Dosen Menggendong Bayi Sambil Ajarkan Emansipasi Wanita dalam Ruang Kuliah

oleh Savira soviana
16:02 PM on Oct 6, 2015

Tak bisa dipungkiri, jika pendidikan merupakan hal yang patut untuk dikejar. Apalagi dengan semakin berkembangnya jaman, pendidikan memang harus diutamakan, begitupun bagi wanita. Emansipasi dan feminisme yang sedang naik daun menjadikan wanita semakin berpacu untuk dapat sejajar dengan para lelaki. Dalam bidang pendidikan misalnya, perempuanpun tak mau kalah. Jika pada tahun 80-an sampai 90-an, wanita sudah merasa cukup dengan memakan bangku SMP atau SMA, lain halnya dengan abad ke 20 ini. Wanita semakin ‘lapar’ akan pendidikan. Gelar sarjana bahkan master sudah bukan hal yang aneh untuk disandingkan dengan wanita.

Hal ini sah-sah saja asalkan semua wanita mengingat kodrat utamanya adalah menjadi seorang ibu. Seorang ibu merupakan sekolah pertama untuk buah hatinya. Sebelum memasuki dunia sekolah dan menimba ilmu dari para guru, ibulah yang menjadi guru pertama untuk sang buah hati. Jadi tidak salah jika wanita mengejar pendidikan setinggi langit jika tujuan utamanya adalah sebagai bekal untuk mendidik sang buah hati. Jika wanita mampu menempatkan posisinya secara seimbang dalam berperan sebagai seorang ibu dan seorang penimba ilmu, apresiasi tinggi patut kita berikan.

Baca Juga
Inilah 4 Fakta Meikarta, Kota Baru yang Katanya Bakal Menyaingi Ibukota
Inilah 4 Jasa Tak Terlupakan yang Dilakukan Malaysia Kepada Bumi Pertiwi

Seperti yang dilakukan oleh professor Sydney Engelberg yang memberikan apresiasi tinggi kepada salah satu muridnya dan membuat semua orang berdecak kagum kepadanya. Sungguh berhati mulia. Itu mungkin kalimat pertama yang terlintas di benak kita jika kita membaca kisahnya.

orang tua yang sakit
Professor Sydney Engelberg [imagesource]
Seorang professor berumur hampir setengah abad, 45 tahun, yang sehari-harinya memberikan kuliah di Hebrew University di Jerussalam ini sungguh luar biasa dan berhati besar.

Pada suatu hari, di sebuah kelas terdapat seorang mahasiswi yang diampu oleh professor Sydney Engelberg, Dia berusaha menempatkan kepentingan pendidikan dan menjadi seorang ibu dalam level yang sejajar. Dia membawa putranya yang masih balita ke dalam ruang perkuliahan. Lalu, tak beruntung, kejadian yang tak diinginkan pun terjadi. Suara tangis bayi memenuhi ruangan perkuliahan. Sang balita menangis kencang dan membuat gaduh ruangan. Sang ibu yang juga seorang mahasiswi di kelas  tersebut, menjadi tak enak hati. Dengan malu dia berdiri dan bermaksud meninggalkan ruang kelas dengan segera.

Namun hal yang tak pernah disangka oleh siapapun, sang professor bukannya membiarkan si mahasiswi tersebut keluar tetapi malah menggendong sang balita di lengannya dan kembali menjelaskan pelajaran yang telah tertunda. Seperti tak terjadi apapun, seorang professor yang juga seorang ayah dari empat anak dan kakek dari 5 cucu tersebut dengan santai menggendong anak mahasiswinya tersebut dengan tulus hingga si balita terhenti dari tangisnya dan kembali fokus ke perkuliahan. Luar biasa bukan?

professor
Sang profesor menggendong anak dari mahasiswanya yang menangis [imagesource]
Menurut putrinya, Sarit Fishbaine, sang professor memang memberikan kebebasan untuk mahasiswa dan mahasiswinya jika ingin membawa anak mereka ke dalam ruang kuliah. Tak jadi masalah, biarpun sang ibu memberikan ASI di tengah-tengah waktu perkuliahan, asalkan sang mahasiswa-mahasiswinya tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pria teladan ini berkeyakinan bahwa tidak seharusnya wanita terhalang untuk mengenyam pendidikan.

“The way he sees the concept of getting education is not only learning the dry facts that you need to learn in class, but also learning the value”. Pendidikan itu bukanlah tentang hal-hal paten yang kamu dapatkan hanya di ruang kelas, tetapi pendidikan itu juga mencakup nilai-nilai moral. itulah pandangan sang professor dalam melihat dunia pendidikan di kehidupan nyata.

Jika semua guru memiliki pandangan yang sama dengan professor Sydney Engelberg, niscaya tidak ada seorangpun yang tidak bisa mengenyam pendidikan terutama wanita. Para wanita akan benar-benar mampu mengembangkan bakat dan kemampuan intelektualnya dengan lebih bebas. Bukankah seharusnya wanita mendapatkan kebebasan untuk berpendidikan untuk bekal mendidik anaknya dengan benar? Dengan begitu, tak akan ada lagi anak yang salah didik lantaran tak tahu perkembangan informasi, asalkan si ibu tidak mengabaikan anaknya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA