Dirut BNI : Merger Bank BUMN Bukan Suatu Yang Mendesak

oleh didi
07:51 AM on Nov 4, 2014

Bila pemerintah mempunyai kejelasan mengenai arah pengembangan perbankan nasional, proses merger bank badan usaha milik negara (BUMN) tidak terlalu sulit dilakukan dan tidak memakan waktu lama. Apalagi, sebelumnya pemerintah telah berpengalaman menangani proses merger yang kemudian melahirkan dua bank tangguh yakni PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Permata Tbk.

“Proses konsolidasi perbankan tidak memakan waktu lama. Selama niatnya jelas, itu mudah dilakukan,” jelas Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah di Jakarta, Kamis (30/10).

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

Dirut-BNI
Dirut-BNI

Burhanudin mengatakan yang butuh proses adalah sinkronisasi kultur dan teknologi masing-masing bank. Belajar dari merger yang melahirkan Bank Mandiri, tidaklah terlalu sulit untuk menyatukan bank BUMN. Dia juga mengatakan konsolidasi perbankan tentu membutuhkan proses, namun terealisasi atau tidak, dan kecepatan prosesnya tergantung pada niatan awal pemerintah.

Sedangkan menurut Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Gatot M Suwondo menilai penggabungan atau merger bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 bukan suatu yang mendesak dan harus dilaksanakan.

Gatot menilai perekonomian Indonesia masih dalam kondisi baik. Saat ini, BNI memiliki kekuatan modal dan aset yang cukup besar sehingga mampu menghadapi MEA walaupun tidak digabungkan dengan bank BUMN lainnya.

“Masalah merger atau akuisisi baru akan efektif kalau kita dalam keadaan krisis ekonomi di mana semua perbankan cost-nya lost. Tapi selama ekonomi ini baik, fundamentalnya baik, merger bukan hal yang mendesak,” kata Gatot di gedung BNI, Jakarta, Kamis (30/10).

Sebelumnya Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) mengusulkan agar pemerintah melalui Kementerian BUMN segera menyiapkan rencana merger bank BUMN terbesar yaitu  PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi BNI-Mandiri.

Gatot mengatakan bahwa dalam menghadapi MEA, BNI tidak tinggal diam saja. BNI juga melakukan pengembangan anak usaha seperti asuransi, multi finance, bank syariah dan lainnya. Selain itu, BNI tengah melakukan kerjasama dengan bank asing yakni dengan bank asal Jepang yakni Mizuho dan Sumitomo. “Kita harus bekerjasama dengan asing karena tantangan kita memang global,” tuturnya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA