5 Efek Buruk yang Akan Terjadi Jika UMK Naik Signifikan Setiap Tahun

oleh Adi Nugroho
13:30 PM on Nov 27, 2015

Beberapa hari terakhir, banyak sekali terjadi aksi mogok buruh yang menuntut kenaikan upah mereka. Akhirnya mereka melakukan aksi solidaritas untuk menolak upah kecil dan kenaikan UMK yang sesuai menurut mereka. Para buruh menganggap jika upah yang mereka dapat tak sebanding dengan pekerjaan dan juga gaya hidup yang mereka alami.

Beberapa minggu lalu, Gubernur Jawa Timur telah menetapkan UMK baru untuk tahun 2016. Kenaikannya sangat besar hingga beberapa perusahaan merasa keberatan. Well, jika UMK naik maka buruh senang. Namun dibalik itu semua ada efek buruk bisa menjadi bumerang bagi semua orang. Berikut efek buruk yang akan terjadi jika UMK naik terus setiap tahun.

Baca Juga
4 Fakta Mengenai Sindrom Kleine-Levin, Kelainan yang Bikin Pengidapnya Jadi Tidur Berbulan-Bulan
Jualan Pisang Goreng Hingga Tidur di ‘Bilik Asmara,’ Inilah 5 Hal Unik yang Dialami Pengungsi Gunung Agung

1. Inflasi yang Meningkat

Saat UMK naik secara otomatis perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk karyawan. Untuk mengatasi selisih biaya yang dikeluarkan, mau tidak mau perusahaan akan menaikkan harga barangnya. Jika harga barang tetap, maka perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Inflasi yang meningkat [image source]
Inflasi yang meningkat [image source]
Dampak dari naiknya harga barang adalah menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. Selain itu investasi di Indonesia juga semakin mengecil. Selain itu inflasi juga membuat nilai mata uang jadi menurun. Dampaknya akan semakin sedikit minat orang untuk menabung.

2. PHK Massal

Tidak bisa dihindari lagi, jika naiknya UMK berdampak banyaknya karyawan yang di PHK. Perusahaan tentu akan melakukan efisiensi biaya hingga dengan sangat terpaksa karyawan di rumahkan kembali. Jika hal ini tidak dilakukan maka perusahaan bisa mengalami pailit.

PHK Massal [image source]
PHK Massal [image source]
PHK massal selalu diabaikan oleh banyak buruh di Indonesia. Akhirnya mereka tetap terus melakukan aksi solidaritas dengan berdemo. Menaikkan UMK tak sekadar memberikan uang lebih, tapi juga memperhatikan banyak sekali aspek yang ada di perusahaan.

3. Perusahaan Bangkrut

Perusahaan besar mungkin cukup mengurangi jumlah pekerjanya untuk melakukan efisiensi. Lalu bagaimana dengan perusahaan yang tak begitu besar. Jika mereka melakukan efisiensi dengan pemecatan maka perusahaan tak dapat berjalan dengan baik. Namun jika tetap menjalankan perusahaan dengan jumlah pekerja yang sama, maka perusahaan terancam bangkrut.

Perusahaan Bangkrut [image source]
Perusahaan Bangkrut [image source]
Seperti pisau bermata dua. Perusahaan seperti ini terkadang bingung harus memilih mana. Karena dua pilihan yang akan diambil akan memberikan efek yang sama. Bangkrutnya sebuah perusahaan (seharusnya) juga akan menjadi bencana bagi semua pekerjanya yang selalu menuntut UMK untuk naik.

4. Kecemburuan Sosial dan Kesejahteraan Tidak Merata

Di beberapa daerah upah buruh nominalnya sangat besar. Bahkan lebih besar dari gaji orang yang bekerja di kantoran. Akhirnya banyak orang mencibir: “yang S1 saja gaji 2 juta sudah bersyukur, ini buruh kok enggak puas digaji besar.” Lalu ada yang sampai berpikir seperti ini: “Jika tahu buruh gajinya besar mending dulu enggak usah kuliah saja.

Kecemburuan Sosial dan Kesejahteraan Tidak Merata [image source]
Kecemburuan Sosial dan Kesejahteraan Tidak Merata [image source]
Hal-hal seperti ini tidak bisa dihindari lagi. Kecemburuan sosial akan menyebar ke mana-mana. Akhirnya banyak orang ingin bekerja di daerah yang bergaji besar. Akibatnya kota besar seperti Jakarta, dan Surabaya akan dipenuhi pendatang yang mengincar UMK tinggi.

5. Tingkat Konsumerisme yang Tinggi

Kita tidak perlu menampiknya jika tingkat konsumerisme di Indonesia sangat besar. Jika UMK naik maka konsumerisme ini akan jauh lebih tinggi. Akan banyak sekali pekerja yang membeli barang-barang mewah seperti motor, hingga ponsel canggih.

Tingkat Konsumerisme yang Tinggi [image source]
Tingkat Konsumerisme yang Tinggi [image source]
Lantas apa gunanya demo menuntut kenaikan gaji jika uang yang diberikan justru digunakan untuk hal-hal semacam ini? Selain itu mau gaji tinggi atau rendah jika kebiasaannya tak berubah juga sama saja. Nanti pasti menuntut upah lebih banyak lagi dan lagi.

Lima efek di atas hanya yang nampak. Selain itu sebenarnya masih banyak sekali efek buruk dari kenaikan UMK. Untuk mengatasi hal ini lebih baik ada koordinasi antara buruh dan perusahaan. Jangan sampai lima hal di atas terjadi. Karena buruh lah yang justru mendapatkan banyak dampak dari kenaikan UMK yang berkesinambungan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA