuskegee [Image Source]
Ketika penelitian dimulai pada tahun 1932, standard perawatan sipilis waktu itu cukup beracun, berbahaya, serta masih dipertanyakan keefektifannya. Tapi, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah pasien lebih baik tidak mendapatkan perawatan. Beberapa pasien bahkan memang tidak diberi perawatan dan dokter berbohong dengan memberi perawatan plasebo untuk melihat proses perkembangan penyakit ini menjadi lebih fatal.

Ketika penelitian berakhir, subjek yang tersisa hanya tinggal 74 orang yang hidup. 28 orang pira meninggal langsung karena sipilis, 100 orang meninggal karena komplikasi yang berhubungan dengan sipilis, 40 orang istri-istri mereka terinfeksi, dan 19 orang anak-anak mereka lahir dengan penyakit sipilis.

6. Eksperimen Ganti Kelamin

Tahun 1970an dan 80an, pasukan apartheid di Afrika Selatan memaksa para lesbian kulit putih dan tentara yang gay untuk menjalani operasi perubahan kelamin dan menjadikan mereka subjek kebiri kimia, setrum, dan ekperimen medis yang tidak etis lainnya. Meski tidak ada yang tahu berapa angka pastinya, tapi diperkirakan sebanyak 900 orang dipaksa melakukan operasi pergantian kelamin antara tahun 1971 hingga 1989 di rumah sakit militer sebagai bagian dari program rahasia untuk menghapuskan homoseksualitas dari militer.

Dr. Aubrey Levin [Image Source]
Dr. Aubrey Levin [Image Source]
Psikater militer, Dr. Aubrey Levin dengan dibantu pendeta dengan agresif mencari orang yang dicurigai sebagai homoseksual di militer, dan dengan rahasia mengirimkan mereka ke unit psikiatris militer di dekat Pretoria. Mereka yang tidak bisa “disembuhkan” dengan obat, terapi setrum, perawatan hormon, dan cara psikiatris yang radikal lainnya maka akan dikebiri atau dilakukan operasi pergantian kelamin.

Siapa sangka jika manusia yang memiliki pendidikan tinggi ternyata juga mampu melakukan kegiatan yang tidak manusiawi semacam itu. Apapun tujuan penelitian tersebut, keselamatan manusia seharusnya tetap menjadi prioritas yang utama. Semoga saja tidak ada lagi kegiatan eksperimen yang membahayakan lagi dimanapun di bumi ini.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA