Menyoal Empati di Tengah Duka Bencana

oleh Centralismo
09:30 AM on Jan 1, 2015

Media sosial di internet memberi kita ruang lebih luas untuk berpendapat. Kita bisa mengomentari apapun dari mulai postingan teman hingga kejadian bencana. Doa-doa yang tuluspun banyak mengalir di sosial media dan sempat menjadi trending topic, pasca hilangnya pesawat Air Asia yang lepas landas dari Surabaya menuju Singapura. Hingga kini, keluarga korban masih menunggu kepastian nasib kerabat mereka.

Namun di tengah duka itu, tampaknya masih ada orang yang sulit menunjukkan empati. Tidak hanya berhenti di situ, mereka malah memposting sesuatu yang bisa jadi menyakiti hati keluarga korban. Sebuah akun di instagram menyatakan bahwa dia bersyukur, bahwa dengan jatuhnya Air Asia, maka pesawat-pesawat “murahan” akan habis dan penerbangan di Indonesia akan lebih aman.

Baca Juga
6 Cara Ini Bisa Dipakai Agar Tragedi ‘Panjat Pinang Maut’ Tak Terjadi Lagi
4 Lomba Agustusan Greget Ala Suku Dayak Ini Dijamin Bakal Bikin Kamu Melongo

Akun Path Fadilah
Akun Path Fadilah

Pernyataan itu segera menuai kemarahan dan protes banyak orang di Instagram. Banyak yang merasa pernyataan Fadhilah tersebut adalah pernyataan sombong dan akan sangat menyakiti hati keluarga korban.

Tidak lama berselang, satu akun path lagi ramai dibicarakan karena postingan yang kira-kira bernada sama dengan Fadhilah. Akun tersebut bernama S. Angga dan berikut curhatan Angga di Path-nya

Akun path s angga
Akun path s angga

“wkwkwkwkwkw air Asia hilang? Ahahahah paling isi nya orang2 narsis yang pingin ngeGaya taun baruan di Singapore.”
Sama seperti yang terjadi pada Fadhilah, akun ini segera dibanjiri dengan protes-protes dan cacian dari Netizen lainnya.

Permintaan Maaf dari Fadilah
Permintaan Maaf dari Fadilah

Menyoal Empati

Di sosial media, tidak ada batasan untuk berpendapat. Setiap orang bebas untuk mengomentari apapun yang dia inginkan. Namun, ketika komentar itu mendapat banyak respon kemarahan dari netizen lainnya, siapapun harus siap mempertanggung jawabkan komentarnya. Kebebasan berpendapat tidak serta merta membuat kita kebal akan sanksi sosial di sekitar kita. Jika menunjukkan empati dirasa sulit, setidaknya kita harus bisa menahan diri untuk tidak mencaci.

Peraturan yang sama juga berlaku untuk kita. Jika kedua orang di atas sudah “terlanjur” menghina dan terlanjur mendapat banyak cacian, tidak ada gunanya beramai-ramai mencaci dan membully orang tersebut. Meski pada akhirnya kedua akun tersebut meminta maaf secara publik, cacian dan makian untuk mereka terus membanjir. Tidak sedikit sumpah serapah dan makian dengan kata-kata yang sangat kasar yang mereka terima.

Ya, mungkin empati mereka sudah hilang karena memposting hal yang tidak pantas. Selanjutnya, mari kita pertanyakan diri kita sendiri, apakah kita sudah cukup baik untuk memaki dan mencaci orang seperti itu? Bukankah itu sama saja dengan aksi memadamkan api dengan api? (HLH)

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA